Sejarah Hari Ini (26 Agustus): Drama Penculikan Alfredo Di Stefano

Sebelumnya, tak ada yang pernah mengira bahwa sosok pesepakbola terkenal sekaligus legenda Real Madrid, Di Stefano bakal menjadi korban penculikan...

Tahun 1963, salah satu legenda Real Madrid sekaligus sepakbola dunia, Alfredo Di Stefano, menjadi target penculikan. Drama tersebut berlangsung selama 56 jam, sebelum akhirnya terbebas sepenuhnya tanpa cedera pada 26 Agustus.

Kejadian bermula di Caracas, ibukota Venezuela. Saat itu Di Stefano bersama rombongan Real Madrid tengah berada di negara Amerika Latin tersebut untuk melakoni tur pra-musim. Momen tak terduga terjadi, di mana ia menjadi sasaran penculikan Angkatan Bersenjata Pembebasan Nasional (FALN), demi mendongkrak popularitas kelompok tersebut yang saat itu melancarkan kampanye untuk melawan pemerintah Venezuela yang terkenal korup.

Aksi tersebut ternyata merupakan gagasan yang dikemukakan oleh salah satu anggota pasukan FALN. Paul del Rio, seorang pemuda 19 tahun yang saat itu menjadi eksekutor dengan menculik Di Stefano dari hotel tempatnya menginap. Langkah tersebut diambil sebagai upaya untuk menarik perhatian guna memantik pergerakan akan adanya revolusi menentang penguasa - dengan gaya khas pemberontakan Fidel Castro - di Venezuela.

"Kami menculiknya karena ia adalah sosok terkenal. Prestise dan ketenarannya sebagai penggawa Real Madrid membantu kami mencapai tujuan. Klubnya datang ke sini untuk melakukan laga uji coba dan kami, sayangnya, mengeluarkan 'kartu merah' baginya tepat pukul enam pagi [sebelum pertandingan]," ungkap Del Rio, yang kini menggunakan identitas baru sebagai Maximo Canales, saat menerangkan motif penculikan kepada harian AS pada 2005 lalu.

Dua hari setelah momen penculikan, Di Stefano dibebaskan tanpa mengalami sedikit pun luka di tubuhnya. Ia diantarkan menuju kedutaan besar Spanyol di Caracas, sebelum kemudian kembali berlatih bersama klubnya di Madrid.

Di Stefano sendiri mengungkapkan kisahnya dalam autobiografi miliknya yang bertajuk Gracias, Vieja, di mana ia menuliskan: "Saya pikir mereka akan membunuh saya, namun ternyata sebaliknya. Mereka justru mengajak saya bermain kartu, domino dan catur. Saya panggil mereka sebagai caballeros [pria sejati]."

Sementara mengenai latar belakang penculikan dirinya, Di Stefano enggan berkomentar lebih jauh. "[Yang pasti] saat itu saya berada dalam kondisi yang tidak nyaman. Saya bukan seorang politisi, jadi saya tidak akan menjelaskan mengapa mereka menculik saya. Yang saya ketahui hanyalah saat itu mereka tidak pernah menyakiti saya."

Lebih dari 40 tahun kemudian setelah drama penculikan tersebut, Di Stefano dan Del Rio kembali bertemu untuk proses pembuatan film dengan judul Real, La Pelicula [Real, the Movie], di mana film itu mengisahkan tentang kilas balik kejadian penculikan yang terjadi di tahun 1963. Film itu sendiri dirilis ke publik pada Agustus 2005 silam.