Sejarah Hari Ini (27 Mei): La Grande FC Internazionale Pertahankan Hegemoni Eropa

Topics

Sebelum era treble winners pada 2010 lalu, dahulu FC Internazionale juga pernah jadi raja Eropa selama dua musim beruntun.

Meski dalam beberapa musim terakhir prestasinya anjlok, FC Internazionale, tetaplah jadi salah satu klub terbesar di Eropa. Sejarah emas sukses ditorehkan dalam kancah persepakbolaan Italia, Eropa, hingga dunia, sejak didirikan pada 1908. Yang paling dikenang, tentu saja saat mereka mencapai puncak tertinggi di musim 2009/10, saat berhasil meraih predikat treble winners, dengan menjuarai Serie A Italia, jadi kampiun Coppa Italia, dan meraih Liga Champions.Namun sebelum catatan emas itu terukir, masa kejayaan Inter selalu tertuju pada periode 1964 hingga 1965 kala mereka jadi raja Eropa dua musim beruntun. Saking luar biasanya, kala itu Inter dijuluki "La Grande Inter", yang berarti Inter yang maha hebat.Dan hari ini jadi momen peringatan setengah abad periode terakhir La Grande Inter. Ya, 27 Mei 1965 adalah kali terakhir La Grande Inter mengangkat Piala Champions, sekaligus mempertahankan gelarnya itu yang diraih semusim sebelumnya.Sukses menjuarai Piala Champions musim 1963/64 setelah menghantam Real Madrid 3-1, Inter kembali lolos ke final pada pagelaran berikutnya, kali ini dengan menghadapi jagoan Portugal, Benfica. Disaksikan oleh 85 ribu penonton, La Beneamata diuntungkan karena mayoritas dari mereka adalah Interisiti. Bukan tanpa alasan, lantaran venue finalnya adalah kandang mereka sendiri, yakni stadion Giuseppe Meazza!Benfica juga bukan lawan yang bisa dianggap remeh. Dahulu As Aguias merupakan salah satu dari tiga tim terbaik di Eropa. Sebelum duel final hadapi Inter, mereka sudah merasakan tiga final dari empat pagelaran sebelumnya. Dua di antaranya bahkan menampilkan Tim Elang sebagai kampiunnya.Diperkuat oleh sosok-sosok mentereng macam penyerang terbaik di Eropa kala itu, yakni Eusébio dan José Augusto Torres, Benfica jadi tim tertajam turnamen dengan torehan 29 gol. Dua sosok yang disebut sebelumnya bahkan jadi top skor turnamen, dengan masing-masing membukukan sembilan gol.Namun Inter siap meladeni ancaman mengerikan Benfica lewat ramuan cattenacio pelatih legendarisnya, Helenio Hererra. Lewat deretan penggawa berkelas di lini belakang macam Guiliano Sarti, Armando Picchi,  hingga Giaconto Facchetti, Tim Ular Kobra jadi antitesis Benfica. Jika sang lawan merupakan tim subur, maka mereka adalah tim dengan pertahanan terbaik 

Topics