Sejarah Hari Ini (27 November): Mengenang Gary Speed, Legenda Wales

Tiga tahun lalu, publik Wales dan Inggris dikejutkan oleh meninggalnya seorang bintang.

OLEH YUDHA DANUJATMIKA Ikuti di twitter

Awan mendung menaungi Wales dan beberapa kota di Inggris sore itu. Kelam, suram, dan sepertinya hujan sudah mulai memberi salam. Tapi mendung tak hanya berhenti di awan sore , ia juga ikut turun ke bawah. Ya, di atas permukaan tanah, suasana duka bahkan tak lagi menyerupai awan mendung. Ia sudah termanifestasi dalam air mata duka.

Wales baru saja kehilangan sosok yang berharga di mata mereka. Persembahan berbentuk jersey warna merah No. 10 digantung di sepanjang jalan di sana, disertai bunga dan wewangian. Kadang ditemukan sedikit surat, bertulisakan pesan selamat jalan: Rest In Peace. Beristirahatlah dengan tenang.

***

Ia dikenal sebagai pesepakbola yang handal, diramalkan sukses di masa depan. Berteknik tinggi, atletis, dan serba bisa di sektor kiri lapangan. Tandukannya kerap ditakuti lawan, begitu pula sepakan yang selalu mengincar jala lawan.

Sempat membela empat klub Liga Primer Inggris – Leeds United, Everton, Newcastle United, Bolton Wanderers, ia mencatatkan 535 penampilan, angka yang hanya mampu dilampaui oleh Ryan Giggs dan David James. Namun ia justru lebih membanggakan karirnya sepanjang 14 tahun di timnas Wales, di mana ia mencatatkan 85 penampilan dan 7 gol.

Legenda Wales yang selalu bangga pada negaranya.

Kalau melihat jumlah gelar, mungkin ia bukanlah seseorang yang spesial. Gelandang ini hanya memenangkan satu gelar sepanjang karirnya, yakni Kejuaraan Sepakbola Inggris – setahun sebelum berganti nama menjadi Liga Primer Inggris - bersama Leeds. Setelah pindah ke Newcastle yang berjaya saat itu, ia pun hanya mampu membawa timnya ke final Piala FA dua kali, tanpa mengantongi gelar juara. Namun, ia selalu menjadi kapten hampir di setiap klub yang ia kunjungi. Ya, ia dikenal sebagai seorang pemimpin dan teladan bagi pemain lainnya, termasuk di Everton, klub masa kecilnya.

Lahir di Mancot, Flintshire, gelandang ini justru mengawali karirnya di Leeds pada Juni 1988. Ia mencatatkan debut pada usia 19, saat klubnya masih ada di divisi kedua. Tapi bersama rekan-rekannya, ia mampu mendorong Leeds ke kasta yang lebih tinggi di musim 1989/90. Walau sempat bermain sebagai bek hingga penyerang, ia akhirnya dipatenkan di sayap kiri dan ia berada satu tim dengan Gary McAllister, David Batty, dan Gordon Strachan, kuartet tangguh yang membawa Leeds menjuarai liga pada 1992, mengungguli Manchester United.

Sayang, Leeds tak mampu menyambung performa ajaib itu dan setelah melakoni 312 laga bersama klub pertamanya, bintang Wales ini pindah ke Everton pada 1996. Ia meneken kontrak lima tahun dan menyelesaikan musim pertamanya sebagai pemain terbaik tahun tersebut, diangkat sebagai kapten klub, serta negaranya di musim 1997/98.

Karena suatu masalah, Evertonian ini akhirnya pindah ke Newcastle. Bersama The Magpies, ia mencatatkan 284 penampilan, termasuk kekalahan di final Piala FA dari Arsenal dan Manchester United. Walau tak mendapat gelar, ia turut merasakan atmosfer Liga Champions dan total mencatatkan 40 gol bagi The Magpies.

Juli 2004, ia merapat ke Bolton dan tiga tahun kemudian memulai karir kepelatihannya. Karena mengalami cedera punggung, ia baru banting setir ke dunia kepelatihan sepenuhnya pada November 2008 di Sheffield United.

Memasuki musim 2010/11, Kevin Blackwell, manajer yang mempromosikan bintang Wales ini dipecat dan muridnyalah yang menggantikannya, tpai ia tak bertahan lama di sana. Tepatnya pada Desember 2010, ia justru dipanggil oleh Federasi Sepakbola Wales dan dikontrak sebagai manajer tim nasional yang pernah ia bela sebagai pemain.

“Ia sungguh mengubah situasi Wales dari keputusasaan menjadi penuh harapan dan penantian,” ujar Mark Bowen, mantan rekan setim di Wales. “Para pemain menyukainya dan memiliki ikatan dengannya, hal itu terlihat dalam laga. Semuanya sangat bersemangat.”

Kegemilangan sebagai pemain telah ia capai dan masa depan sebagai pelatih sukses sepertinya tinggal menunggu waktu. Di sepuluh laga pertamanya, ia menyajikan lima kemenangan dan lima kekalahan, tapi kepemimpinannya menunjukkan banyak hal positif.

***

Awan mendung menaungi Wales dan beberapa kota di Inggris sore itu. Malam sebelumnya, Gary Speed baru saja mengisi acara di BBC One, tapi keesokan harinya ia ditemukan tergantung di garasi rumahnya, bunuh diri. Berita duka ini langsung tersebar luas.

Semua fan menangisinya, dan segenap penggemar sepakbola di Leeds, Everton, Newcastle, Sheffield, dan tentunya Wales mengunjungi stadion masing-masing. Beberapa berdoa, beberapa hanya terpana memandangi langit yang kelam, beberapa melakukan hal lain sembari menitikkan air mata.

Sudah tiga tahun berlalu sejak hari itu, 27 November 2011, di mana Speedo mengakhiri hidupnya. Dari luar semua terlihat biasa, tapi isi hatinya siapa yang tahu. Yang mereka tahu, mereka telah kehilangan sosok besar di sepakbola mereka, di hidup mereka. Kepergiannya meninggalkan satu istri dan dua orang anak, serta lubang di hati banyak orang.

Satu saat, semua memandang ke langit dan teringat momen ini, mungkin ada yang bergumam, “Pesepakbola juga manusia.” Ia bukan robot yang bermain bola di tengah lapangan dan melakukan apa yang diminta fan, mereka punya kehidupan dan ini bukan video game. Kadang seseorang menuntut terlalu banyak.

Ya, Gary Speed, pesepakbola, mereka semua juga manusia. Rest In Peace, Speedo!

addCustomPlayer('1qf27stvxh8r71az2qpbo5isho', '', '', 620, 540, 'perf1qf27stvxh8r71az2qpbo5isho', 'eplayer4', {age:1407083158258});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics