Sejarah Hari Ini (30 Agustus): Trofi Terakhir Johan Cruyff Untuk Barcelona

Topics

Selama 13 tahun mengabdi di Barcelona baik sebagai pemain maupun pelatih, Johan Cruyff akhirnya mempersembahkan trofi pamungkasnya untuk publik Catalan 21 tahun silam.

Sebelum Lionel Messi muncul dan jadi fenomena global, dahulu nama Johan Cruyff-lah yang selalu dieluk-elukkan publik Catalan sebagai legenda terbesar Barcelona. Tidak hanya sebagai pemain, pria asal Belanda ini juga melegenda ketika berperan sebagai pelatih Blaugrana.

Kehadiran Cruyff seakan menjadikan Barca yang tadinya hanya dikenal sebagai rival Real Madrid di Spanyol, menjadi klub yang disegani di Eropa bahkan dunia. Hanya menyumbangkan sebiji gelar La Liga Spanyol dan Copa del Rey sebagai pemain, ketika jadi pelatih sang meneer menambahnya dengan gelontoran trofi Piala Super Spanyol, Piala Winners, Piala Champions, hingga Piala Super Eropa!
 

Piala Super Spanyol 1994
Barcelona 4-5 Real Zaragoza

30 Agustus 1994
Nou Camp, Barcelona
Wasit:
 Antonio Jesus Lopez Nieto (Spanyol)

Gol: 0-1 Alberto Belsue 10' 1-1 Txiki Begiristain 13' 1-2 Juan Esnaider 32' 1-3 Francisco Higuera 33' 2-3 Hristo Stoichkov 50' 3-3 Hristo Stoichkov 69' 3-4 Francisco Higuera 77' Txiki Begiristain 87' Francisco Higuera 88'

 
<td style="text-align: left;" width="65%" "="">Barcelona: Lopetegui (Busquets 90');Fernandez, Nadal, Jara, Ferrer; Iglesias, Amor (Jordi Cruyff 66'), Guardiola, Sacristan; Hagi (Begiristain 10'), Stoichkov
Pelatih: Johan Cruyff

Real Zaragoza: Cedrun; Belsue, Solana, Aguado, Caceres; Geli, Pardeza (Sanjuan 70'), Aragon; Esnaider, Poyet (Franco 75'), Higuera
Pelatih: Victor Fernandez
 

Masa kepelatihan Cruyff sendiri dimulai pada 1988 hingga 1996. Selama periode tersebut ia sukses mempersembahkan 11 trofi ke lemari Barca, sekaligus mencatat rekor sebagai pelatih tersukses klub sebelum dipecahkan Pep Guardiola lewat 15 trofi.

Dan tepat 19 tahun lalu atau pada 30 Agustus 1994, Cruyff mempersembahkan trofi terakhirnya untuk Azulgrana. Ia melakukannya lewat Piala Super Spanyol dan melalui pertandingan yang epik melawan Real Zaragoza.

Sukses menang 2-0 di markas Zaragoza, La Romareda, pada leg pertama, Barca diprediksi bakal menang mudah di leg kedua untuk memastikan gelar Piala Super Spanyol 1994. Namun apa yang terpapar kemudian, sungguh membuat jantung 70 ribu pasang mata yang hadir di Camp Nou berdegup kencang.

Zaragoza menampilkan perlawanan yang heroik dan mereka sudah memulai teror, kala laga baru berjalan sepuluh menit. Mereka unggul 1-0 berkat sontekan manis Alberto Belsue, yang menyisisr sisi kiri pertahanan Barca.

Seketika tuan rumah membalas di menit ke-13. Adalah legenda klub, Txiki Begiristain, yang berhasil memaksimalkan umpan Hristo Stoichkov guna menyetarakan keadaan menjadi 1-1.

Buruknya performa kiper Barca saat itu, Julen Lopetegui, membantu Zaragoza menambah gol, untuk menutup babak pertama lewat skor 3-1. Dua gol tambahan dicetak oleh Juan Esnaider dan Francisco Higuera.

Kapten Los Cules, Stoichkov, kemudian menginspirasi rekan-rekannya untuk bangkit dengan melesatkan dua gol untuk kembali menyeimbangkan keadaan, kali ini dengan skor 3-3!

Namun tambahan dua gol Higuera yang membuatnya menorehkan hat-trick, benar-benar mengakhiri perlawanan Barca, yang hanya bisa menambah satu gol melalui torehan kedua Begiristain. Zaragoza pun menang dramatis 5-4.

Sayang seribu sayang, hasil itu belum cukup membuat klub berjuluk Los Blanquillos itu merengkuh Piala Super Spanyol 1994, karena kalah agregat 6-5. Barca pun berpesta di hadapan publiknya sendiri, meski terasa ganjil dengan kekalahan tersebut.

Itulah trofi terakhir yang dipersembahkan Cruyff bagi Barca. The Prince akhirnya dipecat secara kontroversial pada 19 Mei 1996, ketika tengah bersiap memimpin latihan rutin di ruang ganti. Selain 11 trofi yang dipersembahkannya, dirinya juga berjasa meretas sistem baru cantera (pemain akademi) yang berujung pada lahirnya generasi emas La Masia.
 

JOHAN CRUYFF

Nama: Hendrik Johannes Cruijff

Tempat, Tanggal Lahir: Amsterdam, Belanda, 25 April 1947

Klub/Pemain:
Ajax Amsterdam (1964-1973)
Barcelona (1973-1978)
Los Angeles Aztecs (1979-1980)
Washington Diplomats (1980-1981)
Levante (1981)
Ajax Amsterdam (1981-1983)
Feyenoord (1983-1984)

Timnas Belanda: 48 caps/33 gol

Klub/Pelatih:
Ajax Amsterdam (1985-1988)
Barcelona (1988-1996)
Catalonia (2009-2013)
Koleksi Gelar (Pemain)

Ajax Amsterdam: Eredivisie Belanda (1965/66, 1966/67, 1967/68, 1969/70, 1971/72, 1972/73, 1981/82, 1982/83)
KNVB Baker (1966/67, 1969/70, 1970/71, 1971/72, 1982/83)
Piala Intertoto (1968)
Piala Champions (1970/71, 1971/72, 1972/73)
Piala Super Eropa (1972, 1973)
Piala Interkonental (1972)

Barcelona: La Liga (1973/74)
Copa del Rey (1977/78)

Feyenoord: Eredivisie Belanda (1983/84)
KNVB Baker (1983/84)

Koleksi Gelar (Pelatih)

Ajax Amsterdam: Eredivisie Belanda (1985/86, 1986/87)
Piala Winners: (1987)

Barcelona: La Liga (1990/91, 1991/92, 1992/93, 1993/94)
Copa del Rey (1989/90)
Piala Super Spanyol (1991, 1992,1994)
Piala Champions (1991/92)
Piala Super Eropa (1992)
Piala Winners (1989)