Sejarah Hari Ini (6 Mei): Juventus Raih Scudetto Ke-21

Bagai deja vu, situasi nyaris sama seperti musim ini, mewarnai persaingan scudetto Juventus dan AS Roma di Liga Italia Serie A 1983/84.

OLEH AHMAD REZA HIKMATYAR Ikuti @rezahikmatyar di twitterHanya berselang dua hari pasca raihan scudetto ke-30 atau ke-32 di atas lapangan Juventus musim ini, tepat 30 tahun yang lalu Si Nyonya Tua sukses merebut scudetto untuk kali ke-21.Uniknya situasi di akhir musim ini nyaris serupa dengan fakta yang terpapar di akhir musim Liga Italia Serie A 1983/84, di mana persaingan melibatkan Juve dan Roma.Kesedihan bagi para Juventini jadi warna di awal musim. Pensiunnya Dino Zoff di usia 41 tahun dan Roberto Bettega yang memilih mengakhiri karier di Kanada, jadi tanda berakhirnya sebuah era.Namun dinasti baru dimulai pasca kepergian para legenda. Ya, saat itu Si Nyonya Tua dipenuhi para juara muda macam Stefano Tacconi, Beniamino Vignola, dan tentu saja sang mega bintang Michel Platini. Pilar-pilar yang membawa Juve merengkuh trofi perdana Liga Champions satu musim setelahnya.Di bawah asuhan sang pelatih legendaris, Giovanni Trapattoni, La Fidanzata d'Italia memulai musim dengan amat meyakinkan. Mereka secara luar biasa membantai Ascoli dengan skor telak 7-0!Platini sungguh jadi sosok sentral saat itu. Ia jadi pahlawan ketika menang dramatis atas Lazio dengan skor tipis 1-0. Ia mengulanginya kala melakoni Grande Partita dengan menghempaskan AC Milan 2-1.Di tengah kegemilangan, Derby Turin kontra Torino malah jadi melapetaka. Mereka kalah 2-1 dan berpengaruh buruk pada mental para pemain sepekan setelahnya. Juve kembali kalah dengan skor yang sama, kali ini di kaki Sampdoria.Beruntung, I Lupi yang jadi pesaing ketat tampil inkonsisten di putaran pertama, yang kala itu Serie A baru diikuti 16 tim saja. Meski sukses membukukan delapan kemenangan, sang juara bertahan sudah harus menelan empat kekalahan, Juve pun nyaman di puncak klasemen pada jeda musim. Michel Platini jadi sosok sentral raihan scudetto Juventus yang ke-21 kaliPaham diuntungkan dalam posisi di klasemen, La Vecchia Signora kemudian bangkit di putaran kedua. Delapan kemenangan sukses mereka angkut dalam 13 laga pertama di putaran kedua. Sementara Roma terus menempel di posisi kedua, dengan koleksi tujuh kemenangan dalam situasi yang sama.Jelang giornata ke-29 atau satu pekan sebelum tirai musim ditutup, jarak poin mereka terpaut lima angka saja. Tersisa dua pekan, Tim Serigala ingin total menyapu kemenangan sembari berharap Juve tersandung.Sial, karena secara mengejutkan Il Giallorossi tertahan di pekan ke-29 lewat skor 2-2 di markas Catania! Nyaris sama layaknya musim ini. Padahal di saat bersamaan Juve ditahan imbang 1-1 Avellino di Turin!Tak pelak, La Vecchia Omcidi langsung berpesta merayakan scudetto ke-21, dengan menyisakan satu laga di akhir musim. Juve semakin mengukuhkan bahwa merekalah klub terbaik di Italia sepanjang sejarah. Musim itu juga jadi musim pamungkas legenda klub, Giuseppe Furino, yang membela panji hitam-putih 15 musim lamanya. Sementara Platini kembali meraih gelar Ballor d'Or, untuk kali kedua secara beruntun. Predikat itu didapatnya karena selain membawa Juve juara, si No.10 juga sukses tampil sebagai capocannoniere lewat torehan 20 gol di Serie A 1983/84.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics