Sejarah Hari Ini (8 Juli): Kejutan Antonio Conte Untuk Juventus

Tepat setahun silam Antonio Conte memberi kejutan tak mengenakkan buat Juventus, yang ujungnya justru berakhir indah.

Antonio Conte adalah pemain legendaris Juventus. Ia membela panji kebesaran Tim Hitam Putih selama 13 tahun lamanya, terentang sejak 1991 hingga gantung sepatu pada 2004. Sepanjang masa itu, ia sukses mempersembahkan total 15 trofi bagi Si Nyonya Tua, dengan rincian scudetto, Piala Italia, Piala Super Italia, Piala Intertoto, Piala UEFA, Liga Champions, Piala Super Eropa, hingga Piala Toyota (Piala Dunia Antarklub).Namun siapa yang menyangka jika namanya kembali terpatri dalam buku sejarah Juve, pada peran yang berbeda. Ya, dirinya kini juga dikenal sebagai salah satu pelatih terbaik yang pernah dimiliki La Fidanzata d'Italia. Torehan kesuksesan edisi keduanya itu dimulai pada musim panas 2011 silam.Conte yang kala itu masih dicap sebagai pelatih muda minim pengalaman, berhasil membangkitkan Juve dari keterpurukan pasca calciopoli. Ia mematahkan segala prediksi dan remeh-temeh publik serta media, lewat performa serta prestasi.Dengan skuat yang secara nominal kalah jauh dibanding AC Milan, FC Internazionale, bahkan AS Roma, Conte saat itu mampu membawa Juve jadi kampiun Serie A Italia musim 2011/12. Ia bahkan melanjutkannya hingga Andrea Pirlo cs menorehkan hat-trick scudetto di musim 2013/14. Tak lupa, juru taktik yang amat vokal di tepi lapangan itu juga menghiasinya dengan sepasang trofi Piala Super Italia.                                        Allegri jadi suksesor sempurna ConteNamun siapa sangka, sebulan selepas mengantarkan Juve menorehkan hat-trick scudetto, atau tepatnya pada 8 Juli 2014 lalu, Conte memberi kejutan tak mengenakkan pada I Bianconeri. Ya, dirinya memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai pelatih kepala."Saya ingin mengumumkan pernyataan sebuah keputusan bersama untuk mengakhiri kontrak dengan Juventus, yang mengikat kami pada musim ini. Saya membuat keputusan ini karena saya masih ingin bertualang," ungkap Conte pasca melepas jabatannya."Tak dapat dihindarkan betapa di klub penuh sejarah dan prestisius seperti Juventus selalu diwajibkan untuk menang. Jadi itu bisa saja menjadi sesuatu yang sulit. Namun, seseorang yang sudah membuktikan dirinya sendiri adalah seorang juara akan bisa melewati tekanan itu dan saya pikir saya sudah membuktikannya," pungkas pria yang kini berusia 45 tahun tersebut.Beberapa hari berselang, manajemen Juve yang dipimpin oleh Andrea Agnelli, secara kontroversial menunjuk mantan pelatih AC Milan, Massimiliano Allegri, sebagai suksesor Conte. Keputusan itu sempat membuat mayoritas Juventini murka. Direktur olahraga klub, Beppe Marotta, bahkan menggambarkan hari pertama Allegri melatih diwarnai dengan siulan, ludahan, dan lemparan telur busuk. Namun apa yang terjadi kemudian ternyata lebih indah. Suksesor yang dinilai tak ada apa-apanya dibanding Conte itu, secara luar biasa mengantarkan Juve jadi juara absolut Italia dan menembus babak final Liga Champions.Sementara karier Conte sendiri berlanjut dengan menangani timnas Italia. Berbeda 180 derajat situasinya dengan Allegri, pria kelahiran Lecce itu kini tengah dihantam badai kritik akibat performa tak memuaskan Gli Azzurri, kendati baru kalah sekali saja.

Topics