Sejarah Hari Ini (9 November): Mengenang Helenio Herrera, Bapak Catenaccio

18 tahun lalu, sepak bola kehilangan Helenio Herrera, namun sang pelatih telah meninggalkan warisan filosofi yang menjadi akar filosofi sepak bola Italia: Catenaccio.

Delapan belas tahun lalu, sepak bola kehilangan salah satu aset paling berharganya dalam diri Helenio Herrera. Pelatih legendaris itu resmi berpulang di usia 87 tahun dan meninggalkan warisan ramuan dalam sepak bola. Sebuah ramuan taktik yang kini kita kenal dengan nama Catenaccio alias sepak bola gerendel – gaya sepak bola bertahan yang ia adaptasi dari Verre milik Karl Rappan.

Lahir di Argentina pada 1916, Herrera besar di bawah asuhan ayahnya yang merupakan tokoh anarkis terkemuka. Latar belakang politis dan kultural yang kompleks ternyata berdampak positif pada kecerdasan Herrera. Ia menjadi pemikir bebas dan kritis, namun ia memilih sepak bola sebagai jalan utama dalam kehidupannya.

Sebagai pemain, karier Herrera memang tidak cemerlang. Mentok-mentok, ia bermain di klub sekelas Red Star Olympique. Adapun setelah memutuskan untuk gantung sepatu, Herrera melanjutkan kariernya di dunia kepelatihan. Lewat sinilah sang pelatih meraih sukses yang membuatnya jadi salah satu peramu taktik terbaik sepanjang sejarah sepak bola.

Herrera mulai gemilang sebagai pelatih ketika menghadirkan gelar juara La Liga bagi Atletico Madrid periode 1949-1951. Setelah itu, Barcelona menjadi destinasi di mana ia mampu mempersembahkan dua gelar La Liga (1959, 1960) dan dua gelar Copa del Rey (1959, 1981). Sayang, konflik dengan pemain bintang Barcelona, Ladislao Kubala, membuat sang pelatih harus hengkang.

Tetapi langkah ini tentu takkan disesali oleh Herrera karena ia mengubah sepak bola – menjadi lebih baik atau buruk, tergantung pandangan Anda – setelah ia meninggalkan Blaugrana.

Bergabung dengan Internazionale, pelatih Argentina ini tadinya coba menerapkan sepak bola terbuka, kreatif, dan menghibur seperti yang ia lakukan di Barcelona. Namun prestasi maksimal yang mampu diraih oleh sang pelatih hanyalah posisi ketiga dan runner-up Serie A. Ia tidak puas dengan hal tersebut dan – setelah petinggi klub mempertimbangkan pemecatannya – Herrera melakukan eksperimen, coba mengadaptasi sistem Rappan yang sukses di Swiss.

Ia menurunkan salah seorang gelandangnya, Armando Picchi, menjadi sweeper, menciptakan formasi lima bek dan memberikan kebebasan pada bek sayap kiri untuk menyerang. Giacinto Facchetti yang mengisi posisi itu memegang peran sentral seiring Herrera ingin menerapkan sepak bola vertikal yang efektif. Ia hanya menginginkan timnya bertahan secara disiplin lalu melancarkan serangan balik dengan dua-tiga sentuhan untuk mencapai kotak penalti – sepak bola transisi yang tidak asing bukan?

Tidak hanya dari segi taktik Herrera melakukan revolusi terhadap Internazionale. Pria kelahiran Argentina itu juga menggunakan metode baru untuk memperlakukan pemainnya. Menurut keterangan, Herrera membuat pelatihan di Inter menjadi sangat ketat, keras, dan ambisius. Ia bahkan pernah menghukum salah satu pemain yang mengatakan “kami akan bertanding ke Roma”, bukan “kami akan menang di Roma”. Ia tidak hanya disiplin secara metode, tetapi juga detail dalam perlakuan mental pemainnya.

Revolusi tersebut ternyata berbuah manis bagi sang pelatih. Facchetti yang menjadi bek kiri saat itu mencatatkan rekor langka dengan menembus koleksi gol sebanyak dua digit. Herrera juga berhasil membawa Nerazzurri merajai Eropa dua musim beruntun, disertai dengan tiga Scudetto, dan satu Piala Italia. Inter dalam periode kepemimpinan Herrera pun mendapat julukan “Grande Inter” yang hingga kini masih terngiang dalam sejarah.

Kehadiran Catenaccio versi Herrera ini benar-benar mengubah tren penerapan taktik di sepak bola. Beberapa tim yang mengutamakan kemenangan takkan segan-segan menggunakan cara ini – hal yang masih terjadi saat ini. Uniknya lagi, Total Football – yang filosofinya merupakan kebalikan dari Catenaccio - ditemukan Rinus Michel hampir satu dekade setelahnya.

Catenaccio dan Total Football layaknya Yin dan Yang dalam dunia sepak bola. Selalu begitu, salah satu metode yang sukses bakal melahirkan metode lain yang berkebalikan dan mencoba untuk melampaui kesuksesan metode sebelumnya. Sekarang pun bisa kita saksikan sebuah evolusi taktik di dunia sepak bola yang menjadi tiki-taka dan gegenpressen.

Namun perlu diingat kalau kedua pendekatan itu merupakan anak haram dari Catenaccio –sebuah metode sepak bola bertahan yang mengandalkan serangan balik nan cepat dan efektif, dan bakal selalu lekat dengan citra Helenio Herrera.

HELENIO HERRERA

Nama lengkap: Helenio Herrera Gavilán

Tempat, tanggal lahir: Bueno Aires, Argentina, 10 April 1910

Wafat: 9 November 1997

Karier Pemain:
1931–1932 RC Casablanca
1932–1933 CASG Paris
1933–1935 Stade Français
1935–1937 Charleville
1937–1939 Excelsior Roubaix
1940–1942 Red Star Olympique
1942–1943 Stade Français
1943–1944 EF Paris-Capitale
1944–1945 Puteaux
 
Karir Pelatih
1944–1945 Puteaux
1945–1948 Stade Français
1948–1949 Real Valladolid
1949–1952 Atlético Madrid
1952 Málaga
1953 Deportivo de La Coruña
1953–1957 Sevilla
1957–1958 Belenenses
1958–1960 Barcelona
1960–1968 Internazionale
1968–1970 Roma
1973–1974 Internazionale
1978–1979 Rimini
1979–1981 Barcelona
 
Koleksi Gelar (Pelatih):
 

Atlético de Madrid

La Liga (2): 1949–50, 1950–51
Copa Eva Duarte (1): 1950

Barcelona

La Liga (2): 1958–59, 1959–60
Copa del Rey (2): 1958–59, 1980–81
Inter-Cities Fairs Cup (2): 1955–58, 1958–60

Internazionale

Serie A (3): 1962–63, 1964–65, 1965–66
European Cup (2): 1963–64, 1964–65
Intercontinental Cup (2): 1964, 1965

Roma

Coppa Italia (1): 1968–69