Siapa Bisa Hentikan Leicester City?

Topics

Leicester berhasil menaklukkan satu lagi klub besar. Uniknya, mereka masih menggunakan skema permainan yang relatif sama hingga pekan 25. Siapa bisa hentikan Leicester?

“Jika Anda mengenali lawan dan diri sendiri, Anda tak perlu takut pada hasil akhir dari seratus pertarungan.”

Filosofi klasik tersebut merupakan buah pemikiran Sun Tzu – ahli strategi perang Tiongkok – yang tertulis dalam mahakarya The Art of War. Mungkin terdengar banal karena susunan kalimat yang sederhana, tetapi kalau memaknai kata demi kata dengan tepat, filosofi itu menjadi senjata ampuh. Termasuk dalam pertandingan sepakbola.

Claudio Ranieri merupakan salah satu contoh suksesnya. Terlepas dari apakah ia membaca karya Sun Tzu atau tidak, pria yang dijuluki Tinkerman itu menerapkan filosofi klasik tersebut dalam menghadapi pertarungan demi pertarungan di Liga Primer Inggris. Singkatnya, ia mengenali kelemahan dan kekuatan Leicester City, sekaligus memahami kekuatan dan kelemahan setiap lawan.

Korban terkini dari ramuan Ranieri ini adalah Manchester City, klub kaya raya yang berisikan pemain-pemain bintang dengan harga selangit. Kalau dilihat dari harga skuat, sudah pasti The Foxes kalah jauh. Meski begitu, Ranieri tidak gentar dan dengan cermat menganalisis kelemahan lawan sembari tetap memegang teguh kekuatan timnya – tanpa melakukan banyak perubahan.

Hasil akhirnya? Kemenangan telak 3-1 di Etihad Stadium, markas Man City, dan kini unggul lima poin di puncak klasemen.

Pertama, Leicester menegaskan ketangguhan mereka dalam menjaga struktur pertahanan yang sempit. Mereka mencegah bola masuk melalui jalur tengah dan siap menghalau musuh yang berusaha mendribel bola lewat tengah. Bukan hanya dua bek yang bertugas menjaga, melainkan ada duo tangguh N'Golo Kante dan Daniel Drinkwater yang siap menekan dan mempersemput jalur di tengah.

Hal ini kiranya berkebalikan dengan skema serangan Manuel Pellegrini. Seperti diketahui, juru taktik asal Cile itu hobi bermain terbuka dengan memanfaatkan umpan-umpan pendek. Daya ledak serangan mereka sudah tak perlu diragukan, apalagi dengan dua inverted winger yang siap menusuk ke kotak penalti dari kedua sisi. Umpan terobosan lewat tengah pun menjadi andalan dengan adanya Sergio Aguero yang selalu berkeliaran mencari celah.

Sayangnya filosofi eksplosif Man City itu menghadapi anti-tesisnya ketika berhadapan dengan Leicester. Rentetan umpan Man City yang mencoba menembus lini tengah Leicester berujung hampa, seperti melempar bola ke dinding tanpa celah. Setiap serangan City dipantulkan, gagal menembus kotak, tercermin dari banyaknya tembakan (22) tetapi sedikit yang terarah (4).

Kedua, kerja keras bagai kuda merupakan kekuatan Leicester yang lainnya. Dalam pertandingan tadi malam, mereka bahkan mencatatkan 4,5 km jarak lari lebih jauh dari Man City. Ampuhnya lagi, ini diimbangi dengan akurasi dan presisi yang dimainkan oleh para pemain, khususnya Kante dan Drinkwater yang tampil luar biasa di Etihad.

Dua gelandang tersebut sebenarnya kalah jumlah kalau melihat formasi 4-4-2 Leicester melawan 4-2-3-1 Man City. Namun Kante dan Drinkwater membuktikan kualitas mereka dengan mematikan pergerakan Fabian Delph, Yaya Toure, Fernandinho, David Silva, dan Raheem Sterling. Kante sendiri saja sudah mencatatkan delapan tekel dan lima intersepsi dalam pertandingan ini, menunjukkan betapa garangnya gelandang berkebangsaan Prancis tersebut.

Itu baru melihat dua gelandang tengah Leicester. Kalau melihat pergerakan pemain seperti Christian Fuchs, Marc Albrighton, Riyad Mahrez, dan Jamie Vardy, tanpa perhitungan kalkulator, di televisi Anda sudah bisa menyaksikan seberapa hebat daya kerja Leicester. Mereka terus berlari nyaris sepanjang laga untuk mengklaim bola, sembari menjaga struktur pertahanan mereka.

Ketiga, ini merupakan senjata mematikan yang selalu dimanfaatkan oleh Leicester untuk membobol gawang lawan: counter attack. Serangan balik merupakan senjata mematikan Leicester musim ini. Liverpool sudah merasakannya langsung – kebobolan dua gol dari serangan balik – sebelum Man City. Di Etihad, mungkin hanya satu gol yang tercipta langsung dari serangan balik, tetapi dua gol lain yang bermula dari bola mati juga tadinya dibangun oleh serangan balik yang skematik.

Skema serangan balik Leicester ini sejatinya cuma itu-itu saja, tetapi langkah mereka hingga saat ini belum terhenti dan itu membuktika seberapa efektif ramuan Ranieri. Kurang lebih begini ramuannya: Albrighton disiplin di sayap kiri, Vardy berkeliaran mencari celah, Mahrez diberi sedikit kebebasan untuk menusuk, sementara Shinji Okazaki menciptakan celah. Kombinasi tersebut sejauh ini sudah menghasilkan 16 gol untuk Leicester.

Seandainya buntu, akan ada ramuan lain, yakni Drinkwater memberikan bola dari tengah lapangan kepada Vardy, atau Kante melepaskan umpan terobosan untuk Mahrez atau Vardy. Malang bagi Man City, semua skema tersebut berjalan efektif di Etihad dan walau tidak secara langsung membuahkan gol, mereka menghujani gawang City dengan gempuran monoton sekaligus layak ditonton.

Ya, skema serangan balik Leicester memang monoton dan mudah dibaca, tetapi sejauh ini klub-klub Liga Primer sulit mengantisipasinya. Dua manajer terkemuka seperti Jose Mourinho dan Jurgen Klopp bahkan mengakui hal tersebut.

“Saya merasa kerja saya dikhianati,” ungkap Mourinho sebelum dipecat. “Saya bekerja empat hari dalam sesi latihan untuk pertandingan ini. Saya mengidentifikasi empat pergerakan di mana Leicester mencetak sebagian besar gol mereka dan dalam dua dari empat situasi yang saya identifikasi, saya menemukan bagaimana mereka mencetak gol.”

Sementara itu, Klopp mengungkapkan hal senada sebelum kalah 2-0 dari Leicester, “Kami semua tahu tentang kualitas mereka, terutama lawan selanjutnya Leicester dan konsep gamblang tentang permainan mereka. Gaya bermain mereka sangat jelas. [Namun] sulit untuk menghadapinya, seperti yang dirasakan sebagian besar tim Liga Primer ketika menghadapi mereka."

Gaya dan skema permainan Leicester memang mudah dibaca, tetapi sejauh ini mereka menjadi kekuatan yang belum terhentikan. Alasannya sederhana, karena Ranieri tidak sekadar memanfaatkan kekuatannya, tetapi mempelajari kelemahan lawan dan menunggu lawan menunjukkan kelemahan mereka.

Tadi malam, mereka kembali menunjukkan hal itu kepada Man City. Tak hanya memanfaatkan pertahanan rapat, pressing ketat, dan serangan balik cepat, mereka juga melihat di mana Martin Demichelis serta Nicolas Otamendi sering melakukan kesalahan. Silahkan tonton cuplikan pertandingan semalam dan tonton bagaimana Ranieri memanfaatkannya dalam tiga gol Leicester.

Leicester pelan-pelan menjawab semua keraguan dari para pundit. Inkonsistensi? Sudah mereka jawab dengan total 15 kemenanan. Intensitas lari bakal menyurutkan permainan? Rata-rata berlari mereka masih 110,7 km per pertandingan. Kesulitan lawan klub besar? Chelsea, Tottenham, Liverpool, dan Man City sudah mereka benamkan.

Satu-satunya hal yang mungkin mengganjal mereka adalah faktor cedera, tetapi sejauh ini Ranieri mampu mengatur hal tersebut sampai-sampai hanya diganggu 15 kali cedera, bandingkan dengan Arsenal (22), Tottenham (28), dan Manchester United (40). Adapun sang manajer tetap waspada dan tidak besar kepala, menyebut Leicester bukan sebagai kandidat juara Liga Primer Inggris.

Tapi kalau melihat makna yang tersembunyi, Ranieri sekaligus melemparkan pertanyaan sekaligus tantangan bagi klub-klub Liga Primer: Siapa bisa hentikan Leicester?