Siapakah Joe Gomez? Mengenal Bek Muda Anyar Liverpool

Joe Gomez resmi gabung Liverpool, namun namanya yang kurang familiar di telinga jelas mengundang tanya. Siapakah sebenarnya Joe Gomez?

Sabtu (20/6) waktu setempat, publik Anfield dikejutkan – mungkin juga tidak – dengan beredarnya foto Joe Gomez yang memamerkan jersey Liverpool. Sang pemuda resmi bergabung dengan The Reds, namun namanya yang kurang familiar di telinga jelas mengundang tanya. Siapakah Joe Gomez?

Sebelumnya perlu diluruskan lebih dulu, Joe Gomez tak punya hubungan darah apapun dengan Mario Gomez apalagi Selena Gomez. Ia lahir dengan nama Joseph Dave Gomez di Catford, Inggris, pada tanggal 23 Mei 1997. Ia masuk ke dunia sepakbola melalui akademi Charlton Athletic, sebelum mencatatkan namanya di tim inti.

*Statistik Gomez di Charlton Athletic musim lalu.

Gomez mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam karirnya. Ia baru berusia 17 tahun lebih 3 bulan ketika melakoni debutnya bersama Charlton. Tak sampai setahun, ia langsung bergabung dengan Liverpool di musim panas. Kebanyakan pemain muda memang mengalami hal ini dan disebut sebagai one-year-wonder, tapi jika menengok ke masa lalu, sejatinya Gomez memang sudah berkembang pesat sejak bergabung dengan Chartlon U18 di usia 13 tahun.

Setelahnya, ia mewakili Inggrus U16 dan jadi pemain kunci dalam tim U17 yang menjuarai Kejuaraan Eropa 2014 di Malta. Ia bermain penuh di final melawan Belanda, seiring The Three Lions menajdi juara lewat adu penalti. Gomez pun dinobatkan sebagai salah satu pemain dalam UEFA’s Team of the Tournament.

Sontak ia menyedot perhatian dari para pengamat bakat Liga Primer Inggris dan perkembangannya semakin pesat sejak ia bergabung dengan tim utama Charlton. “Saya pikir ia akan jadi pemain hebat,” ujar Bob Peeters, mantan manajer Charlton. “Saya pernah dengar kalau ia adalah pemain bagus, tapi ia tetap mengejutkan saya.”

Setelahnya, Gomez telah mencatatkan 24 penampilan senior bagi The Addick dan dinobatkan sebagai Young Player of the Year divisi Championship, lalu memenangkan Championship Apprentice of the Year. Berprospek? Pastinya, namun bukan cuma itu alasan Liverpool mendatangkan bek muda ini ke Merseyside.

Gomez sering disamakan dengan Kompany & Ferdinand di usia muda.

Gomez sering diturunkan sebagai bek kanan oleh Charlton, tapi posisi aslinya adalah bek tengah dan masa depannya di Liverpool tentu bakal berkutat di sana. Ia memiliki postur yang mendukung untuk posisi tersebut [188 cm], sementara kecepatan kaki serta kontrol manis yang ia miliki memungkinkannya beradaptasi sebagai bek kanan.

Banyak orang bilang, walau masih muda, Gomez bermain seperti profesional matang. Ia berkepala dingin dan pandai mengomando tanpa banyak bicara. Kemenangan 3-2 atas Derby County di kandang musim lalu menunjamin hal tersebut, di mana Gomez mencatatkan statistik tekel paling banyak dalam pertandingan.

Perkembangan fisik dan atletiknya bakal terus berlanjut hingga beberapa tahun ke depan dan ia memiliki akurasi tekel yang terbilang tinggi, sembari pandai menggocek bola – tipe bek favorit Brendan Rodgers. Sebagai tambahan, Gomez juga sering mengatur permainan lewat belakang dengan umpan pendek simpel, sembari menjaga kedisiplinan lini belakang.

Beberapa pengamat bahkan membandingkan dirinya dengan Rio Ferdinand dan Vincent Kompany di usia muda. Adapun sang bek muda tak mau tenggelam dalam sanjungan dan tetap rendah hati. “Ini merupakan pengalaman hebat untuk saya dan saya sama sekali tak menyangka bakal terlibat langsung di tim utama sejak pra-musim.

“Saya menikmatinya dan saya bakal terus memacu diri dan menggunakan pengalaman tersebut untuk membangun masa depan saya. Masih ada banyak kerja keras yang harus saya lakukan,” tandasnya dalam wawancara April lalu.

Pernyataan terakhir tentu boleh memikat hati para fans Liverpool, pasalnya, siapapun pasti suka jika pemain anyar bakal menjanjikan kerja keras untuk tim kesayangannya.

Coates, salah satu bek muda bernasib buruk di Liverpool.

Tapi benar kata Gomez. Masih ada jalan panjang dan kerja keras yang harus ia lalui. Walau sekarang ia disebut sebagai bek berbakat, tidak ada jaminan ia bakal sukses di masa mendatang. Liverpool sudah membuktikan hal tersebut dengan dua bek muda mereka: Sebastian Coates dan Tiago Illori.

Ketika Coates bergabung dengan Liverpool di 2011, ia merupakan bek tengah dengan ekspektasi paling tinggi di dunia sepakbola. Ia meraih sukses bersama Uruguay di Copa America dan dinobatkan sebagai Young Player of the Tournament. Tak heran publik Uruguay memproyeksikannya sebagai kapten masa depan Uruguay.

Empat tahun berlalu, Coates bahkan tak mendapat tempat sebagai cadangan reguler. Ia hanya mencatatkan 24 penampilan bagi The Reds sebelum dipinjamkan ke Sunderland musim lalu. Bahkan menurut kabar terkini, ia bakal dilepas secara permanen ke Wearside. Malang nian perjalanan karir sang bek Uruguay.

Di lain sisi, ada Illori yang datang dari Sporting Lisbon dua tahun lalu. Ia didatangkan oleh Rodgers bersama Mamadou Sakho, namun nasib sang bek Portugal tak jauh berbeda dari Coates – mungkin lebih parah. Ia dipinjamkan ke Granada dan Bordeaux sejak dipermanenkan sebagai pemain The Reds. Uniknya, ia sama sekali belum pernah melakoni debut bersama tim Merseyside.

Peluang keduanya makin menipis karena Rodgers tak berani ambil risiko soal kedua pemain tersebut. Sang manajer lebih memilih untuk menurunkan Dejan Lovren, pembelian mahal yang gagal fokus, dan bek bengis semacam Skrtel dan Sakho. Tak berhenti sampai di situ, nasib bek-bek muda lain seperti Danny Wilson, Gabriel Paletta, Jack Hobbs, Daniel Ayala dan Chris Mavinga juga tak jelas arahnya. Padahal semua pemain muda tersebut sempat diramalkan jadi penerus Jamie Carragher dan Samy Hyppia.

Apa daya, bek-bek muda tersebut gagal di Liverpool dan tak banyak yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya. Dari sekian banyak pembelian bek muda, hanya sedikit yang berhasil. Jalan Gomez pun masih panjang karena ia harus menghadapi rekor buruk para bek muda – yang mungkin berkaitan dengan sistem pembinaan dalam konteks bertahan.

Namun bolehlah berharap sembari menggumam: Mungkin Gomez berbeda dari bek-bek lainnya.

Rodgers wajib membina Gomez dan memberinya kesempatan.

Perbedaan Gomez dari bek-bek muda pendahulunya ialah teknik dan temperamen. Adapun ia masih harus bekerja keras untuk menegaskan eksistensinya di Liverpool. Ia harus berebut posisi dengan Martin Skrtel, Mamadou Sakho, dan Dejan Lovren. Mungkin musim depan masih terlalu cepat baginya dan ada peluang bagi Gomez untuk dipinjamkan ke Derby County.

Sebagai tolok ukur, pembanding yang kiranya setara dengan Gomez ialah John Stones. Bek muda tersebut didatangkan dari Barnsley dengan harga £3 juta dan ia menolak tawaran City dan Chelsea demi bergabung dengan Everton.

Sama seperti Gomez, ia adalah ball-playing defender, berpostur tinggi, dan mampu bergerak cepat. Keserbabisaan yang ia miliki juga memungkinkan Roberto Martinez untuk memainkannya sebagai bek kanan. Tak heran saat ini ia diburu oleh beberapa klub besar lagi dan mendapat sanjungan “fenomenal” serta “spesial” dari sang manajer. Stones diplot sebagai bek terbaik Inggri setelah John Terry.

Pembelian Gomez oleh Liverpool memang layaknya judi. Masih belum tahu sejauh mana ia bisa berkembang, tapi potensi itu ada di sana dan sang pemain memiliki ketenangan serta kedewasaan yang dibutuhkan.

Rodgers tentu berharap sang bek tengah bakal sesukses – bahkan lebih dari – John Stones, bukan seperti Zak Whitbread. Tunggu tanggal mainnya!