Simone Zaza Bisa Buat Juventus Tampak Konyol

Topics

Simone Zaza terus membuktikan bahwa dirinya tak pantas dijual dan jadi striker pilihan terakhir Juventus.

Juventus punya identitas sebagai klub yang cerdik di lantai bursa. Setidaknya sejak era tiga serangkai, Luciano Moggi, Antonio Giraudo dan Roberto Bettega. Sempat disamarkan identitasnya oleh Alessio Secco, Beppe Marotta kemudian mengembalikannya dengan tegas, tapi lewat cara yang lembut.

Begitu banyak kasus di mana Juve membeli atau mendapatkan pemain baru dengan harga miring bahkan gratis, kemudian menjadikan pemain "tak berharga" itu punya potensi harga mencapai tiga hingga lima kali lipat.

Tak hanya soal mencomot, karena Tim Hitam Putih juga sangat hati-hati dalam melepas para pemainnya. Pertimbangannya ketat, yakni soal harga tepat didorong keinginan sang pemain hengkang plus potensi kiprah lebih hebat di klub destinasi. Atau satu lagi, situasi tak terprediksi layaknya calciopoli 2006 yang menghadirkan eksodus bintang besar-besaran.

Blunder penjualan paling banter mungkin hanya Thierry Henry dan Tiago Mendes. Mereka dilepas dengan harga miring lantaran dianggap gagal, tapi berhasil jadi sosok krusial di tim barunya.

Menilik situasi terkini, keputusan konyol serupa bisa terjadi pada pada penyerang anyar Juve musim ini, Simone Zaza. Punya catatan statistik yang mengagumkan, pemain berkepala plontos itu selalu jadi bomber pilihan terakhir di bawah Paulo Dybala, Mario Mandzukic, dan Alvaro Morata.

Isu pelepasan Zaza bahkan sudah mengemuka beberapa pekan sebelum musim 2015/16 dimulai. Manajemen Juve dirumorkan tidak puas dengan performa sang pemain pada duel pra-musim. Pemain benomor punggung tujuh itu dinilai terlalu lemah dan malas, tak sesuai dengan filosofi permainan La Vecchia Signora.

Juventini juga diam-diam heran mengapa bukan Domenico Berardi yang diambil dari Sassuolo, sehingga kuartet penyerang Juve punya tipe berdampingan. Mandzukic dan Morata sebagai poacher, sementara Dybala dan Berardi sebagai penyerang kedua. Zaza sendiri punya karakteristik yang hampir sama dengan Mandzukic dan Morata.

"Ini hanya soal adaptasi. Saya terus bekerja keras dan banyak mendapat ilmu dari Mandzukic dan Morata, juga Dybala. Saya percaya dengan kualitas yang saya miliki," tutur Zaza, menyambut segala berita negatif yang menjadikannya objek utama.

Namun rasa optimistis itu dibendung dan rumor pelepasannya malah semakin kencang. Di awal musim, sang pelatih, Massimiliano Allegri, tampak tak bisa menaruh kepercayaan pada Zaza. Sang bomber awet mendekam di bangku cadangan pada duel Piala Super Italia, tiga giornata perdana Serie A Italia, dan matchday pertama Liga Champions.

Debutnya baru dimulai pada giornata empat Serie A, dengan turun selama tujuh menit di Luigi Ferraris. Pertunjukan sekaligus pembuktian Zaza pun dimulai sepekan setelahnya, saat dirinya dipercaya jadi starter. Ia langsung mencetak gol perdana, meski gagal mengantarkan Juve menang dari Frosinone.

Gol itu membuatnya mendapat kepercayaan lebih dari Allegri dan mulai rutin bermain. Zaza kemudian turun di empat laga beruntun selanjutnya dan sukses mencetak gol perdana di turnamen impiannya, Liga Champions.

Namun awan mendung kembali menyelimuti Zaza, setelah Juve lepas dari masa transisi dan Allegri menemukan formula terbaik di lini depan, dengan menduetkan Mandzukic dan Dybala. Praktis, The New Vieri harus kembali akrab dengan bangku cadangan.

Zaza pun terlibat persaingan internal dengan Morata, sebagai pelapis utama duet andalan. Segalanya kemudian tampak jelas bahwa dirinya adalah penyerang pilihan terakhir Allegri, karena Morata mendapat menit bermain yang jauh lebih banyak.

Dalam kebungkaman dan ketidaknyamanan tersebut, Zaza kembali membuktikan bahwa dirinya tak pantas diperlakukan seperti itu. Statistik berbicara, di tengah kemandulan akut yang tengah mendera Morata, Zaza secara mengejutkan tampil sebagai striker dengan rasio gol terbaik Si Nyonya Tua.

Zaza mampu mencetak rerata satu gol setiap 63,3 menit, unggul jauh dari duet utama, Mandzukic - Dybala, yang butuh lebih dari 100 menit, apalagi Morata yang menembus angka 385,6 menit.

Rasio gol Zaza meningkat drastis sejak bentrok di Renzo Barbera, di mana ia jadi penutup kemenangan 3-0 Juve atas Palermo. Ia lantas mengamuk dalam duel Derby della Mole di Coppa Italia lewat torehan dua gol. Terakhir, penyerang 24 tahun itu mencetak satu gol dalam 11 menit waktu bermainnya kontra Hellas Verona.

Sayang, catatan itu tak lantas membuat Zaza "naik pangkat" jadi pilihan ketiga atau mulai dipercaya jadi starter kembali. Tak heran jika rumornya hengkang di bursa transfer Januari ini justru semakin kencang. Kini lebih banyak klub yang menginginkan jasanya.

Agen sang penyerang, Christian Maifredi, yang sempat beberapa kali menegaskan bahwa kliennya bahagia di Juve kini mulai dilanda kebimbangan. Hal itu terjadi karena Zaza memang dalam situasi darurat butuh bermain, agar tempatnya di skuat Italia untuk Euro 2016 tidak terancam.

"Apakah dia akan bertahan? Sebuah pertanyaan sulit karena kata-kata [Antonio] Conte sudah cukup jelas. Apabila tidak dalam momen Euro 2016, situasi ini mungkin akan berbeda. Transfer dengan status pinjaman? Pertanyaan ini bukan untuk saya, melainkan klub," ujar Pratici, menyiratkan peluang kliennya hengkang.

Mendengar pernyataan tersebut, Allegri buru-buru menegaskan bahwa Zaza tak boleh pergi dan berjanji akan memberinya menit bermain yang lebih. "Meski Zaza sendiri yang meminta, dia tak akan pergi. Saya berbicara setiap hari dengannya dan dia adalah pemain yang berkualitas. Dia harus memperebutkan tepat secara sehat di sini. Saya tidak memahami kenapa dirinya harus hengkang. Seharusnya tidak ada badai tentangnya," tutur sang allenatore.

Performa yang diminta sudah diberikan, kini tinggal bagaimana Juve memperlakukan Zaza lebih baik dari sebelumnya. Ia tak bisa terus-terusan dipaksa mencetak gol dan bermain hebat, jika hanya dimainkan tak lebih dari seperempat jam.

Ingat, di tengah kebungkamannya, Zaza bisa berontak. Terlalu besar kekecewaan yang bakal hadir, jika dirinya tak disertakan ke Euro 2016 hanya untuk setia sebagai pilihan kesekian La Fidanzata d'Italia. Dan bila akhirnya dilepas, maka Zazagol bisa membuat Juve tampak konyol di masa depan.