Siswanto: Kompetisi Indonesia Penuh Balas Dendam

Topics

Siswanto menilai keputusan kontroversial wasit lebih disebabkan tim tuan rumah melakukan pembalasaan dengan cara kotor.

Bek Bonek FC Siswanto menyatakan, persepakbolaan Indonesia akan sulit berkembang jika masih mengedepankan unsur balas dendam dibandingkan mendapatkan prestasi bagus.

Sejumlah keputusan kontroversial yang kerap dikeluarkan wasit di liga maupun turnamen nasional disebut-sebut sebagai ajang pembalasan sebuah tim ketika mereka melakukan laga tandang. Menurut Siswanto, sikap curang, dan membalas perlakuan buruk membuat sepakbola Indonesia tidak berkembang.

“Sangat merugikan sepakbola Indonesia. Kalau fair play sepakbola kita bagus, bakal bisa masuk piala dunia. Kalau di Indonesia kan sepakbola balas dendam,” kata Siswanto kepada Goal Indonesia.

“Kalau kompetisi di Indonesia, main di kandang, lawan pasti kena penalti kalau tidak live [siaran langsung], lalu dibalas lagi di kandang saat jadi tuan rumah. Dengan cara apa pun, gantian kena penalti juga.”

Terkait dengan kinerja Jerry Elly di leg kedua perempat-final Piala Presiden 2015 di Stadion Sriwijaya Jakabaring, Siswanto menilai keputusan wasit tidak benar. Menurut Siswanto, mereka mau saja melanjutkan pertandingan asalkan Jerry diganti dengan wasit cadangan.

"Ya harusnya dia melihat tayangan ulang di televisi nasional. Cadangan wasit saja melihat, dan bilang tidak penalti. Terus dia suruh lihat tidak mau, karena masa bodoh, dan tetap dengan makan uang haram,” cetus Siswanto.

“Memang wasit juga manusia, tapi harusnya keputusan tidak dengan kesalahan, dia tiup penalti tanpa melihat hakim garis terlebih dahulu.” 

Sementara itu, sekjen Piala Presiden 2015 Cahyadi Wanda mengungkapkan, pihaknya tidak menutup mata dengan kinerja wasit, dan tetap melakukan evaluasi.

“Setiap wasit pasti pasti kita evaluasi. Ingat waktu Pusamania [Borneo FC] lawan Persib [Bandung] yang menyerang kami? Katanya wasit berat sebelah ke Pusamania. Kami terima semua masukan. Yang kami sayangkan, kenapa Persebaya [Bonek FC] tidak memberi masukan yang sama terhadap kami,” kata Cahyadi.

“Saya tak habis pikir, kenapa [Bonek FC] mengambil keputusan seperti itu? Kenapa tidak melayangkan protes secara resmi? Kami terbuka. Setiap walk-out ada prosedurnya. Sangat disayangkan kenapa mereka tidak mengambil prosedur yang resmi. (gk-55)