SPESIAL: Duel Lini Per Lini Juventus Vs. Napoli

Final Piala Super Italia 2014, yang mempertemukan Juventus dan Napoli akan tersaji pada Selasa (23/12) dini hari WIB. Sebelumnya, mari simak duel lini per lini kedua tim!

OLEH AHMAD REZA HIKMATYAR

Grande Partita siap digelar di Jassim Bin Hamad Stadium, Qatar, saat Juventus dan Napoli bentrok untuk perebutkan gelar Piala Super Italia 2014, Selasa (22/12) dini hari WIB. Ajang ini merupakan pertemuan dua peraih gelar bergengsi Calcio musim lalu, yakni peraih scudetto dan Coppa Italia.

Juve sebagai tim adidaya Serie A Italia saat ini jelas ingin membukukan gelar hat-trick di ajang tersebut, layaknya di Serie A. Sementara bagi Napoli, kemenangan akan menebalkan rasa percaya diri para penggawanya, menilik performa buruk tim asuhan Rafa Benitez yang tak sesuai ekspektasi musim ini.

Dan bentrok dari lini ke lini akan jadi kunci siapakah yang pantas meraih gelar bergengsi Piala Super Italia. Mulai dari aksi heroik para kiper di bawah mistar, benteng kokoh yang dibangun lini pertahanan, kejeniusan di lini tengah, hingga ketajaman di lini depan. Ketika semua aspek itu mampu dikuasai sebuah tim, maka jangan heran jika mereka pantas mentas sebagai kampiunnya.

Berikut ulasan terkait duel antar lini kedua tim, dilengkapi dengan perbandingan statistik para pilarnya:

Gianluigi Buffon

Menginjak usia 36 tahun, harus diakui memang jika sedikit-demi sedikit performa seorang Gianluigi Buffon mulai terkikis. Kita kini jarang melihat lagi aksi-aksi heroik Superman, yang bisa menyelamatkan kans berakurasi 99 persen. Namun begitu hal tersebut tak lantas meruntuhkan kebesaran sang kapten.

Performanya yang menurun bisa ditutupi dengan sempurna oleh pertahanan Juve yang begitu kokoh. Dan yang terpenting adalah keberadaannya di lapangan. Kepemimpinan Buffon masih luar biasa dan komandonya di lini belakang, membuat dirinya kini hanya kalah dari Manuel Neuer di Eropa, karena baru kebobolan enam gol saja.
Rafael Cabral

Perlahan namun pasti, performa Rafael Cabral terus menanjak sejak kedatangannya di musim lalu. Responsnya yang brilian serta ketangkasannya dalam melakukan sapuan jadi sorotan. Kiper sekelas Pepe Reina pun sukses ditendangnya pada bursa musim panas lalu. Torehan 32 penyelamatan musim ini, jadi bukti mantan kiper Santos tersebut

Namun di usainya yang baru menginjak 24 tahun, faktor pengalaman berbicara. Rafael masih belum bisa berkomunikasi dengan baik untuk mengatur lini pertahanan. Fokusnya pun masih sering teralih dalam laga 90 menit. Tak jarang banyak gol konyol yang bersarang ke gawangnya.

Leonardo Bonucci

Peningkatan performa yang cukup signifikan dialami Leonardo Bonucci sepanjang tiga musim terakhir. Dikenal sebagai bek yang kerap blunder di awal masanya bersama Juve, pemain 27 tahun itu kini dikenal sebagai bek berkelas, dengan disiplin dan visi permainan yang luar biasa. Hal itu terjadi akibat transformasi posisinya sebagai bek tengah dalam skema 3-5-2.

Tak hanya sekedar bertahan, ia sanggup membaca permainan dan memulai serangan tim. Catat saja, Bonucci kini jadi pemain Si Nyonya Tua yang paling sering melepaskan umpan dengan akurasi mencapai 88 persen. Namun pertanyaan hadir saat Massimiliano Allegri kini kembali menggunakan empat bek. Bonnie bisa dibilang tak sebagus dengan formasi tiga bek dan Angelo Ogbonna terkadang lebih dipercaya untuk menggantikannya. Di laga krusial kontra Napoli dini hari nanti, mampukah ia menjawab keraguan akan posisinya?
Kalidou Koulibaly

Sektor belakang menjadi perhatian utama Napoli di musim ini, karena sudah kebobolan 20 gol di sepanjang 16 giornata Serie A Italia. Raul Albiol jadi sorotan karena performanya menurun drastis jika dibandingkan dengan musim lalu. Dengan penggantinya, Miguel Britos, yang tak kompetitif, kini tumpuan ada pada sang penggawa anyar, Kalidou Koulibaly.

Ya, di usianya yang baru menginjak 23 tahun, pemain asal Prancis itu mampu tampil impresif di putaran pertama musim ini. Tengok saja 50 tekel yang sudah ia lakukan, yang jadi catatan tertinggi di Serie A saat ini. Tak hanya bertahan, kontribusi mantan penggawa KRC Genk ketika menyerang juga maksimal, dengan lepasan 713 umpan akurat plus satu gol dan satu assist. Pembuktian akan potensinya harus dilakukan dalam partai krusial melawan Juve.

Andrea Pirlo

Mengalami cedera di awal musim ini, Andrea Pirlo sempat mengalami penurunan performa dalam masa transisi pemulihannya. Namun Pirlo tetaplah Pirlo, seroang maestro juara Piala Dunia. Ia lantas bangkit di masa-masa krusial, lewat gelontoran gol yang spektakuler.

Perubahan skema Allegri dari 3-5-2 menuju 4-3-1-2, tak jadi masalah karena Pirlinho tetap jadi poros permainan. 500 umpan akurat dengan dua assist, jadi catatan istimewanya. Tak lupa, sepakan bebas magisnya juga siap hadirkan kekaguman. Dan ketika Juve mengalami kebuntuan di laga penting layaknya dini hari nanti, percayalah dewa Pirlo akan hadir dengan keajaibannya.
Gokhan Inler

Sempat tersingkir dari starting XI di awal musim ini seiring kedatangan David Lopez, Gokhan Inler menegaskan statusnya sebagai penggawa senior Napoli. Ia menunjukkan bahwa meski sudah berkepala tiga, sosoknya masih amat dibutuhkan di atas lapangan.

Selain tugasnya dalam mendistribusikan bola, tipe permainannya sebagai gelandang petarung amat dibutuhkan Benitez untuk merusak skema tim lawan. Belum lagi ketika Il Partenopei mengalami kebuntuan, sepakan geledek khas-nya siap membuat Buffon menderita dini hari nanti.

Carlos Tevez

Putaran pertama di musim 2014/15 mungkin jadi performa terbaik yang pernah ditunjukkan Carlos Tevez bersama Juve. Bagaimana tidak, dari 15 laga yang sudah dilakoninya, sepuluh gol dan lima assist sanggup ditorehkan. Bukan tak berarti apapun, karena setiap El Apache mencetak gol atau menorehkan assist, I Bianconeri selalu sanggup meraih kemenangan.

Kini perfroma demikian amat dibutuhkan Si Nyonya Tua demi merengkuh gelar Piala Super Italia 2014. Terlebih dengan kecepatan Tevez yang sama sekali belum menurun di usia 30 tahun. Kelebihannya itu adalah anomali lini pertahanan Napoli yang dikenal lamban.
Gonzalo Higuain

Performa inkonsisten yang ditampilkan Gonzalo Higuain di sepanjang musim ini, menghadirkan rasa frustrasi tersendiri bagi Napoli. Bagaimana tidak, karena pemain termahalnya ini selalu tampil melempem dalam laga-laga besar, layaknya hadapi Juve dini hari nanti.

Tujuh gol memang sudah berhasil dicetak dari 16 penampilannya, namun catatan itu tak sebanding dengan nama besar yang sudah dibangun El Pipita. Dengan performa sang pelapis, Duvan Zapata yang terus meningkat, duel melawan Juve bisa jadi momen terakhir Higuain melakukan pembuktian, sebelum tersisih ke bangku cadangan pada 2015.