SPESIAL FINAL COPA LIBERTADORES: Kejutan Tigres, Bukan Sekadar Klub Pembelanja Belaka

Tigres berpotensi mencetak sejarah sebagai klub Meksiko pertama yang menggondol Copa Libertadores.

Mudah saja menyusun narasi untuk klub sepakbola. Chelsea bermain defensif, Stoke City gemar mencetak gol lewat bola mati, River Plate sedang bangkit dari keterpurukan degradasi, dan Tigres menghabiskan banyak uang untuk belanja pemain.

Narasi itu berdasarkan dari kenyataan, tapi secara umum banyak hal di belakang apa yang dilihat kebanyakan orang. Memang benar pelatih Tigres Ricardo "Tuca" Ferretti mengumpulkan banyak pemain mahal seperti striker Prancis, Andre-Pierre Gignac, dan pemain sayap bintang Meksiko, Javier Aquino dan Jurgen Damm. Mereka tampil dalam tim inti Tigres menghadapi Internacional di semi-final Copa Libertadores. Tapi, amunisi yang dimiliki Tuca tak hanya tiga pemain itu belaka.

Aquino mengalami cedera engkel kaki kanan dan bakal absen pada leg pertama final melawan River Plate, Rabu (29/7) malam waktu setempat. Mungkin ini dapat menjadi kabar baik bagi Tigres. Artinya, River tak lagi bisa membidik pemain bernama besar mereka untuk dimatikan dalam misi mengusung trofi Libertadores.

Pemain baru Tigres punya peran yang sama pentingnya, seperti gelandang asal Amerika Serikat Jose Torres dan bek Brasil Juninho. Kedalaman skuat klub asal Monterrey ini terbukti dengan tampil relatif baik di Liga MX Clausura Meksiko serta pada saat yang sama sukses menembus perempat-final Libertadores. Tigres mampu bertengger di peringkat kedua kompetisi domestik musim reguler sebelum akhirnya tersisih di delapan besar Clausura.

Torres menjadi tandem sejati bagi gelandang internasional Uruguay, Egidio Arevalo Rios, yang memanfaatkan keunggulan fisik untuk mencegah pemain lawan memasuki area sepertiga akhir lapangan. Sementara, Torres menjadi tumpuan dalam memulai serangan setelah merebut bola di lini tengah. Pemain asal Texas itu gemar maju menyerang dan dikenal memiliki tendangan jarak jauh yang berbahaya. Jika dibutuhkan, Torres dapat pula dimainkan sebagai bek kiri.

Juninho menjadi nyawa tim dan Tigres seolah menjadi tim yang berbeda ketika sang kapten mengalami cedera menjelang akhir Apertura 2014 lalu. Pemain 32 tahun itu telah menjadi legenda klub, Kelihatannya dia sudah sepenuhnya pulih dari cedera tendon Achilles. Juninho juga dapat menjadi andalan saat tim memperoleh bola-bola mati.

Perekrutan striker Prancis, Andre-Pierre Gignac, mewakili ambisi besar Tigres.

Kemudian, ada pula Hugo Ayala yang siap kembali dari suspensi leg kedua semi-final akibat kartu merah. Jika para pemain tersebut tidak tampil dengan taraf terbaiknya, masih ada penjaga gawang Nahuel Guzman. Kiper asal Argentina itu tampil mempesona sepanjang turnamen dan bertekad menyuguhkan kemampuan di depan publiknya sendiri untuk meraih spot di skuat timnas.

Tambahan semangat lain untuk Tigres adalah kembalinya bek kiri Jorge Torres Nilo dan gelandang Jesus Duenas. Keduanya baru saja membela Meksiko di final Piala Emas akhir pekan lalu. Cukup waktu untuk beristirahat sehingga mereka berpeluang dapat ditampilkan pada leg pertama final Libertadores.

Jangan lupakan pula peran Ferretti. Pelatih asal Brasil itu merupakan pelatih yang paling lama berkiprah di Liga MX. Dia mampu menghindari ancaman pemecatan yang kerap menimpa klub-klub Meksiko dengan lebih dari lima tahun menangani Tigres. Ini menjadi periode kepelatihan ketiga Ferretti bersama Tigres. Tim asuhannya dikenal gemar menguasai bola dan kebangkitan Tigres tahun ini menjadi buktinya.

Tapi tidak bisa dibilang Tigres bermain mengoper-oper bola selayaknya Barcelona. Biasanya mereka tampil defensif lebih dahulu untuk mempelajari permainan tim lawan di liga domestik dan Libertadores. Terkadang hasil yang mereka raih tidak didapat dari pertandingan yang impresif. Kekalahan terburuk Tigres dalam 15 pertandingan terakhir didapat dengan selisih dua gol.

Penampilan Tigres memberikan imbalan sepadan bagi dukungan fans yang kerap memenuhi Estadio Universitario. Mereka dikenal dengan nama El Volcan. Mereka kerap memberikan atmosfir yang penuh gelora sekaligus menggentarkan lawan. Mereka pun siap menyambut kemungkinan sukses Tigres menjadi klub Meksiko pertama yang berjaya di kompetisi antarklub Amerika Selatan.

Calon bintang akan bermunculan. Damm memberikan dua assist pada leg kedua semi-final, sedangkan Gignac baru saja mencetak gol debut. Segalanya dapat terjadi di final nanti.

Dengan paduan kebijakan berbelanja pemain mahal dan kerja keras Ferretti membangun filosofi tim, Tigres akan mengubah stereotype klub yang menghabiskan banyak uang menjadi klub pencetak sejarah.