SPESIAL FINAL COPA LIBERTADORES: Kembalinya River Plate, Si Anak Hilang

Empat tahun setelah terdegradasi, River Plate siap meraih kembali mahkota tertinggi yang diidam-idamkan klub Amerika Selatan - Copa Libertadores!

Rabu (29/7) malam ini waktu setempat, River Plate akan berhadapan dengan Tigres pada leg pertama final Copa Libertadores. Bagi Tigres, inilah penampilan perdana di ajang antarklub Amerika Selatan ini, meski berstatus sebagai tim undangan. Tigres menjadi klub Meksiko ketiga yang pernah mencapai final. River pernah menjuarai turnamen dua kali, terakhir 19 tahun lalu, tapi selepas itu pencapaian mereka naik turun.

Skuat River yang menjadi jawara Libertadores 1996 adalah tim yang selalu dikenang. Dipimpin pemain kawakan Uruguay berusia 35 tahun, Enzo Francescoli, River juga diperkuat sejumlah pemain muda berbakat seperti Hernan Crespo, Matias Almeyda, dan Ariel Ortega. Ketiga pemain itu kemudian secara akumulatif mengumpulkan 200 caps untuk timnas Argentina.

Meski ada sejumlah pemain hijau, River tampil mencenangkan sebelum memastikan diri menjadi juara di malam istimewa di Stadion El Monumental. Momen yang dikenang Almeyda sebagai yang terbaik yang pernah dialaminya selama berkarier.

Sukses itu memancing minat klub-klub Eropa kepada Crespo, Almeyda, dan bek Juan Gomez. Tidak masalah bagi River. Era 1990-an hingga awal 2000-an, akademi mereka banyak memproduksi pemain muda potensial. Pemain yang direkrut pun banyak membuahkan hasil.

Penjualan Crespo ke Parma diantisipasi dengan mendatangkan striker menjanjikan dari Chile, Marcelo Salas. Kehilangan Ortega yang hijrah ke Valencia ditutupi oleh pemain muda bernama Marcelo Gallardo, yang menyaksikan final 1996 dari bangku cadangan. Gallardo kini menjadi pelatih River. Klub asal Buenos Aires itu terus meraih sukses dengan memenangi tiga gelar domestik berturut-turut dan mencapai babak empat besar Libertadores 1998 dan 1999.

Hernan Crespo dan Enzo Francescoli. Paduan tua-muda kunci sukses River Plate di Copa Libertadores 1996.

Pemain terus berdatangan dan para pemain muda didikan sendiri terus bermunculan, misalnya seperti Pablo Aimar dan Javier Saviola. Dua gelar domestik lagi disambar, tapi River gagal berprestasi di pentas internasional. Usai dikalahkan Cruz Azul di perempat-final Libertadores 2001, dua bintang muda mereka hijrah ke Eropa. Sekali lagi, River mampu menutupinya. Andres D'Alessandro dan Fernando Cavenaghi datang, kemudian Javier Mascherano dan Lucho Gonzalez, kemudian Gonzalo Higuain.

Tapi arus deras bakat potensial menyurut. RIver terpeleset dari kasta teratas kompetisi sepakbola Argentina dan memasuki krisis. Usai memenangi Clausura 2008 bersama Diego Simeone, River malah menduduki juru kunci klasemen musim berikutnya.

River tampil medioker selama dua tahun berikutnya. Sistem kompetisi Argentina menerapkan sistem degradasi berdasarkan poin rata-rata selama tiga musim. Pada 2011, setelah dikalahkan Belgrano dalam babak play-off, River menerima kenyataan pahit. Mereka terdegradasi. Ironisnya, kepastian itu tepat didapat 15 tahun setelah malam bersejarah di El Monumental.

Meski demikian, River langsung meraih tiket promosi pada kesempatan pertama. Ketika kembali ke Divisi Primera, River langsung duduk di jajaran kandidat juara. Tapi mereka harus menghadapi ejekan dari suporter lawan. Spanduk bertebaran mengejek nama mereka "River" menjadi "RiBer". Huruf "B" disematkan karena River sempat menghuni divisi dua, Nacional B.

River seperti tak peduli. Dalam dua tahun setelah promosi, mereka kembali meraih juara bersama Ramon Diaz. Pelatih yang juga mengantarkan klub merebut kejayaan Libertadores 1996.

Pelatih saat ini, Gallardo, mengambil alih tongkat kepelatihan dari tangan Diaz setahun silam dan membangun kekuatan tim dari sukses sang pendahulu. River sukses melaju ke masing-masing final Copa Sudamericana, Recopa Sudamericana, dan kemudian tahun ini, final Libertadores. Berbeda dari zaman dahulu, River kali ini lebih kolektif bersama Gallardo dan tak terlalu tergantung pada sinar pemain secara individual belaka.

Marcelo Gallardo sukses melanjutkan kekuatan yang dibangun Ramon Diaz.

River pun sebenarnya mengalami pasang surut penampilan sebelum menginjak final Libertadores tahun ini. Mereka hampir tersisih di fase grup, tapi belajar dari pengalaman menyingkirkan aral selama beberapa tahun terakhir, pelan tapi pasti River mampu melaju ke final.

"Tujuan saya adalah membawa River kembali ke puncak dan saya yakin kami sudah mencapainya," ujar Diaz saat meninggalkan tim tahun lalu. "Ketika saya tiba, semua orang hanya membahas soal degradasi dan sekarang saya merasa sangat gembira River kembali memimpin di kancah tertinggi."

Diaz telah membangun ulang kepercayaan diri River dan menulis awal baru untuk klub. Namun, jika River sukses mengangkat trofi Libertadores 5 Agustus mendatang, tidak banyak yang mengira mereka dapat dengan cepat bangkit setelah empat tahun lalu terjerembap ke jurang degradasi.