SPESIAL: Lima Momen Kontroversial Fiorentina Kontra Juventus

Perseteruan abadi antara Fiorentina dan Juventus, menghadirkan banyak memori buruk yang sulit lepas dari ingatan.

OLEH AHMAD REZA HIKMATYAR Ikuti @rezahikmatyar di twitter

Publik seantero Firenze, kini sedang dalam perasaan yang berapi-api akibat sulutan kebencian, manakala tim kesayangan mereka, Fiorentina, tengah bersiap untuk menjamu musuh bebuyutannya, Juventus, Sabtu (6/12) dini hari WIB. Stadion kebesaran, Artemio Franchi, dijamin akan jadi tempat paling panas di tengah salju yang sedang mengguyur Italia.Bicara soal teknis dan tujuan masing-masing klub, partai ini mungkin kalah pamor dibanding bentrokan klasik Negeri Pizza atau Eropa lainnya. Tapi menilik sejarahnya, bagi tifosi Fiorentina duel melawan Juve lebih dari sekedar partai derby. Pertaruhan atas nama baik, gengsi, prestasi, dan segalanya akan diserahkan demi sebuah kemenangan."Di Firenze ada suasana tertentu menjelang laga satu ini, Anda bisa merasakannya sejak dua pekan sebelum sebelum laga dilangsungkan. Di Firenze, melawan Juventus berarti lebih dari sebuah derby. Tifosi sangat peduli akan hasil yang akan diraih dan mereka punya harapan tinggi," begitu ujar legenda La Viola yang juga mantan I Bianconeri, Angelo Di Livio.Karenanya, untuk menyambut bentrokan klasik antara Fiorentina dan Juve, Goal Indonesia menyajikan secara khusus lima momen kontroversial yang membuat duel klasik ini lebih panas dari sekadar derby!

Segalanya bermula di sini, 16 Mei 1982. Kala itu Serie A Italia musim 1981/82 memasuki giornata pamungkasnya. Fiorentina yang terus memuncaki klasemen dalam sepuluh pekan terakhir, secara mengejutkan mengoleksi poin yang sama dengan Juventus. Penentuan pun terjadi, manakala Si Ungu harus bertandang ke Cagliari, sementara Tim Hitam-Putih bertamu ke Catanzaro.Media berspekulasi jika kedua tim unggulan akan menang dan bakal terjadi partai play-off, sebagai penentuan scudetto. Uniknya, hingga turun minum, kedudukan Fiorentina dan Juve masih tertahan tanpa gol. Di paruh kedua, barulah terjadi momen kontroversial itu.15 menit jelang laga berakhir, wasit secara kontroversial menganulir gol penggawa Fiorentina, Daniele Bertoni, karena dinilai offside. Anehnya secara bersamaan Juve sanggup meraih keunggulan 1-0, berkat gol Liam Brady lewat hadiah penalti. Keadaan itu berlangsung hingga laga usai dan Si Nyonya Tua pun keluar sebagai peraih scudetto.Tifosi Fiorentina benar-benar dibuat meradang karena peristiwa tersebut. Mereka kemudian mengamuk sejadinya, sekaligus menyerang legenda Juve, Giampiero Boniperti, dengan menyeka spanduk bertuliskan "Juventus" di hidungnya, saat siaran langsung televisi.Momen itu lantas dikenang tifosi Fiorentina dengan nama "Meglio Secondi Che Ladri" (Lebih baik menjadi peringkat kedua dari pada menjadi pencuri).

Perseteruan yang terjadi antara tifosi Fiorentina dan Juventini terus memanas pasca kejadian 1982. Salah satu yang paling parah hadir dalam partai tandang Juve di Firenze, 12 Oktober 1986, pada giornata lima Serie A 1986/87. Gol cepat pujaan tuan rumah, Ramon Diaz, mampu disamakan oleh pemain pengganti tim tamu, Beniamino Vignola.Pertandingan pun berakhir imbang 1-1. Tak terima dengan hasil itu, tifosi Fiorentina menyerang sekolompok kecil Juventini yang datang ke Artemio Franchi. Tak berhenti di situ, karena ternyata kelompok Juventini yang jumlahnya tak seberapa itu mampu melayani bentrokan hingga di luar stadion. Setidaknya terdapat 50 orang luka-luka pasca bentrokan, dan untungnya tak terdapat korban jiwa.Namun begitu dliaporkan bahwa fasilitas di dalam dan sekitaran luar stadion rusak parah. Usut punya usut, ternyata tifosi Juve yang jumlahnya sedikit itu bernama Fighters, yang kini lebih dikenal dengan dama Drughi. Mereka tak lain merupakan ultras garis keras Juventus.

Jelang bergulirnya Piala Dunia 1990 di Italia, publik Negeri Pizza dibuat geger terlebih dahulu dengan saga ransfer yang dibuat Juventus. Secara mengejutkan mereka sukses memboyong pangeran pujaan Fiorentina, Roberto Baggio, dengan banderol termahal di dunia saat itu, sebesar €10 juta.Protes besar-besaran lantas dilakukan ribuan suporter Il Gigliati di jalanan kota Firenze pasca kepindahan Il Divin Codino, ke rival terbesar. Setidaknya 50 orang terluka akibat aksi tersebut. Pasca insiden Baggio lantas berujar bahwa, "saya dipaksa menerima transfer ini."Baggio mencapai puncak kariernya bersama Juve, namun hanya berselang setahun pasca kedatangannya, pemain spesialis no.10 itu jadi tak populer di mata Juventini. Dalam duel menghadapi Fiorentina di Artemio Franchi pada 7 April 1991, Baggio enggan jadi eksekutor hadiah penalti yang diberikan pada Juve. Gigi De Agostini yang lantas mengambil eksekusi tersebut gagal memanfaatkannya. Seketika Baggio ditarik keluar sang pelatih, Luigi Maifredi. Ia kemudian memasuki ruang ganti dengan mengenakan syal berawarna ungu, pemberian tifosi Fiorentina yang berada di tribun."Gianmatteo Mareggini [kiper Fiorentina] adalah orang yang paling tahu teknik penalti saya. Lagi pula jauh di lubuk hati saya, selalu berawarna ungu," papar Baggio selepas laga, yang kontan membuat Juventini meradang.

Usai Juventus menekuk Fiorentina 2-0 di J Stadium pada musim 2012/13, gelandang Viola, Borja Valero, meminta salah satu idolanya yang jadi penggawa Juve, Andrea Pirlo, untuk bertukar jersey. Pirlo pun mengabulkan dan Borja langsung membawa jersey Sang Maestro di pundaknya.Hanya beberapa meter saja untuk keluar lapangan dan menuju ruang ganti, kiper Fiorentina saat itu, Emiliano Viviano, lantas terlihat membisikkan sesuatu di telinga Borja. Ia kemudian merampas jersey Pirlo dan langsung melemparnya ke lapangan.Pihak Fiorentina membela tindakan Viviano. Dalam keterangannya, mereka khawatir ultras La Viola akan menilai gelandang asal Spanyol andalannya menghina mereka dengan mengenakan jersey pemain rival.

20 Oktober 2013, Fiorentina menjamu Juventus pada giornata 8 Serie A Italia 2013/14, di Artemio Franchi. 40 ribu pendukung tuan rumah yang hadir terdiam, manakala Juve sudah unggul 2-0 di babak pertama, lewat gol Carlos Tevez dan Paul Pogba. Namun ada yang salah dalam dua momen itu. Ya, Tevez dan Pogba tak menghormati selebrasi 'senapan mesin' ala pujaan Firenze, Gabriel Omar Batistuta. Keduanya melakukan selebrasi legendaris tersebut, dengan menodongkan 'senjata' ke arah tribun tifosi FiorentinaSeketika amarah seluruh publik kota yang memiliki nama latin Florentina itu meledak. Semua tersinergikan pada sebelas penggawa Il Gigliati yang bertarung di atas lapangan. Sang Kekasih Italia kemudian dibuat meronta di paruh kedua. Gelontoran empat gol menghukum Gigi Buffon cs, kedudukan akhir di papan skor pun mengejutkan, Fiorentina 4-2 Juventus.Kekalahan tersebut jadi yang terbesar dalam dua musim lebih kiprah Juve di semua kompetisi kala itu. Media dan publik Negeri Pizza menghujat performa plus sikap Juve dalam duel tersebut. Bahkan beberapa media pro tim rival, menyebut jika La Vecchia Omcidi tak selayaknya kembali keluar sebagai juara kasta tertinggi Calcio. Sementara publik Firenze? Mereka berpesta semalam suntuk!

addCustomPlayer('k7utgr4os0yd1grp4y3npwrlj', '', '', 620, 540, 'perfk7utgr4os0yd1grp4y3npwrlj', 'eplayer4', {age:1407083307651});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics