SPESIAL: Lima Momen Mengesankan Filippo Inzaghi Dan Massimiliano Allegri Bersama Tim Lawan

Inzaghi menangani Milan, sementara Allegri memimpin Juventus. Tapi keduanya memiliki memori menarik saat masih berada di tim lawan.

Milan dan Juventus akan berhadapan satu sama lain di San Siro dinihari nanti pada giornata ketiga Serie A Italia. Laga ini pun menjadi momen reuni bagi sejumlah pihak. Filippo Inzaghi dan Massimiliano Allegri adalah di antaranya.

Keduanya pernah berada dalam satu tim, Milan. Kala itu, mereka berstatus sebagai pemain dan pelatih. Namun, ada yang menyebut hubungan mereka berakhir dengan tidak baik.

Terlepas dari itu, Inzaghi dan Allegri memiliki hubungan istimewa lainnya. Bukan antarpersonal, tapi dengan klub yang mereka hadapi dinihari nanti. Analis Goal Indonesia, Ahmad Reza Hikmatyar dan Mohammad Yanuar, memaparkan lima momen mengesankan antara Inzaghi dan Juventus, juga Allegri dengan Milan.

1. Musim Perdana yang Fenomenal

Bergelar sebagai capocannoniere dan pemain muda terbaik Serie A Italia, Juventus jadi tim yang beruntung memboyong Filippo Inzaghi pada musim panas 1997/98 lewat mahar €10,4 juta. Sentuhan penyerang yang kala itu masih berusia 23 tahun langsung terasa di musim perdana. Tampil 46 kali di semua ajang, Inzaghi sukses melesatkan 27 gol. Sumbangsih itu membawa Si Nyonya Tua merengkuh gelar Piala Super Italia dan Scudetto, serta mencapai final Liga Champions. Karenanya Cesare Maldini pun memanggilnya dalam skuat inti timnas Italia untuk Piala Dunia 1998.

2. Gol Tunggal Penghenti Rekor 100 Persen Manchester United

Manchester United tampil begitu gemilang di Liga Champions 1997/98. Tergabung dalam Grup B bersama Juventus, tim asuhan Sir Alex Ferguson secara perkasa terus menanga hingg laga pamungkas grup melawan Juve di Delle Alpi. Pertarungan ketat dan keras pun tersaji. Kedua tim sama kuat hingga sepuluh menit jelang laga berakhir, Memasuki menit 83, lolos dari jebakan offside Super Pippo sukses menanduk bola kiriman Zinedine Zidane untuk mengubah keadaan menjadi 1-0. Keunggulan itu kemudian bertahan hingga 90 menit usai.

"Juventus bermain dalam level tertinggi, hal itu terlihat dari kegigihan striker mereka. Ya, Inzaghi, orang itu pasti terlahir dalam posisi offside," ujar Sir Alex pasca laga, karena Pippo mencetak gol setelah lolos dari situasi yang memerangkapnya di sepanjang laga.

3. Hat-trick Perdana untuk Juventus

Sepanjang kariernya bersama Juventus, Inzaghi tercatat sukses menorehkan empat kali hat-trick. Namun bisa dibilang torehan hat-trick perdananya-lah yang paling krusial. Ia melakukannya di leg kedua babak perempat-final Liga Champions 1997/98. La Vecchia Signora dihantui kegagalan melajul ke semi-final, karena hanya meraih hasil imbang 1-1 pada leg pertama yang berlangsung di Delle Alpi. Pippo yang jadi pahlawan di pertemuan pertama, kemudian kesetanan di NSK Olimpisky Stadium. Sempat diselingi oleh gol Sergiy Reborv, Inzaghi membalasnya tiga kali di menit 29, 65, dan 73. Gol pamungkas Alex Del Piero, menggenapkan kemenangan 4-1 Juventus. Si Hitam-Putih pun berhak melenggang ke semi-final.

4. Duet Maut dengan Alessandro Del Piero

Alessandro Del Piero adalah mesin gol Juventus sebelum Inzaghi datang. Kontroversi sempat terjadi karena pelatih I Bianconeri saat itu, Marcello Lippi, memilih untuk menduetkan mereka dengan peran Del Piero yang lebih ke dalam. Produktivitas King Alex menurun karenanya, namun efeknya begitu luar biasa bagi tim. Duet "Delpippo" begitu ditakuti di Italia dan Eropa. Del Piero diplot sebagai pelayan, sedangkan Inzaghi memerankan sosok penyantap ganas di kotak penalti. Bersama selama empat musim, mereka tampil di 132 laga dan mencetak 98 gol! Gli Azzuri pun ketularan untuk menggunakan jasa mereka dalam skema inti.

"Alex, seperti juga saya, menjalani sepakbola dengan semangat dan profesionalisme yang tinggi," tutur Inzaghi soal Del Piero.

5. Gol Pamungkas Inzaghi untuk Juventus

Para Juventini tentu akan mengenang gol terakhir Inzaghi bersama La Vechhia Omcidi. Bukan sembarang gol, karena torehan pamungkas yang ia cetak dilakukannya di Delle Alpi melawan musuh abadi, FC Internazionale, pada giornata 26 Serie A Italia 2000/01. Juve unggul terlebih dahulu melalui Alessio Tacchinardi, Inzaghi kemudian memperbesar keunggulan menjadi 2-0 lewat aksinya yang memikat. Menerima sodoran manis Del Piero, Si No.9 lantas mengelabui Ivan Cordoba dengan satu sentuhan. Inzaghi kemudian mencatatkan namanya di papan skor setelah memenangi duel dengan Sebastian Frey. Juve akhirnya menang 3-1, namun Inzaghi tak lagi mencetak gol di sisa musim.

Tersisih akibat keberadaan David Trezeguet, Inzaghi pun akhirnya pergi ke AC Milan lewat banderol €37 juta. Selama empat musim, Ia tampi di 148 laga dengan torehan 75 gol untuk Juventus. Gelar Piala Super Italia dan Scudetto musim 1997/98, serta satu Piala Intertoto pada 1999, jadi persembahan terbaiknya.

Ikuti Ahmad Reza Hikmatyar di

1. Memulai Era Baru Bersama Milan

Allegri dilepas dari kontraknya di Cagliari pada 17 Juni 2010, atas permintaan Milan, yang tertarik menggunakan tenaganya sebagai pelatih. Pada 25 Juni, Allegri akhirnya resmi diperkenalkan sebagai pelatih baru Milan. Di musim pertamanya, Allegri langsung memberikan gelar pertama buat Milan, yaitu scudetto Serie A, yang merupakan gelar pertama sejak 2004, sekaligus membawa timnya melangkah ke Liga Champions.

2. Gelar Kedua Di Musim Kedua

Sepertinya Allegri memiliki peruntungan yang bagus. Di musim keduanya bersama Milan, gelar juara kembali didapatnya. Kali ini adalah Piala Super Italia dengan mengalahkan FC Internazionale di Stadion Nasional Beijing. Namun, di akhir musim, Milan pada akhirnya hanya bisa gigit jari. Gelar scudetto, Coppa Italia dan Liga Champions gagal didapatkannya. Manisnya bulan madu bersama Milan mungkin sudah berakhir.

3. Perpanjangan Kontrak Pertama

Kontrak baru hanya diberikan kepada pemain atau pelatih bila manajemen puas dengan kinerja yang ditunjukkan. Allegri mendapatkannya pada 13 Januari 2012, yang berarti manajemen Rossoneri puas dengan kinerjanya. Perpanjangan kontrak tersebut membuatnya semakin bersemangat untuk memberikan yang terbaik untuk Milan, tapi hingga berakhirnya era tersebut, tak ada lagi gelar yang dipersembahkannya.

4. Kepercayaan Milan

Di awal musim 2012/13, Milan hanya bisa meraih delapan angka dari tujuh partai, yang membuatnya berada di lingkaran spekulasi bakal dipecat dalam waktu relatif dekat. Namun, manajemen Milan menegaskan kepercayaan mereka terhadap Allegri. Kepercayaan tersebut berbuah manis di mana sempat menduduki peringkat 16, namun mengakhiri musim di peringkat tiga dan lolos ke Liga Champions.

5. Promosikan Pemain Bagus

Allegri meninggalkan Milan dengan sejumlah peninggalan, di antaranya pemain muda berbakat yang dipromosikannya masuk ke tim utama. Sebutlah Stephane E Shaarawy, juga Mattia De Sciglio. Pemain ini kini menjadi barisan pemain inti untuk Milan, termasuk di era Inzaghi.

Ikuti Muhammad Yanuar di

addCustomPlayer('k7utgr4os0yd1grp4y3npwrlj', '', '', 620, 540, 'perfk7utgr4os0yd1grp4y3npwrlj', 'eplayer4', {age:1407083307651});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics