SPESIAL: Sepuluh Momen Terbaik Frank Lampard Bersama Chelsea

Lampard memutuskan mengakhiri musimnya bersama Chelsea dan akan menjajal petualangan baru lagi di klub lain.

Oleh Taufik BagusUsai sudah petualangan Frank Lampard bersama Chelsea. Dinihari tadi, gelandang veteran Inggris tersebut mengumumkan akan meninggalkan klub London tersebut.
Masih belum jelas di mana ia akan bermain, tapi gencar dispekulasikan kompetisi MLS di Amerika Serikat akan menjadi pelabuhan berikutnya Lampard.
Terlepas dari hal tersebut, Lampard bisa dikatakan sudah menjalani musim yang luar biasa bersama Chelsea. Selama 13 musim, beragam gelar berhasil dipersembahkan.
Tak hanya itu saja, kontribusinya untuk Chelsea juga terbilang luar biasa. 208 gol dan 152 assists adalah salah satunya.
Tak salah jika kemudian banyak yang menyebut keponakan Harry Redknapp tersebut sebagai legenda Chelsea. Michael Ballack adalah salah satu yang menyebut demikian.
Bukan berlebihan, Lampard memang menjalani musim yang fantastis. Goal Indonesia punya catatan spesial mengenai Lampard selama 13 musim berada di Stamford Bridge.

Momen bersejarah itu terjadi pada 2001. Pada saat itu Lampard hijrah dari West Ham United. Chelsea menghabiskan 11 juta poundsterling untuk mendapatkannya.
Lampard langsung menjawab kepercayaan dengan rentetan gol dan assists. Di musim pertamanya, ia melesakkan lima gol, pun demikian di musim kedua dan jumlah terus terus bertambah. Di akhir 2006, ia sudah melesakkan 16 gol di ajang Liga Primer Inggris.
Pada 2004, Lampard akhirnya bisa mencuri perhatian fans The Blues, yang membuatnya dinobatkan sebagai Pemain Terbaik tahun tersebut.

Untuk pertama kalinya dalam 50 tahun, Chelsea bisa meraih titel Liga Primer Inggris dan Lampard memegang peran penting atas sukses itu.
Pada April 2005, dua gol melawan Bolton di Reebok Stadium menjadi penentu sukses tersebut, yang menjadikan perolehan angka Chelsea tak bisa dikejar lagi oleh rival mereka.

Sejak bergabung dengan Chelsea dan menghadapi Leicester pada 2001, Lampard terus bermain untuk Chelsea dan akhirnya bisa mengakhiri rekor tampil beruntun David James.
Sebelum dihentikan oleh virus flu saat Chelsea menang 1-0 atas Manchester City, Lampard mencatat 164 penampilan beruntun. Di akhir musim, Lampard melengkapi catatan suksesnya dengan gelar juara di tangan pada musim 2005/06.

Pada pertengahan musim 2008, Lampard mendapat cobaan dengan meninggalnya sang ibunda tercinta di usia 58 tahun karena pneumonia. Karena momen berduka ini, ada kekhawatiran ia bakal absen di laga melawan Liverpool pada leg kedua semi-final Liga Champions.
Kekhawatiran itu ditepis Lampard. Ia tampil menjanjikan dan membawa timnya ke final lewat tendangan penaltinya di masa perpanjangan waktu. Sayang, saat itu ia gagal memberikan gelar.

Pada 2009, Chelsea berhadapan dengan Everton di final Piala FA. Chelsea sempat dikejutkan oleh gol Louis Saha, yang menjadikan Chelsea dalam posisi tertekan.
Namun Chelsea bisa bangkit dan Lampard menjadi motor pembangkitnya, sekaligus memastikan gelar kelima Chelsea di ajang Piala FA, atau gelar kedua dalam tiga tahun, dengan golnya di menit 72.

Rangkaian sukses Lampard terus berlanjut. Gol demi gol terus tercipta seiring bertambahnya jumlah penampilannya bersama Chelsea.
Di laga ke-400, saat melawan Stoke City, ia mencetak gol penentu kemenangan 2-1 Chelsea di masa injury time. Beberapa hari kemudian, ia kembali melakukan hal yang sama saat melawan Ipswich di babak keempat Piala FA.

Melawan Aston Villa pada Maret 2010, Lampard sukses melampaui catatan rekor gol terbanyak Chelsea yang sebelumnya dicatat Roy Bentley dan Peter Osgood.
Chelsea meraih kemenangan besar 7-1 di Stamford Bridge dengan Lampard melesakkan empat gol di laga ini. Sekarang koleksi Lampard sudah 208 gol, mengungguli torehan Bobby Tambling dengan 202 gol.

Kerap disebut tampil angin-anginan dalam beberapa musim terakhir, Lampard tetaplah pemain yang konsisten memberikan kontribusi penting buat timnya.
Buktinya, pada September 2011, Lampard tak dimainkan melawan Swansea, tapi diturunkan saat meladeni Valencia, di mana ia mencetak gol untuk mengubah skor final menjadi 1-1.
Saat melawan Bolton di Reebok Stadium beberapa hari kemudian, tiga gol dilesakkan Lampard di mana Chelsea menang 5-1.

Lampard beruntung. Hampir semua trofi juara berhasil diangkatnya, termasuk si kuping lebar Liga Champions.
Pada 2012, setelah sempat menjalani periode sulit, Chelsea melangkah mantap ke final Liga Champions untuk menghadapi Bayern Munich di Allianz Arena.
Lampard yang bertindak sebagai kapten di laga itu bisa memaksakan hasil imbang hingga babak perpanjangan waktu, yang membuat laga harus dituntaskan dengan adu penalti. Lampard maju sebagai algojo dan menjalankan tugasnya dengan baik dan begitu juga sejumlah rekannya. Bersama John Terry, Lampard akhirnya bisa mengangkat trofi juara Liga Champions.

Kami memberikan satu slot spesial untuk pembaca Goal Indonesia menyampaikan momen spesial Lampard sepanjang 13 musim di Chelsea, dengan mengisi kolom komentar yang ada di bawah ini. Sampaikan opini Anda.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics