SPESIAL: Tim Krul & Kisah Adu Penalti Heroik Piala Dunia Lainnya

Topics

Kegemilangan Tim Krul dalam adu penalti melawan Kosta Rika akan terus tercatat dalam sejarah Piala Dunia seperti empat kiper berikut ini.

OLEH SANDY MARIATNA Ikuti di twitter
"Itu adalah hal yang saya impikan sejak saya masih kecil – memiliki momen di mana Anda membuat penyelamatan krusial dan semua pemain lari menghampiri Anda.”

Demikian seorang Tim Krul menceritakan sensasi pengalamannya menjadi kiper pertama dalam sejarah Piala Dunia yang dipersiapkan dan dimasukkan khusus untuk menghadapi adu penalti. Dan hasilnya terbukti sukses. Berkat kepiawaian Krul, Belanda sanggup mempecundangi Kosta Rika dalam drama adu penalti di babak perempat-final Piala Dunia 2014, Minggu (6/7) pagi WIB.

Saat laga sepanjang 120 menit hampir dipastikan berakhir 0-0, kiper milik Newcastle United itu dimasukkan pelatih Louis van Gaal satu menit sebelum peluit panjang dibunyikan untuk menggantikan Jasper Cillessen. Hal istimewa lalu terjadi di saat adu tos-tosan. Krul berhasil menepis tendangan Bryan Ruiz dan Michael Umana yang berujung pada kemenangan Oranje dengan skor 4-3. Lebih istimewa lagi, sejatinya Krul sukses menebak arah kelima eksekutor Ticos meski tetap kecolongan tiga gol.

Lucunya, Cillessen, sang kiper utama, tidak diberi tahu bakal ada taktik pergantian seperti ini. Sebelumnya, Cillessen terbukti selalu gagal menebak arah di dua kesempatan penalti ketika Xabi Alonso (Spanyol) dan Mile Jedinak (Australia). Mungkin ini menjadi salah satu pertimbangan Van Gaal memilih berjudi menurunkan Krul. Di satu sisi, Belanda juga memiliki analis video di jajaran staf kepelatihan mereka yang selalu memberi masukan berdasarkan rekaman pertandingan, termasuk soal penalti.

Di titik inilah Van Gaal berhasil mematahkan anggapan adu penalti adalah adu untung-untungan. Namun, apresiasi tertinggi tetap lebih pantas disematkan kepada Krul yang di momen tersebut juga sempat melakukan permainan pikiran dengan para penendang penalti Kosta Rika. Dialah faktor kunci kelolosan negaranya ke semi-final di mana mereka akan ditantang Argentina pada Kamis (10/7) dini hari WIB mendatang.

Goal Indonesia ingin berkisah tentang kisah kiper heroik serupa lainnya di babak adu penalti yang terjadi di Piala Dunia sebelumnya. Perlu diingat, fokus laga-laga yang dicantumkan di bawah ini ditentukan berdasarkan penyelamatan gemilang sang penjaga gawang. Hingga saat ini, tercatat sudah terjadi 25 kali adu penalti sepanjang sejarah Piala Dunia, namun hanya lima di antaranya -- termasuk Belanda-Kosta Rika -- yang ditentukan oleh tangkisan sang kiper. Simak!

Sebagai juara bertahan, Argentina melangkah ke Piala Dunia 1990 dengan kepercayaan diri tinggi, termasuk memboyong kiper utama mereka, Nery Pumpido. Sayang, Pumpido patut dikambing hitamkan atas kekalahan mengejutkan di laga pembuka grup kontra Kamerun karena gol semata wayang Francois Omam-Biyik merupakan buah kesalahannya. Kesialan Pumpido berlanjut di laga kedua melawan Uni Soviet setelah ia mengalami patah kaki di awal pertandingan.

Di saat Pumpido jatuh, tiba-tiba Sergio Goycochea, sang kiper cadangan Albiceleste, muncul sebagai pahlawan. Tak disangka, Goycochea -- yang ironisnya juga merupakan deputi Pumpido ketika masih di River Plate dan sudah delapan bulan tidak mendapatkan kesempatan bermain -- menjadi seorang one hit wonder di turnamen. Goycochea menjadi pilihan utama Carlos Bilardo seiring Argentina terus melaju hingga final.

Dalam perjalanan ke final itu, kontribusi Goycochea layak dikenang. Ia menjadi pahlawan dalam babak adu penalti di perempat-final kontra Yugoslavia dan di semi-final melawan tuan rumah Italia. Total, El Goyco menyelamatkan empat eksekusi penalti dalam dua adu penalti tersebut, yakni masing-masing menggagalkan dua penendang terakhir Yugoslavia dan Italia. Sayangnya di partai final melawan Jerman Barat, Goycochea gagal membendung penalti Andreas Brehme di menit 85 yang menjadi satu-satunya gol di laga tersebut.

20 tahun lalu di Amerika Serikat, perempat-final Piala Dunia 1994 antara Rumania dan Swedia menghadirkan salah satu laga dongeng Piala Dunia. Ketika itu, Swedia, yang tidak diunggulkan dan mendapat pesimisme dari publik sendiri, berada di ambang kelolosan menuju semi-final pertama sejak 1958 ketika Tomas Brolin memecah kebuntuan di menit 78.

Sayang, Rumania mampu menyamakan skor di menit 88 sebelum berbalik unggul di babak perpanjangan waktu. Segalanya tampak buruk bagi Swedia ketika mereka kehilangan satu pemain akibat kartu kuning kedua. Akan tetapi Kennet Andersson sukses menyamakan skor menjadi 2-2 lewat sundulannya sehingga laga terpaksa dilanjutkan melalui babak adu penalti. Namun, kisah dramatis belum berakhir.

Di babak adu tos-tosan itu, kiper Swedia Thomas Ravelli yang tadinya tak begitu dikenal tiba-tiba menjadi pahlawan nasional. Ia mampu menyelamatkan dua sepakan pemain Rumania, Dan Petrescu dan Miodrag Belodedic, sehingga Swedia menang 5-4. "Sejenak saat itu juga, saya merasakan dunia berhenti. Masa lalu dan masa depan seolah-olah tidak ada," demikian Ravelli yang saat itu berusia 34 tahun mendeskripsikan momen dua penyelamatan yang menjadikannya sebagai legenda sepakbola Swedia.

Publik Brasil tentu tidak pernah melupakan jasa Claudio Taffarel ketika mereka menjuarai trofi Piala Dunia keempat di Amerika Serikat 1994 melalui adu penalti kontra Italia. Ketika itu, tiga eksektuor penalti Azzurri gagal menunaikan tugasnya. Salah satunya adalah penendang keempat Daniele Massaro yang berhasil ditepis Taffarel sebelum akhirnya tembakan penentu Roberto Baggio melebar.

Atas prestasinya itu, Taffarel pun masih dipercaya di Prancis 1998 ketika Selecao juga masih difavoritkan untuk mempertahankan juara. Namun, performa Taffarel sedikit merost di fase grup hingga babak perempat-final sebagaimana ia sudah kebobolan enam gol. Ia pun dipandang sebelah mata kala itu. Untungnya, Brasil tetap sanggup menang dan terus melaju ke partai semi-final saat melawan Belanda.

Di partai inilah Taffarel menunjukkan kepiawaiannya. Seakan ingin membayar kesalahannya di menit 87 -- ketika Patrick Kluivert menyamakan skor untuk mencegah Brasil melaju mudah ke final -- Taffarel tampil heroik di babak adu penalti. Dua tembakan terakhir dari Oranje yang dieksekusi Phillip Cocu dan Ronald De Boer, berhasil ia patahkan. Brasil pun menang dengan skor 3-2. Sayang, di partai puncak Taffarel kebobolan tiga gol dari Prancis sehingga mereka harus merelakan gelar kepada sang tuan rumah.

'Contekan ala Lehmann.' Begitu publik mengingat-ingat kisah heroik Jens Lehmann saat tuan rumah Jerman menghadapi Argentina di partai perempat-final Piala Dunia 2006. Ya, Lehmann dielu-elukan publik Jerman berkat dua penyelamatannya terhadap sepakan Roberto Ayala dan Esteban Cambiasso pada adu tos-tosan yang berakhir dengan kemenangan Jerman 4-2 (setelah bermain 1-1 di waktu normal).

Yang menjadi menarik adalah, keberhasilan Lehmann menggagalkan dua penalti tersebut bukanlah murni spekulasi, melainkan berkat contekan kertas di kaus kakinya! Ternyata Lehmann dan pelatih kiper Andreas Koepke telah mempelajari kebiasaan eksekusi para penendang Argentina dalam dua tahun terakhir. Untuk mengingatnya, Lehmann mencatatnya pada selembar kertas dan menyelipkannya ke dalam kaos kaki.

Meski catatan yang ditulis dari pensil tersebut terlihat kurang jelas karena basah oleh keringat, tetap saja informasi tersebut sangat berguna bagi Lehmann. Jerman pun melenggang ke semi-final. Ini adalah kali pertama sebuah tim menerapkan studi analisis data dalam menghadapi adu penalti. Lehmann sendiri mengakui bahwa dirinya adalah seorang penggemar statistik dan teknologi. Pantas saja!

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics