Tak Ada Kompetisi, Eks Kiper Persija Jakarta Jadi "Masinis" Mainan Odong-Odong

Galih tidak pernah malu melakoni pekerjaannya saat ini demi menghidupi keluarganya.

Vakumnya kompetisi di Indonesia membuat para pesepakbola harus memutar otak mereka guna menghidupi keluarganya. Apalagi, bagi mereka yang hanya mengandalkan penghasilan dari bermain sepakbola. Mantan kiper Persija Jakarta, Galih Sudaryono, misalnya.

Ya, Galih sampai rela untuk menjadi "masinis" sebuah kereta mini sejenis mainan odong-odong di sekitar tempat tinggalnya di Karanganyar, Jawa Tengah. Pekerjaan itu dia lakoni dalam beberapa bulan terakhir, lantaran tidak ada kompetisi.

Sebenarnya, mantan penjaga gawang timnas Indonesia U-23 ini pernah ditawari bermain di Persis Solo untuk Piala Kemerdekaan. Namun, Galih takut nantinya dirinya terkena sanksi dari PSSI bila menerima tawaran itu. Menyusul, PSSI sudah menyatakan bakal menghukum klub dan pemain yang ikut serta dalam turnamen bentukan Tim Transisi itu. 

Kini, dalam mencari penghasilan Galih harus berpindah dari bazar satu ke bazar lainnya. Dengan seperangkat kereta mini yang digerakkan tenaga listrik, dia harus menggaet anak-anak untuk bermain, bersaing dengan aneka wahana permainan lain di arena bazar.

Bicara soal penghasilan, tentu saja jauh lebih kecil dari apa yang didapatkannya sebagai pesepakbola profesional. Belum lagi, dia harus membagi uang yang diperoleh dengan pemilik mainan tersebut, yang merupakan kawan dekatnya. 

"Tarif naik kereta mini ini hanya Rp5 ribu per anak," kata Galih, seperti dikutip dari Tempo.co. 

"Saya tidak pernah malu melakoni pekerjaan ini. Sembari mengisi waktu dalam menunggu kompetisi dimulai lagi," tegas mantan kiper Pusamania Borneo FC ini.

Meski begitu, Galih tetap berusaha menjaga kondisi fisiknya dengan rutin lari pagi maupun sekadar ikut bermain di sebuah tim sepakbola kampus dekat rumahnya.