Takut Diciduk, Sepp Blatter Enggan Tinggalkan Swiss

Pria berusia 79 tahun ini menegaskan dirinya tidak terlibat dalam skandal korupsi FIFA, namun ia mengaku enggan berpergian ke luar negeri.

Presiden FIFA Sepp Blatter mengungkapkan dirinya tidak ingin meninggalkan negaranya, Swiss, karena ingin menghindari kemungkinan ditangkap oleh pihak berwajib.

Badan tertinggi sepakbola dunia itu sedang menjadi pusat perhatian setelah terlibat dalam skandal korupsi masif. Pada akhir Mei lalu, sebuah investigasi yang dipimpin FBI menangkap 14 pejabat tinggi FIFA atas tuduhan suap di tahun 1991. Tak hanya itu, pihak berwajib Swiss saat ini juga sedang melakukan penyelidikan terhadap proses voting tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022.

Blatter sendiri tidak terseret dalam kasus tersebut, namun ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden FIFA setelah terpilih kembali dalam pemilu pada awal Juni lalu. Saat ini, Blatter masih bertugas di kantor FIFA sebagai presiden sambil menunggu pemilu berikutnya.

Sembari terus menampik tuduhan yang menyebut dirinya korupsi, pria Swiss berusia 79 tahun ini ternyata juga membeberkan bahwa ia takut diciduk pihak berwajib di luar negeri sebagai alasan untuk tidak menghadiri final Piala Dunia Wanita 2015, Minggu (5/7), di Kanada yang dimenangi oleh timnas putri Amerika Serikat.

“Bukan karena orang-orang Amerika punya sesuatu konkret untuk melawan saya, tetapi karena penahanan saya nanti bisa menimbulkan kehebohan publik. Sampai semuanya benar-benar jelas, saya tidak ingin mengambil risiko pergi ke luar negeri,” tutur Blatter kepada Welt am Sonntag.

“Setelah ‘tsunami’ tersebut, saya butuh waktu untuk memulihkan diri. Meragukan diri sendiri adalah musuh terbesar dari seorang pemimpin, namun saya yakin dengan apa yang saya lakukan. Saya tidak berminat untuk menjadi kandidat [presiden] lagi. Tetapi saya hadir di sini untuk bertarung, bukan demi diri saya sendiri, tetapi demi FIFA.”

“Kritik-kritik tersebut tidak melukai saya. Saya takut ada orang-orang yang ingin menghancurkan FIFA. Setiap orang punya rasa takut, misalnya takut akan kematian, tetapi saya tidak punya rasa takut dengan apa yang saya kerjakan di FIFA,” serunya.

 

Topics