Terima Kasih Louis Van Gaal, Kau Pergi Meninggalkan Fondasi

Topics

Van Gaal boleh saja dicap gagal, namun sebenarnya ia mewariskan struktur yang kuat yang berpotensi membangkitkan kejayaan Manchester United.

Manchester United resmi mengumumkan pemecatan Louis van Gaal, selang beberapa hari setelah pria Belanda itu mengantar Setan Merah merebut trofi Piala FA ke-12 menyusul kemenangan 2-1 atas Crystal Palace di Wembley.

Di tengah perayaan trofi pertama semenjak ditinggal Sir Alex Ferguson, hegemoni perihal Jose Mourinho justru membayangi sebagaimana pria Portugal itu santer dikaitkan dengan pekerjaan melatih di Old Trafford untuk musim depan.

Van Gaal yang baru saja mengantar timnya menjadi juara pun kesal, dengan ia tidak menutupi hal tersebut saat menghadari sesi konferensi pers dan menunjukkan trofi yang ia raih - seolah ingin memberi bukti akan kehebatannya - kepada semua awak media.

Meski pria 64 tahun itu berniat menghabiskan sisa kontraknya yang tersisa untuk 12 bulan lainnya, namun di awal pekan menjadi jelas bahwa Mourinho akan menggantikan perannya untuk gelaran musim mendatang.

Mourinho favorit latih United

Tentu banyak pihak yang menginginkan hal itu untuk terjadi, tapi sejatinya ia meninggalkan fondasi yang tidak bisa dianggap remeh.

Seperti diketahui, Van Gaal dihadapkan dengan tugas berat untuk membangkitkan United pascaketerpurukan era David Moyes, yang di musim 2013/14 finis di urutan ketujuh, dan ia berhasil mewujudkan keinginan klub untuk lolos ke ajang Liga Champions di musim pertamanya menjabat.

Terlepas dari keberhasilan tersebut, mayoritas suporter tentu ada yang merasa kurang puas mengingat prestasi tim tidak sejalan dengan uang sebesar £150 juta yang telah dihabiskan, dan mereka menjadi marah setelah mantan juru taktik tim nasional Belanda itu kembali jorjoran di musim keduanya, yang sayangnya tidak dibarengi permainan cantik nan atraktif, selagi penjualan Angel di Maria ke Paris Saint-Germain turut disesali.

Adapun sejak diambil alih, United bertransformasi sesuai keinginannya dengan Van Gaal mencoba menancapkan filosofi yang selama ini ia yakini. Dan tak tanggung-tanggung, pemain yang menjadi kesayangan fans seperti Danny Welbeck, Rafael da Silva dan Javier ‘Chicharito’ Hernandez - yang dirasa tidak pas - ia buang, namun pujian pantas dialamatkan kepadanya karena mampu mencegah kepergian David de Gea ke Real Madrid di saat-saat terakhir bursa transfer musim panas kemarin.

Selain hal tersebut, Van Gaal mencoba memanfaatkan deretan pemain akademi yang dirasa mumpuni, dengan kesempatan bagi mereka terbuka lebar seiring banyaknya pemain tim utama yang mengalami cedera sehingga membukakan pintu kesempatan untuk tampil di panggung tertinggi.

Tyler Blackett, Paddy McNair, Andreas Pereira, Cameron Borthwick-Jackson, Guillermo Varela, Donald Love, James Weir, Timothy Fosu-Mensah sampai Marcus Rashford adalah contoh deretan pemain akademi yang ia beri kepercayaan, dengan Memphis Depay - yang masih belum teruji - dan Anthony Martial berpotensi menjadi tumpuan harapan di masa depan.

Rashford jadi bintang yang diroketkan Van Gaal

Jika ditilik dari perspektif lain, Van Gaal sejatinya sudah melakukan tugas bagus dan punya bayangan jauh ke depan - dalam hal ini ia bisa disetarakan dengan manajer Tottenham Hotspur Mauricio Pochettino, yang di musim ini mengantar timnya finis di urutan kedua, namun yang membedakan hanya soal taktik.

Di United, Van Gaal dengan gaya kepemimpinan strict melarang pemainnya untuk menembak bola di kesempatan pertama, dan hal tersebut membuat produktivitas timnya menjadi buruk karena sepanjang musim Liga Primer Inggris hanya mampu mencetak 49 gol – Leicester City, Southampton, West Ham United dan Everton bahkan memiliki catatan lebih baik.

Kekangan ala militer juga diyakini membuat para pemain United tidak senang dengan bosnya tersebut, dan beberapa bulan lalu kapten Wayne Rooney dan wakil kapten Michael Carrick sampai mendatanginya secara pribadi dengan memintanya untuk lebih kalem.

Dan di akhir pekan kemarin terlihat jelas bahwa Van Gaal mengambil jarak dengan para pemainnya saat mengangkat trofi, yang mengindikasikan adanya masalah terpendam antara ia dan tim yang ia asuh.

Perbedaan 180 derajat bisa dilihat ketika Sir Alex yang mengangkat trofi, dengan para pemain mencoba berbaur dengannya meski pria asal Skotlandia tersebut dikenal sebagai sosok yang keras.

Selama menjabat, Sir Alex terkenal berapi-api namun ia tak lupa menerapkan pendekatan kekeluargaan sehingga lebih dicintai para pemain, hal yang lantas membuat banyak pihak memberikan apresiasi tinggi.

Dalam keterangannya beberapa waktu lalu, pemain muda Pereira tak ragu menyebut Ferguson tiada duanya, bahkan ia merasa Moyes dan Van Gaal sulit untuk mereplika apa yang telah ia lakukan.

“Ferguson adalah manajer yang luar biasa,” ujarnya. “Respek yang ia dapatkan di klub ini sungguh luar biasa. Ke mana pun dia berjalan, Anda bisa merasakan respek yang ia dapatkan. Dan dia itu sangat  sederhana, jujur dan sosok yang baik.

“Dia menyalami semua orang dan ada hal yang lucu karena tiap kali ia berjalan, semua orang terdiam dan kalian bisa merasakan kehadiran besarnya. Saya takkan pernah melupakan itu, dan saya pikir itulah mengapa ini sulit bagi pelatih mana pun, bukan cuma Van Gaal atau Moyes, namun semuanya, untuk membuat perbedaan setelah Ferguson.

“Bagi saya, dia adalah manajer terbaik di dunia. Untuk bertahan di satu klub selama hampir 30 tahun adalah hal yang sangat langka, jadi ini hampir mustahil bagi setiap pelatih yang datang untuk melakukan hal yang sama seperti dia, atau mencoba berbuat lebih baik. Namun tekanan ini akan selalu ada.”

Kini Van Gaal telah pergi, dan tugas bagi manajer berikutnya adalah meneruskan apa yang ia tinggalkan. Namun siapa pun yang akan melatih The Red Devils musim depan, ia boleh berterima kasih kepada pendahulunya yang telah memberikan fondasi kuat, selagi kucuran dana melimpah menjadi fasilitas dari pihak klub untuk membangkitkan kejayaan Setan Merah.