Terlepasnya Iblis Dalam Diri Luis Suarez

Hanya berjarak semusim dari titik nadirnya, kini Luis Suarez berhasil menaklukkan puncak tertinggi sepakbola Eropa dengan merengkuh treble bersama Barcelona.

Jika ada yang paling berbahagia dalam kemenangan 3-1 Barcelona atas Juventus di final Liga Champions, Minggu (7/6) dini hari WIB kemarin, maka Luis Suarez adalah orang yang dimaksud.

“Pesaing” terdekat Suarez dalam hal sukacita ini mungkin adalah Xavi Hernandez yang menutup karier 24 tahunnya di Barca dengan raihan treble. Perpisahan yang sempurna untuk Xavi, namun juga musim perdana yang tak kalah sempurna untuk Suarez.

Padahal, bayangan merengkuh gelar La Liga Spanyol, Copa del Rey, dan berpuncak pada Liga Champions masih sangat samar ketika Suarez merampungkan transfer senilai £75 juta (€94 juta) dari Liverpool pada musim panas lalu. Penyerang timnas Uruguay ini pindah ke Camp Nou dalam situasi sangat tidak kondusif.

Ia baru saja menggigit bek Italia Giorgio Chiellini dalam laga krusial fase grup Piala Dunia 2014 di Brasil. Inisiden ini jelas menggemparkan. Suarez tak ubahnya menjadi sosok keledai. Bukan cuma karena Suarez dan keledai sama-sama bergigi maju, namun yang lebih memalukan adalah mereka punya kegemaran jatuh ke lubang yang sama. Jika keledai jatuh dua kali, maka Suarez malah jatuh tiga kali!

Bahu dari Otman Bakkal (PSV Eindhoven, 2010) menjadi korban pertama gigitan Suarez ketika ia masih berkarier di Ajax Amsterdam dan berlanjut dengan lengan Branislav Ivanovic (Chelsea, 2013) saat membela Liverpool. Seakan belum puas, Chiellini pun menjadi mangsa ketiganya. Hukuman empat bulan tak boleh bermain, skorsing sembilan laga kompetitif bersama Uruguay, dan larangan beraktivitas dalam seluruh kegiatan sepakbola menjadi sanksi yang harus ia jalani, kendati hukuman yang disebut terakhir pada akhirnya diringankan.

Dosa-Dosa Suarez | Luis Suarez berkali-kali melakukan aksi kontroversial.

Jika keledai masih belum cukup mengilustrasikan aksi bodoh Suarez ini, maka sebuah video olok-olok yang datang dari salah satu akun YouTube, 442oons, mungkin terasa lebih pas. Di sana digambarkan bahwa Suarez memiliki iblis kecil yang selalu menghasutnya untuk menggigit lawan. “Just bite it! Just bite it! [Gigit saja! Gigit saja!],” demikian bisikan sang iblis kepadanya sambil mengikuti nada dan irama “Just Beat It”-nya Michael Jackson.

Iblis akhirnya menang, membuat Suarez kembali tergoda berbuat aksi nakal tersebut. Namun, sang iblis barangkali bukan makhluk yang terpisah dari Suarez. Iblis tersebut sejatinya memiliki porsi dalam jiwa Suarez. Ia adalah setengah perwujudan sang iblis itu sendiri. Bagaimana tidak, sejak terlahir ke dunia 28 tahun lalu, Suarez selalu memiliki sisi gelap terlepas dari kemampuan sepakbolanya yang menawan.

Ia berkembang sebagai pribadi yang antisistem. Tumbuh dan besar di lingkungan sepakbola jalanan di Montevideo, Suarez seperti memelihara iblis dalam dirinya. Orang tuanya yang bercerai saat ia masih berusia sembilan tahun semakin membuat sisi psikologisnya kurang terkontrol. Ketika mengawali karier profesional di klub setempat Nacional, Suarez sempat menanduk wasit usai diberi kartu merah.

Pindah ke Eropa, sifat agresif Suarez malah makin menjadi-jadi. Selain mencetak gol demi gol untuk Groningen, Ajax, dan Liverpool, Suarez juga terus mengoleksi dosa demi dosa. Ganjaran kartu kuning maupun kartu merah menjadi sesuatu yang biasa untuknya. Itu pun belum seberapa.

Ia sempat berkelahi dengan Albert Luque, rekan setimnya di Ajax. Jangan lupa aksi kiper jadi-jadian yang dilakukannya di perempat-final Piala Dunia 2010 dengan Ghana sebagai korban kecurangannya. Hijrah ke Inggris, kontroversi terus dibuat, terutama insiden rasisme dengan bek Manchester United Patrice Evra. Lantas, semuanya berpuncak pada gigitan kepada tiga lawan yang berbeda itu.

“Rasa takut pada kegagalan membuat semuanya menjadi gelap. Logika menjauh,” tutur Suarez. Selepas pagelaran Brasil 2014, Suarez berada dalam titik terendah dalam hidupnya. Ia dihujat dan dihina habis-habisan. Banyak pihak menyarankan Suarez untuk melakukan terapi kejiwaan guna mengontrol emosinya. Namun ia bergeming, takut jika sisi agresifnya hilang sehingga mungkin akan berpengaruh pada performanya di lapangan hijau.

Perubahan nasib El Pistolero | Kepindahan ke Barcelona membuat Luis Suarez kembali berkumpul bersama keluarga istrinya dan meraih prestasi tertinggi.

Beruntung, Suarez memiliki sosok malaikat dalam diri Sofia Balbi, istrinya yang ia pacari sejak remaja dan menikah pada 2009. Sofia adalah alasan mengapa Suarez pindah ke Eropa. Pasalnya, Suarez remaja sempat ditinggal Sofia ke Eropa yang hijrah ke Barcelona bersama keluarganya pada 2003. Suarez pun bekerja keras mengejar cita-cita, menggapai sang kekasih hati sampai ke Benua Biru. Pucuk dicinta ulam pun tiba, impian Suarez tersebut terwujud sepenuhnya pada 11 Juli 2014 ketika ia resmi pindah ke Barcelona.

“Liverpool melakukan segalanya untuk menahan saya untuk bertahan. Namun, bermain dan hidup di Spanyol -- tempat di mana keluarga istri saya tinggal -- adalah impian dan ambisi saya yang sudah saya pendam sejak lama. Saya yakin, inilah waktu yang tepat,” tutur Suarez.

Itulah mengapa ketika Sofia terus membujuknya untuk melakukan terapi mental pasca insiden gigitan Chiellini, ia akhirnya mau menuruti. Ia belajar untuk menerima kekalahan dan mengatasi tekanan. Sisi negatif Suarez pun terjamah.

Meski demikian, tidak segalanya berjalan mulus. Debut kompetitif yang dinanti akhirnya hadir di El Clasico pada 25 Oktober tahun lalu, namun Suarez terpaksa bersakit-sakit dahulu. Gol-gol belum hadir sementara Barcelona tampil kurang meyakinkan di paruh pertama musim.

Dibantu pelatih Luis Enrique yang menukar posisinya dengan Lionel Messi, Suarez akhirnya kembali tajam seperti dulu. Keran gol baru lancar sejak ia “pecah telur” di La Liga melawan Cordoba pada Desember lalu. Cordoba kembali menjadi korban keberingasan Suarez sebagaimana ia mencatatkan hat-trick dalam kemenangan 8-0. Real Madrid turut terbungkam lewat gol penentunya di El Clasico jilid kedua. Bersama Messi dan Neymar, Suarez membentuk trio lini depan paling menyeramkan.

Perannya di Liga Champions tak kalah krusial. Setelah tampil bersinar melawan Manchester City di babak 16 besar, Suarez melakukan sesuatu fenomenal ketika melawan Paris Saint-Germain di perempat-final: aksi nutmeg kepada bek termahal di dunia David Luiz sebelum mencetak gol. Bukan hanya sekali, tapi dua kali.

Di final, Suarez kembali mencatatkan namanya di papan skor setelah ia sukses mengonversi bola muntah dari sepakan Messi untuk mengembalikan keunggulan Barca. Total, 25 gol dan 20 assist dari 43 penampilan bersama Blaugrana berhasil ia koleksi di musim ini. Dengan raihan treble di tangan, ia tentu tak bisa menuntut hal lebih.

“Terima kasih kepada orang-orang terkasih karena merekalah membuat saya begitu bahagia,” tulis Suarez di akun Twitter miliknya sembari mengunggah foto dirinya memegang trofi Liga Champions bersama tiga orang yang paling ia cintai, Sofia, dan anak laki-laki dan perempuannya, Benjamin dan Delfina.  

“Menjadi juara Liga Champions sungguh luar biasa, sesuatu yang hanya bisa saya impikan. Untuk memenangkan turnamen ini Anda harus menderita. Jika tidak, Anda tidak akan sukses. Saya merasakan sendiri hal itu,” tutur Suarez.

Berlin menjadi saksi perputaran nasib El Pistolero secara dramatis. Ia telah banyak menderita, ia telah banyak menggigit, ia telah banyak melakukan dosa. Namun kini, Suarez boleh terbang bebas. Ia tahu, iblis dalam dirinya sudah terlepas.

Selamat berbahagia, Luis Alberto Suárez Díaz!