Terpuruk Di Liga Champions, Pertanda Kilau Liga Primer Inggris Mulai Meredup?

Liga Primer Inggris punya potensi besar hanya bisa mengirimkan tiga wakilnya di Lga Champions mulai musim 2017/18 esok. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Pepatah klasik bertutur bahwa kehidupan bagaikan roda yang berputar. Ada masanya kita berjaya di atas, ada pula periode buruk kala kita tersungkur di bawah. Ungkapan tersebut sungguh mengena di berbagai sendi kehidupan, tak terkecuali pada olahraga terpopuler dunia, sepakbola.

Olahraga yang 'katanya' ditemukan di Tiongkok ini selalu punya acuan atau titik refrensi sejak pertama kali diolah secara terstruktur di Inggris. Eropa adalah titik refrensi itu, manakala seluruh dunia menjadikan mereka kiblat ketika bersinggungan soal sepakbola. Mulai dari struktur kompetisi, hal-hal berbau teknis permainan, sampai bahasan ringan soal tim atau pemain favorit.

Dan bila dilihat dari kacamata yang lebih kecil lagi, maka terdapat terdapat perputaran roda yang cukup kencang pada era sebuah liga di Eropa. Sejarah mengungkap bila tanda dimulainya putaran roda kejayaan dan keterpurukan sebuah liga di Eropa ditentukan oleh prestasi para wakilnya di kompetisi paling prestis antarklub Benua Biru, yakni Piala/Liga Champions.

Diawali La Liga Spanyol di era 60-an, Eredivisie Belanda di era 70-an, Bundesliga Jerman di era 80-an, Serie A Italia di era 90-an, hingga kini di era globalisasi yang kita semua tahu jadi kuasa Liga Primer Inggris.

Mari kita sepakati bahwa dimulainya era emas Liga Primer Inggris jatuh pada musim 2003/04. Kedatangan Roman Abramovich yang mengakuisisi Chelsea jadi tonggaknya. Berkat kekuatan uang tak terbatas sang taipan minyak Rusia, para bintang sepakbola dunia berdatangan dan EPL secara tegas jadi pusat perhatian khalayak sepakbola dunia, menggeser kedigdayaan Serie A Italia.

Tak lupa, di musim tersebut EPL menandai dinastinya dengan mengirim Chelsea sebagai tim pertama Inggris yang sanggup menembus empat besar Liga Champions dalam kurun dua dekade terakhir, selain Manchester United.

Sejak saat itu EPL semakin merajalela, para investor serupa Abramovich berdatangan yang diiringi persebaran permain bintang yang merata di klub-klub EPL. Kompetisi otomatis meningkat kualitasnya, semakin kompetitif dan ketat, serta membuat para penikmatnya makin ketagihan.

Dampaknya meluas pada prestasi di Eropa, terutama di Liga Champions. Sejak musim 2003/04 yang jadi titik mula hingga sepuluh musim berselang, tim-tim Inggris hanya dua kali gagal masuk babak semi-final. Mereka tujuh kali masuk final dengan tiga diantarnya sukses jadi kampiun.

Koefisien EPL terus melambung dengan selalu masuk dua besar sejak musim 2006/07 hingga musim 2014/15. Bahkan dari musim 2007/08 hingga 2011/12, EPL jadi pemuncaknya.

Namun roda nasib kini perlahan memutar EPL keluar dari dari permukaan menuju ke dasar. Kompetisi domestik mereka memang masih jadi yang terpopuler, para pemain bintang kelas satu juga masih bercokol di sana. Namun tidak dengan kisah manis mereka di kompetisi Eropa, Liga Champions terutama.

Dalam tiga musim ke belakang, EPL hanya memiliki dua wakil di babak perempat-final Liga Champions dan cuma punya satu semi-finalis. Bahkan di musim 2013/14 tak satupun wakil Inggris yang sanggup lolos dari babak 16 besar. Dampaknya posisi runner-up di koefisien UEFA yang dalam tiga musim terakhir diduduki EPL, kini jadi milik Bundesliga Jerman.

Puncaknya mungkin bisa jadi hadir di gelaran musim 2015/16 ini. Dengan diwakilkan delapan tim sekaligus di kancah Eropa (seharusnya tujuh, ditambah West Ham United yang mendapat tiket ke Liga Europa berkat gelar tim fair play), EPL menampilkan performa yang jauh dari eskpektasi.

West Ham dan Southampton mengawali kiprah buruk dengan secara mengenaskan tak lolos babak kualifikasi Liga Europa. Kini jelang matchday pamungkas Liga Champions, hanya Manchester City saja yang baru memastikan tiket ke babak 16 besar. Wakil lainnya, Manchester United, Chelsea, dan Arsenal, punya potensi yang cukup besar terhenti langkahnya di babak fase grup.

EPL bisa tergusur dari posisi tiga koefisien UEFA, seiring Serie A yang berada di peringkat empat kini tengah bangkit. Kedua liga hanya dipisahkan jarak 3,059 poin saja di klasemen. Dan bila akhirnya EPL ditelikung Serie A di akhir musim ini, maka sesuai aturan bahwa mulai musim 2017/18 Negeri Ratu Elizabeth hanya bisa mengirimkan tiga wakil saja di Liga Champions.

Mari kita telaah situasinya dari Grup B yang ditempati oleh Manchester United. Tim asuhan Louis Van Gaal diwajibkan menang di kandang pemuncak grup, VfL Wolfsburg, untuk lolos ke perdelapan-final. Karena jika hanya meraih hasil seri, maka PSV Eindhoven yang menjamu juru kunci, CSKA Moskwa, juga hanya butuh hasil imbang untuk menelikung United lantaran unggul head to head.

Beralih ke Grup F, di mana Arsenal punya kewajiban menang lebih dari satu gol saat bermain di kandang Olympiakos. Kekalahan kandang 3-2 dari sang juara Yunani di pertemuan pertama, membuat segalanya kini sulit bagi Mesut Ozil cs. The Gunners berpotensi besar tak lolos dari fase grup untuk kali pertama sejak musi 1998/99.

Terakhir di Grup G, meski jadi pemuncak grup bukan berarti Chelsea bisa nyaman melalui matchday pamungkas untuk memastikan tiket ke babak 16 besar. Lawan The Blues adalah FC Porto yang pada pertemuan pertama sukses menundukkan mereka. Do Dragao punya kewajiban menang karena Dynamo Kiev yang memenangi head to head dengan mereka hanya akan menghadapi Maccabi Tel Aviv, yang belum mendulang sebiji poin pun.

Tim asuhan Jose Mourinho sendiri sejatinya hanya butuh hasil seri untuk lolos. Namun, di tengah kondisi Chelsea yang begitu buruk musim ini, hasil imbang pun melawan Porto pun terasa meragukan.

Manchester City yang sudah memastikan kelolosan pun punya ketakutan lain, karena mereka kemungkinan hanya melenggang sebagai runner-up Grup D. Di babak gugur, The Citizens berpotensi bertemu Barcelona, Bayern Munich, atau Real Madrid, yang otomatis memperkecil peluang David Silva cs untuk sampai ke delapan besar.

Sungguh sebuah situasi yang tak strategis bukan?Situasi tersebut tak pelak membuat para aktor utama di EPL mencak-mencak, salah satunya adalah pelatih paling senior di liga tersebut, yakni Arsene Wenger. Ia menuding tim-tim Inggris di kancah Liga Europa adalah peyebab utama penurunan prestasi ini.

"Bukan hanya tim di Liga Champions yang terlibat, tapi demikian juga tim Inggris peserta Liga Europa. Kami mengalami posisi ini karena kekalahan tim peserta Liga Europa yang tidak menjalani kompetisi tersebut dengan serius," kecam Wenger, seperti dikutip Daily Star.

Sejatinya terdapat dua faktor utama yang melatari ketrpurukan EPL di Eropa, yang pertama adalah jadwal super padat dan kedua adalah motivasi ekonomi. Okelah, faktor pertama bisa sangsikan keberadaannya karena toh jadwal pada itu sudah dilakoni tim-tim Inggris selama dua dekade lebih, tanpa punya dampak signifikan pada kiprah di Eropa.

Namun motivasi ekonomi punya akar yang kuat, mengapa klub-klub EPL jadi tak terlalu serius mengejar prestasi Eropa. Para investor asing lebih tergiur keuntungan pasti yang disajikan kompetisi domestik ketimbang keuntungan tak menentu dari Eropa.

Seperti dilansir deloitte, jika di Liga Champions tim Inggris yang jadi kampiun punya potensi meraup keuntungan mencapai €140 juta, maka di EPL mereka bahkan sudah bisa menerima €100 juta dengan cuma jadi tim di berperingkat paling buncit! Jumlah itu bahkan melebihi Juventus sebagai tim paling untuk di Liga Champions musim lalu, yang hanya mendapat €89,2 juta

EPL mungkin masih bisa berjaya mengandalkan daya jual kompetisi domestiknya. Tapi siasat itu hanya akan mempercepat putaran roda ke arah keterpurukan, jika tak lagi memperhatikan kiprah di Eropa. Ingat beberapa pihak kini sudah berani berontak dengan menyebut La Liga Spanyol yang dipersenjatai Barcelona dn Real Madrid, sebagai liga terbaik di dunia.

Untuk perhitungan matematis lebih detail mengenai aturan koefisien UEFA, silahkan klik di sini.