Tuah Nomor Tujuh Dan Transformasi James Milner

Mungkin Milner belum bisa disandingkan dengan Keegan atau Dalglish, tapi posisi barunya sebagai bek kiri memberikan dimensi baru pada permainan Liverpool.

Bagi orang awam, nomor punggung tujuh dalam seragam sepakbola hanyalah angka yang menempel di bagian belakang. Ia tidak ubahnya gabungan garis horizontal dan diagonal yang diletakkan begitu saja pada punggung pemain, tanpa makna, atau cuma penanda.

Namun bagi fans Liverpool, nomor punggung tujuh memiliki sejuta makna.

Betapa tidak, No.7 merupakan angka yang menjadi simbol keberuntungan sekaligus kesuksesan Liverpool di masa lalu. Sebagian penyandang No.7 bahkan menjadi legenda klub dan memenangkan banyak gelar. Kevin Keegan, Kenny Dalglish, dan Luis Suarez pernah menyandang nomor tersebut ketika membawa Liverpool pada tangga kesuksesan.

Dalglish & Suarez, mantan penyandang No.7 di Liverpool

Jika Anda menyandang No.7, itu berarti harapan sejuta umat Kopites ditumpahkan ke pundak Anda. No.7 berarti harapan, sekaligus beban bagi yang menyandang. Kebetulan dalam dua musim terakhir, tanggung jawab itu ditumpahkan ke pundak James Milner.

Sebagai penyandang No.7, Milner mungkin belum bisa disandingkan dengan Keegan atau Dalglish. Tapi tetap saja tidak adil jika menyebutnya pemain yang buruk. Faktanya, musim lalu ia mencatatkan lima gol dan 12 assist untuk Liverpool.

Sumbangsihnya cukup besar sejak Jurgen Klopp mengambil alih kursi kepemimpinan. Bermain sebagai gelandang atau winger, Milner punya kualitas untuk membagi bola serta menusuk ke kotak. Stamina kuda dan kemampuan membaca permainan pun mendorong Klopp untuk memainkannya 28 kali di Liga Primer Inggris musim lalu.

Adapun nasibnya mulai dipertanyakan ketika Liverpool mendatangkan sederet bintang lapangan tengah ke Anfield. Jurgen Klopp seperti punya rencana untuk merapatkan barisan lapangan tengah dan Milner yang punya posisi tanggung diprediksi bakal kalah dalam persaingan dengan Georginio Wijnaldum dkk.

Siapa sangka, Milner justru berhasil mengamankan satu tempat dalam starting XI selama tiga laga terkini. Hanya saja, bukannya bermain sebagai gelandang, winger, atau striker, Milner malah mengisi posisi yang benar-benar asing baginya: bek kiri. Milner memang serba bisa, namun sektor pertahanan kiri merupakan satu hal yang nyaris tak pernah ia sentuh sepanjang karier profesionalnya.

Semua berawal dari kekalahan 2-0 kontra Burnley. Alberto Moreno tampil mengecewakan dalam laga itu dan menuai banyak kritik. Klopp juga terpaksa menelan beberapa pil pahit karena banyak yang mendesaknya untuk segera mendatangkan bek kiri baru. Namun, pria kelahiran Stuttgart itu bergeming – tak ada pembelian di tenggat bursa transfer.

Jawaban yang diberikan Klopp benar-benar mengejutkan. Dalam laga kontra Tottenham Hotspur, Moreno dicadangkan dan Milner mengisi posisi bek kiri. Bintang yang baru saja pensiun dari timnas Inggris itu terlihat kaku dalam bermain dan panik ketika lawan melancarkan serangan kilat. Milner boleh jadi mencetak gol penalti, tapi kesalahannya pula yang berujung pada gol penyama kedudukan Spurs.

“Milly bisa bermain di sana [bek kiri], terutama dalam gaya bermain yang kami pikir harus kami mainkan,” ungkap Klopp setelah laga kontra Spurs. “Full-back bukan hanya menjadi winger dalam situasi menyerang. Saya pikir ini adalah posisi yang sangat bagus untuk Milly.”

“Tentu saja, ia masih harus beradaptasi dan belajar sedikit demi sedikit – ia melakoni 500 laga, tapi tidak dalam posisi ini – kami harus melatihnya. Namun pada akhirnya, kami yakin bahwa ia bisa bermain di posisi itu, karena itulah kami tidak melakukan transfer di posisi ini untuk pemain lain. Saya tak terkejut ia bisa bermain di sana.”

Bukannya meralat keputusan, Klopp malah ngotot memainkan Milner di posisi tersebut dalam laga kontra Leicester City dan Chelsea. Milner mulai beradaptasi dan meningkatkan performanya dalam bertahan. Masih jauh dari sempurna, namun ke-serbabisa-an Milner setidaknya berhasil meminggirkan Moreno.

Sebagai puncaknya, Milner tampil memuaskan dalam kemenangan 5-1 atas Hull City. Pemain berusia 30 tahun itu memberikan dimensi baru dalam permainan Liverpool. Walau tidak cukup fasih dalam bertahan, overlap yang dilakukan Milner selalu berperan besar dalam serangan Liverpool.

Pergerakannya yang menyapu garis pinggir pun menambah lebar daya jangkau Liverpool dalam mengalirkan bola. Belum lagi stamina kuda serta visi gelandang yang dimilikinya. Tak sekadar melakukan overlap, Milner kerap kali membantu tekanan dan melakukan trackback ketika Reds kehilangan bola.

Dalam dua gol Liverpool, yakni yang dicetak oleh Adam Lallana dan Sadio Mane, tidak bisa dimungkiri pula bahwa Milner turut ambil bagian. Ia adalah sosok yang membuka ruang sekaligus memberikan bola pada Philippe Coutinho dan Lallana yang berperan sebagai arsitek dua gol tersebut secara berurutan.

Dari gelandang serbabisa yang diragukan spesialisasinya, Milner menjadi bek kiri andalan Jurgen Klopp. Kemampuan bertahannya memang masih diragukan sebagaimana kontrol buruknya berujung pada sepak pojok yang membuahkan gol untuk Hull. Namun Milner melakukan adaptasi dengan cepat dan bukan tidak mungkin performanya bakal membuat Morenot jadi penghangat bangku cadangan.

 “Itu adalah bagian dari sepakbola,” ungkap Milner tentan perubahan posisinya. “Saya punya cukup pengalaman dan tahu bagaimana rasanya. Saya telah bermain cukup banyak di posisi yang berbeda sepanjang karier saya.”

“Saya mencoba untuk belajar sebanyak yang saya mampu dan beradaptasi pada posisi ini. Saya adalah seorang pemain Liverpool dan jika saya diminta untuk melakukan sesuatu oleh manajer, saya akan melakukannya dengan senang hati demi tim ini,” tandasnya.

Sebagai penyandang No.7, murid akademi Leeds United itu memang belum bisa disejajarkan dengan Keegan atau Dalglish. Toh, nomor itu memang memiliki beban tersendiri bagi penyandangnya.

Tapi sebelum menghakimi kepantasan Milner, ada baiknya menyimak fakta berikut: sejak awal musim 2015/16, Milner terlibat langsung dalam penciptaan 20 gol Liverpool di Liga Primer (8 gol dan 12 assist), bahkan lebih tinggi dari Roberto Firmino (19), Philippe Coutinho (18), dan Adam Lallana (16).