Uji Coba Vietnam Simulasi Indonesia Menatap Thailand

Uji coba melawan Vietnam harus dipandang sebagai simulasi laga perdana Indonesia di Piala AFF 2016.

Akhir pekan ini di Yogyakarta, kota tempat waktu terasa berhenti itu, Alfred Riedl sudah harus mematangkan strategi yang akan dipakai timnas Indonesia untuk terjun ke Piala AFF 2016, bulan depan.

Uji coba melawan Vietnam harus dihadapi dengan persiapan hanya tiga hari. Setelah tim berkumpul, latihan langsung difokuskan ke aspek teknik dan taktik. Hasil uji coba akan menentukan 35 nama pemain yang akan didaftarkan Riedl sebagai skuat bayangan Piala AFF, 18 Oktober mendatang. Praktis, Riedl tak punya banyak waktu.

Namun, di sela-sela persiapan uji coba yang pendek ini, seyogyanya Riedl dan staf pelatih sempat meluangkan waktu guna memantau penampilan Thailand. Tim asuhan Kiatisuk Senamuang itu menghadapi lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Asia pada jeda internasional bulan ini. Kamis (6/10) kemarin, Thailand menyerah 3-1 di kandang UEA.

Sebagai calon lawan di pertandingan pembuka grup, hasil pertandingan melawan Thailand akan mengeset mood penampilan Indonesia di sisa turnamen. Mengingat hal itu, misi sebenarnya dalam uji coba melawan Vietnam bukanlah hasil akhir. Riedl kini dituntut sudah memiliki keputusan, taktik apa yang akan diterapkannya di Piala AFF nanti?

Kemenangan telak 3-0 atas Malaysia di Solo bulan lalu berhasil memuaskan banyak pihak. Setelah lama absen di ajang internasional, Indonesia kembali dengan hasil yang positif. Boaz Solossa menjadi bintang pertandingan, menyumbangkan dua gol dan satu assist. Sementara, Irfan Bachdim mencetak satu gol tersisa. Semangat suporter pun melambung tinggi.

Tapi, penampilan Indonesia belum sempurna. Koordinasi antarpemain belum terlihat. Para pemain jarang melakukan empat hingga lima umpan pendek berturut-turut. Positifnya, keaktifan pemain depan melakukan pressing di pertahanan membuat pemain Malaysia panik. Tiga gol tercipta berkat kepanikan lini belakang lawan. Pendeknya, Indonesia belum menunjukkan kesiapan secara taktik.

Minggu lusa, Indonesia menghadapi Vietnam, yang baru saja melibas Korea Utara, 5-2. Suporter tidak perlu mencerca penampilan tim jika nanti meraih hasil tak memuaskan. Penilaian yang sejati baru pantas dilakukan 40 hari lagi, saat Indonesia memulai turnamen. Suporter juga tidak perlu risau jika Riedl bakal lebih cenderung memanfaatkan uji coba sebagai sarana mengetes taktik defensif timnya.

Langkah itu diperlukan sebagai simulasi laga pembuka turnamen menghadapi Thailand. Harus diakui, saat ini Thailand dua langkah di depan Indonesia. Materi pemain telah jauh dikenal Kiatisuk sejak SEA Games 2013 lalu. Secara kualitas, para pemain Thailand dimatangkan liga yang lebih kompetitif dibandingkan dengan yang dimiliki Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Apalagi Indonesia mengalami sanksi pembekuan dari FIFA.

Thailand adalah tim favorit turnamen. Bermain sabar dan cerdas diperlukan jika ingin mendulang hasil positif dari juara bertahan Piala AFF itu. Sempat beredar wacana (yang sampai saat ini ternyata masih diperbincangkan publik Thailand) untuk mengirimkan tim junior ke Piala AFF, tetapi itu takkan mengurangi target tim Gajah Perang menjadi juara. 

Tim mana pun yang diturunkan, baik Kiatisuk maupun FAT (asosiasi sepakbola Thailand) mempertaruhkan gengsi di depan publik mereka untuk tetap menjadi yang terbaik di Asia Tenggara.

Thailand bukan tim tanpa kelemahan. Penampilan mereka di kualifikasi Piala Dunia mencerminkannya. Di bawah Kiattisuk, ekspektasi Thailand adalah selalu tampil menyerang, menyerang, dan menyerang. Kemampuan bertahan tim asuhan Kiatisuk tengah disorot setelah menelan tiga kekalahan dengan rekor gol 1-6.

Seperti pada pertandingan melawan UEA, para pemain Thailand dengan ceroboh membiarkanplaymaker Omar Abdulrahman leluasa mendapatkan ruang. Tidak ada penjagaan khusus sehingga gelandang kidal itu berkali-kali membelah pertahanan Thailand dengan umpan-umpan akurat. Kiattisuk seolah tak membekali timnya untuk menghambat arus serangan tim tuan rumah.

Kiattisuk juga jarang memainkan gelandang jangkar murni. Pemain senior seperti Adul Lahso masih mendapatkan panggilan, tetapi lebih banyak dibiarkan di bangku cadangan. Pemain belakang Thailand yang bersinar adalah Tanaboon Kesarat, yang ironisnya berposisi asli sebagai gelandang bertahan.

Selain kelemahan, Thailand tentu saja memiliki keunggulan sehingga dapat menjadi tim terbaik Asia Tenggara sejauh ini. Di bawah mistar, Kawin Thammasatchanan kerap memperpanjang napas tim dengan kemampuan refleksnya menangkis serangan lawan. Meski sang kiper lemah dalam mengantisipasi umpan silang.

Keunggulan utama Thailand adalah lini serang. Mereka menyimpan banyak pemain cepat yang diandalkan dari sektor sayap. Taktik serangan sayap ini terlihat dari gol Tana Chanabut ke gawang UEA. Selain itu, jangan sekali-kali meremehkan kepiawaian teknik Chanathip Songkrasin yang dapat dibilang sudah berada di level Asia.

Jadi, mari mengatur ekspektasi, bukan dosa besar jika Riedl mengusung taktik pragmatis saat menghadapi turnamen nanti.