Waspada Manchester United, Jose Mourinho Sering Blunder Di Bursa Transfer!

Topics

Kehadiran Mourinho sebagai pelatih anyar United diklaim bakal menjanjikan prestasi. Namun, sejarah mengatakan The Special One bukannya tanpa celah.

Kedatangan Jose Mourinho sebagai arsitek anyar Manchester United diyakini bakal memekarkan kembali prestasi Setan Merah, setelah sempat layu sejak ditinggal Sir Alex Ferguson. Dua gelar Liga Chaampion dan delapan titel liga domestik, menjadi bukti bahwa The Spesial One adalah prospek cerah bagi United.

Selain kualitasnya menghadirkan trofi bagi klub yang mempekerjakannya, pelatih berpaspor Portugal ini punya kharisma dan kepercayaan diri tinggi, yang mungkin tidak banyak dimiliki para pelatih lainnya. Dan, inilah tipe karakter yang mungkin dibutuhkan United untuk kembali membangun relasi publik positif setelah dihantam serangkaian hasil kurang memuaskan di tiga tahun ke belakang.

Mourinho bukannya tanpa celah. Biar pun dibilang punya kharisma yang dapat membuat pemain besar kepincut, toh sejarah mencatat banyak pula keputusannya justru meredupkan sejumlah bintang. Dan United tentu berharap sisi negatif Mourinho yang satu ini tidak menular ke tim mereka, apalagi manajemen disebut siap memberikan fulus besar untuk Mou belanja pemain.

Diego Milito ke Internazionale, Cesc Fabregas ke Chelsea dan Angel Di Maria didatangkan ke Real Madrid. Itu cuma sedikit dari deretan nama besar yang didatangkan Mourinho, tapi tak sedikit pula uang belanja yang ia hamburkan menjadi sia-sia lantaran para rekrutan anyar tampil di bawah ekspektasi.

Selama dua periode di klub London barat misalnya, ia mendatangkan beberapa pemain seperti Mateja Kezman, Jiri Jarosik dan Juan Cuadrado dengan harga yang bisa bikin orang mengerutkan dahi. Seperti yang sudah disinggung, mereka ini gagal memberikan impak besar dengan jersey Chelsea.

Pemain seperti Maniche, Marco van Ginkel dan Loic Remy juga dibilang gagal di Stamford Bridge, sementara akuisisi Papy Djilobodji seharga £2,7 juta dari Nantes pada 2015 menjadi salah satu perekrutan paling aneh sepanjang karier Mourinho.

Di Madrid juga sama, Mourinho pernah gagal memaksimalkan bakat besar. Pedro Leon dan Fabio Coentrao termasuk pemain yang namanya memudar di era Mourinho. Dan saat ia begitu dipuja tifosi Inter selama dua musimnya yang gemilang di Serie A, pelatih 53 tahun ini juga menguburkan beberapa pemain.

Mahar €13 juta yang digelontorkan klub untuk memboyong Amantino Mancini dari Roma berubah jadi bencana, demikian pula dengan David Suazo yang didatangkan setelah La Beneamata memberikan €13 juta kepada Cagliari. Inter bahkan harus perang dengan rival sekota, AC Milan, hanya untuk mendaratkan pemain yang ujung-ujungnya Cuma mencetak delapan gol dalam 41 penampilan.

Tapi, kegagalan terbesar Mourinho di Giuseppe Meazza ada pada nama Ricardo Quaresma. Inter merogoh kocek €24,6 juta untuk Porto, tapi Quaresma kemudian Cuma main 24 kali bersama I Nerazzurri.

Keputusan Mourinho yang kukuh mendatangkan Quaresma, padahal sang pemain tak diinginkan direksi klub, mungkin karena ada unsur perasaan senegara. “Saya menghormati opini mereka soal Quaresma, tapi opini saya berbeda,” kata Mou ketika akan mendatangkan Quaresma.

“Kecepatannya, kualitasnya, dan dribble-nya bisa sangat berguna dan saya sudah mengatakan ini selama berbulan-bulan.”

Tidak butuh waktu lama bagi Mourinho menyadari kekhilafannya, dan Quaresma merasa disia-siakan oleh orang yang pernah bersikeras mendapatkannya.

“Penyesalan terbesar saya adalah gabung Inter,” kata sang pemain. “Kebahagiaan dan kepercayaan diri saya dirampas. Pada satu titik saya bahkan tidak dipanggil. Saya merasa di pinggir skuat dan bangun tidur menangis ketika saya harus hadir sesi latihan.”

Mou juga kerap menyia-nyiakan bakat superstar potensial, terutama pada periode terakhirnya di Chelsea. Keputusan menjual Kevin De Bruyne ke Wolfsburg setelah ia cuma lima kali tampil sebagai starter bersama the Blues tampak seperti kebodohan terbesar Mou. Pemain asal Belgia itu rupanya tampil fantastis di Bundesliga dan kemudian dilepas ke Manchester City seharga £57 juta.

Romelu Lukaku dan, yang paling menjadi sorotan, Juan Mata termasuk di antara pemain yang kesempatannya dihalangi Mourinho. Pemain asal Spanyol bahkan perlahan disingkirkan dari tim setelah ia memenangkan Player of the Year dua tahun beruntun. Ia pun harus rela dilepas ke United dan ironisnya, Mata kini harap-harap cemas menanti masa depan karena akan reuni dengan pelatih yang pernah mendepaknya dulu.

Kemampuan Mourinho sebagai manajer tak perlu diragukan lagi dan ia punya banyak kesempatan untuk mengeruk sukses besar bersama United. Tapi, jika ia diberi kontrol penuh dalam kebijakan transfer, maka kubu Old Trafford sebaiknya menyiapkan diri dari sekarang untuk blunder-blunder di masa yang akan datang.