WAWANCARA EKSKLUSIF - Alfred Riedl: Cemaskan Ekspektasi Berlebihan Masyarakat Indonesia

Pelatih timnas Indonesia itu mengaku cemas dengan ekspektasi berlebihan masyarakat Indonesia pada kiprah Tim Garuda di Piala AFF 2016 nanti.

Timnas Indonesia bakal menjalani uji coba penting menghadapi Vietnam, sebagai persiapan mereka jelang Piala AFF 2016.

Laga yang akan dimainkan di Stadion Maguwoharjo, Yogyakarta, pada Minggu (9/10) itu tentu saja bakal menyedot banyak perhatian pecinta sepakbola tanah air.

Segala persiapan pun sudah dilakukan tim Garuda, meski tak bisa dibilang maksimal karena hanya punya kesempatan berkumpul selama tiga hari.

Tanpa banyak basa-basi, sosok humoris berusia 66 tahun itu kemudian bercerita banyak mulai dari persiapan tim asuhannya hadapi Vietnam hingga kecemasannya pada eksepktasi tinggi masyarakat Indonesia di Piala AFF 2016.

Apa yang Anda inginkan dari uji coba menghadapi Vietnam?

Kami mencari lawan untuk dihadapi. Sebelumnya, kami memiliki Malaysia dan mereka datang ketika kami tidak dalam kondisi yang baik, tanpa persiapan. Walau begitu kami sanggup menang 3-0. Namun kami tidaklah sekuat kelihatannya dan lupakan hasil itu. Sekarang kami menghadapi Vietnam dan persiapan kami juga masih belum bagus.

Duel melawan Vietnam ini segalanya soal persiapan. Hasil tidaklah penting. Namun tentu saja, kami menginginkan hasil yang positif. Terpenting adalah cara kami dalam bermain. Bagaimana pemain mampu bertransformasi terhadap latihan kecil yang kami lakukan, untuk melihat kualitas para pemain kami, untuk membandingkannya dengan tim lain.

Mengapa harus dalam format kandang-tandang?

Kandang dan tandang, kami butuh pertandingan di kandang sendiri, tapi saya berharap lebih di partai tandang. Partai kandang adalah cara yang bagus buat PSSI untuk meraup uang. Sepakbola adalah bisnis, jadi hal itu normal. Sementara di laga tandang, saya akan menemukan tim yang benar-benar berbeda dari partai kandang. Kami tak sekuat di kandang.

Kami baru benar-benar bisa mempersiapkan segalanya mulai 19 atau 20 Oktober. Saat itu kami memiliki tiga pekan waktu persiapan, termasuk untuk menghadapi uji coba melawan Myanmar pada 4 November dan duel hadapi Vietnam di Hanoi pada 8 November.

Apakah cukup hanya dengan menggelar empat partai uji coba, sebelum Piala AFF 2016 digelar?

Saya pikir cukup, karena kami juga menjalani latihan. Jika kami punya banyak partai uji coba, itu akan berefek pada berkurangya waktu latihan. Padahal bobot pertandingan uji coba dan latihan sama besarnya, untuk persiapan. Kami butuh latihan untuk memperbaiki berbagai hal yang tak Anda sadari ketika bertanding. Anda harus berlatih dahulu, karena jika tidak Anda tak mungkin bisa menghadapi laga dengan baik. Jadi, tentu saja saya pikir ini cukup. 

Apakah ada masalah dengan pembatasan kuota dua pemain per klub?

Kebijakan yang kami hadapi ini memang menjadi masalah. Ini menyulitkan kami, karena ketika kami ingin pemain A, kami tak bisa memanggilnya karena kami sudah mendapat pemain B dan C dari klub yang sama. Kebijakan ini jadi tantangan sendiri, karena membuat kami benar-benar melakukan pertimbangan untuk memanggil pemain.

Sungguh sulit, tapi kami sudah memahami dan menerimanya sejak kebijakan ini dibuat. Kami menghadapi masalah ini, menantang, dan berharap kami masih bisa menjalani turnamen yang baik. Namun masalahnya sekarang makin banyak klub yang kurang mendukung kami. Mereka ingin menjaga kondisi pemain andalannya dan berbagai alasan lainnya.

Menurut Anda siapa pemain yang akan bersinar di Piala AFF 2016 nanti?

Saya tidak punya. Jujur saja, ini tidak penting buat saya. Hal yang paling penting adalah tim ini. Jika tim bermain bagus, mungkin satu atau dua pemain akan bersinar sedikit lebih terang. Namun ketika tim tidak bermain bagus, percayalah, tidak ada yang akan bersinar.

Tidak ada satu superstar utama di tim kami, tapi kami punya banyak pemain berbakat. Mari kita lihat bagaimana penampilan mereka melawan tim yang kuat, lebih cepat, dan sudah lama bersama. Apalagi kami memiliki jeda satu setengah tahun, tanpa sepakbola.

Sepakbola seperti apa yang ingin Anda terapkan di Piala AFF 2016 nanti?

Tentu saja saya lebih suka bermain sepakbola menyerang. Tim yang menyerang memenangkan pertandingan dan pertahanan kuat akan memenangkan turnamen atau kompetisi. Jika kami punya keseimbangan yang bagus, kami tentu bisa meraih sesuatu.

Namun itu bukanlah satu-satunya pertanyaan. Hal kedua yang harus diperhatikan adalah seberapa kuat lawan ketika kami ingin melakukan apa yang kami inginkan. Mampukah kami mempraktikannya pada tim yang kuat? Apakah kami mampu? Kami masih belum tahu.

Oleh karena itu, dalam pertandingan besok melawan Vietnam akan kami lihat hasilnya karena mereka sedang berada dalam kondisi sangat bagus. Salah satu dari tiga tim terbaik di Asia Tenggara, juga favorit untuk memenangkan turnamen menurut saya, bersama dengan Thailand dan Filipina. Karena Filipina punya banyak pemain asing, sementara Thailand adalah kekuatan besar di Asia Tenggara walau mereka baru saja kalah 3-1 [dari Uni Emirat Arab].

Apakah formasi andalan 4-4-2 bakal terus Anda pertahankan?

Perlu diketahui bahwa kami tidak memainkan formasi 4-4-2, kami fleksibel. Anda harus memainkan sistem yang sesuai dengan pemain Anda. Anda tak bisa memaksakan pemain untuk bermain pada sistem yang tidak cocok dengan mereka. Namun pada prinsipnya, sekarang, kami bermain dengan formasi 4-4-1-1.

Empat pemain di belakang jika dilihat di atas kertas. Ketika pertandingan berjalan, akan ada sedikit perubahan. Itu wajar. Kami menerapkan 4-4-1-1 karena kami percaya ini adalah yang paling cocok dengan situasi kami saat ini.

Bagaimana dengan ekspektasi masyarakat Indonesia terhadap timnas di Piala AFF 2016 nanti?

Ya, ketika kami mulai, yang saya cemaskan adalah masyarakat di Indonesia berharap terlalu banyak. Mereka tidak peduli dengan kebijakan dua pemain per klub, satu setengah tahun tanpa sepakbola, mereka tidak peduli dengan kesulitan kami. Namun percayalah, kami sebenarnya ingin menang. Itu sudah pasti.

Topics