West Ham United Sukses Mengupas Mental Medioker Liverpool

Liverpool memang meraih rekor apik dalam tiga laga awal, tapi kekalahan dari West Ham menunjukkan betapa rapuhnya mental mereka di situasi terdesak.

Ketika Liverpool kalah 3-0 dari West Ham United di Anfield, banyak kritik yang dilayangkan pada Brendan Rodgers. Sebagian besar mempertanyakan pemilihan pemain dan taktik yang diterapkan oleh sang manajer. Joe Gomez misalnya, dipasang sebagai bek kiri yang bukan posisi naturalnya, atau Philippe Coutinho yang gagal bersinar karena dimainkan melebar atau Dejan Lovren yang “banyak gaya”.

Tidak ada yang salah dari kritik tersebut. Gomez memang tidak seharusnya bermain sebagai bek kiri. Coutinho tidak bisa bermain melebar karena nalurinya selalu menuntut pergerakan menusuk lewat tengah. Belum lagi Lovren masih inkonsisten dan terlampau percaya diri walau baru mencatatkan tiga clean sheet – dan double stepover!

Namun lebih dari segalanya, masalah Liverpool bukan sekadar masalah taktik. Hal tersebut jelas terlihat dari tiga pertandingan mereka sebelum kalah dari The Hammers. Walau banyak pemain yang dimainkan di luar posisinya, The Reds terus menekan dan menciptakan peluang demi peluang sekalipun menghadapi ancaman dari Arsenal. Optimisme terlihat jelas dari pergerakan berdedikasi dari setiap pemain.Namun hal tersebut tidak terlihat akhir pekan lalu, ketika The Reds tertinggal oleh gol cepat Manuel Lanzini.

Tahulah kita, masalah utama Liverpool ialah mental medioker yang sudah menghantui mereka sejak 10 tahun lalu.

Terutama sejak Rodgers menjabat, sangat jarang kita menyaksikan Liverpool mampu membalikkan ketertinggalan. Setiap kali The Reds kebobolan duluan, mereka kesulitan bangkit dan permainan mereka menjadi kacau. Keajaiban Istanbul – di mana Liverpool kalah 3-0 di paruh pertama kontra AC Milan, tapi mampu menang pada akhirnya – tidak pernah terjadi lagi.

Dalam 40 situasi tertinggal yang dialami Rodgers sejak ia menjabat manajer, Liverpool hanya mampu meraih 36 poin. Itu berarti mereka hanya meraih rata-rata 0,90 poin per laga ketika kebobolan lebih dulu. Catatan ini jelas kalah jauh dari Chelsea. The Blues setidaknya mencatatkan 48 poin dari 32 situasi tertinggal sejak Agustus 2012 (rata-rata 1,5 per laga).

Momen yang masih segar dalam ingatan kita ialah kekalahan 2-1 dari Manchester United di Anfield. The Reds tertinggal oleh dua gol Juan Mata, lalu mereka kesulitan menciptakan peluang sekalipun United tidak memarkir bus. Lini tengah yang dipimpin Jordan Henderson terlihat kacau balau, diperparah dengan masuknya Steven Gerrard yang langsung dihadiahi kartu merah.

Situasi chaos seperti itu kembali terlihat di Anfield akhir pekan lalu. Liverpool sebenarnya tampil menjanjikan di menit-menit awal pertandingan. Mereka bahkan tekun menekan pertahanan West Ham. Hanya karena kelengahan Joe Gomez dan Dejan Lovren, Lanzini berhasil mencuri posisi dan mencetak gol cepat ke gawang Simon Mignolet.

Mungkin para fans yang hadir di Anfield bakal berpikir, “Tenang, baru satu gol!” namun sepertinya tidak begitu dengan para pemain. Setelah dibobol oleh Lanzini, pasukan Rodgers kesulitan menciptakan peluang. Tidak terlalu banyak risiko yang diambil dan tusukan yang tercipta. Hanya James Milner yang terlihat ingin menang, pemain lainnya sekadar memutar-mutar bola dan berharap keajaiban tercipta dari Coutinho, namun sang playmaker sendiri terlihat kesulitan.

Situasi buntu ini ternyata memengaruhi segenap skuat Liverpool. Gomez tidak lagi bermain aman dan coba membantu lini serang, tapi justru ia dieksploitasi karena terburu-buru dalam mendistribusikan bola ke depan. Lovren terlalu percaya diri, sampai-sampai maju ke depan dan melakukan aksi individual yang sukses memperdaya dirinya sendiri. Terakhir, Coutinho terpancing emosi dan melakukan pelanggaran fatal yang membuatnya diusir dari lapangan.

Ketika peluit panjang dibunyikan, West Ham menang 3-0 atas Liverpool. The Hammers sekaligus mengakhiri rekor tak pernah menang di Anfield dalam 52 tahun terakhir. Slaven Bilic tentu bisa tersenyum lebar karena strateginya sukses mempermalukan satu lagi klub besar setelah Arsenal.

Di sisi lain, Rodgers, segenap skuat Liverpool, dan para fans justru berandai-andai. Seandainya situasi berbeda dan Jordan Henderson turun sebagai kapten, tentu hasilnya takkan sama. Seandainya Coutinho tidak diusir keluar, tentu Liverpool meraih kemenangan. Seandainya Lovren tidak melakukan kebodohan, tentu The Reds bakal bangkit.

Berandai-andai memang sungguh menyenangkan, tetapi tidak mengubah hasil akhir. Rodgers sadar kalau keputusan yang ia ambil adalah salah. Para fans juga sadar akan kesalahan sang manajer dalam menempatkan pemain. Tapi sekadar membenahi taktik tidak akan mampu menyelesaikan masalah Liverpool secara menyeluruh.

Segenap skuat Liverpool harus sadar kalau mereka masih memiliki mental yang lemah. Mereka harus mengkaji ulang filosofi permainan mereka. Setidaknya dari laga kontra West Ham, mereka harus meneladani Danny Ings dan Milner yang terus mencoba menciptakan perbedaan sekalipun tertinggal tiga gol, bukan hanya memasrahkan keajaiban pada Coutinho.

Tanggung jawab ada pada Brendan Rodgers. Dua pekan lagi, Liverpool bakal berkunjung ke markas Manchester United dan laga tersebut bakal jadi tonggak penting bagi sang manajer. Jika memang The Reds masih gagal membenahi mental – dan tersingkir dari perebutan gelar sejak dini – mungkin tidak ada salahnya mengundang Mario Teguh.

Topics