Yasuhito Endo, Xavi Hernandez Dari Jepang

Walau usianya sudah 36 tahun, peran Endo sebagai gelandang utama sekaligus kapten belum tergantikan di Yokohama.

Jelang laga semi-final Levain Cup antara Yokohama F Marinos dan Gamba Osaka, sosok Yasuhito Endo bisa dikata sebagai yang paling menonjol. Betapa tidak, gelandang Jepang itu berhasil mempertahankan kualitas penampilannya di senja karier, bahkan disegani di kancah internasional. Gamba Osaka bahkan tidak mampu mencari pengganti sepadan untuk kapten andalannya itu.

LEGENDA GAMBA OSAKA

Lahir pada 28 Januari 1980 di Kagoshima, Endo baru mengawali karier sepakbolanya di usia 18 tahun. Ia bergabung dengan Yokohama Flugels dan melakoni debutnya di sana. Di tahun yang sama, Endo dipanggil ke timnas U-20 Jepang dan membawa Negeri Samurai finis di peringkat kedua FIFA World Youth Championship, kalah dari Spanyol.

Sejak saat itu, Endo mengalami peningkatan karier yang cukup signifikan. Dari Yokohama, ia hengkang ke Kyoto Purple Sanga dan setelah klub tersebut terdegradasi, Endo membela Gamba Osaka. Di sanalah ia bertahan hingga sekarang dan menegaskan dirinya sebagai legenda lokal.

Bintang Jepang itu menjadi sosok sentral ketika Gamba memenangkan J-League 1 pada 2005. Hebatnya lagi, ia terus memenangkan gelar demi gelar seiring waktu berlalu. Kerendahan hatinya pun mendapat sanjungan ketika ia tetap bertahan di Gamba sekalipun klub elite tersebut sempat terpeleset ke divisi kedua. Toh, Endo dkk berhasil kembali ke kasta tertinggi setahun setelahnya.

Sekembalinya ke kasta teratas, Gamba Osaka langsung mengklaim trofi juara di musim tersebut. Tak hanya itu, Endo berhasil menyabet penghargaan pemain terbaik Jepang musim tersebut. Pemain gaek itu sekaligus mendaftarkan dirinya dalam tim terbaik J-League 1 dalam delapan musim. Hingga kini, ia adalah orang pertama yang pernah terdaftar dalam tim terbaik itu dalam sembilan musim.

Di level internasional, kualitas Endo tak perlu diragukan. Ia merupakan pemain pertama yang mampu mencatatkan 152 penampilan bersama Samurai Biru dan merupakan pemain dengan caps terbanyak. Kualitasnya dikabarkan membuat Alberto Zaccheroni, mantan pelatih Jepang, berani menerapkan skema permainan tiki-taka. Bersama Makoto Hasebe, Keisuke Honda, dan Shinji Kagawa, Endo membangun lini tengah yang diwaspadai dari Piala Dunia 2010 hingga 2014.

XAVI DARI JEPANG

Yasuhito Endo juga dikenal dengan sebutan Xavi Hernandez dari Jepang. Hal ini dikarenakan kemampuan membagi bola yang ada di atas rata-rata. Endo memang memiliki visi bermain sepakbola yang impresif dan punya kreativitas menonjol untuk menciptakan ruang bagi rekan setimnya. Keunggulan dalam mengeksekusi bola mati pun membuatnya jadi sosok tak tergantikan di Gamba.

Kemampuan membaca permainan miliknya turut dilengkapi dengan pergerakan tanpa bola yang merepotkan lawan. Ketika rekannya membawa bola, Endo biasanya akan mencari ruang di garis pertahanan lawan sembari mengamati gerakan striker. Jika dirasa momen sudah tiba, ia akan menjemput bola dan maneruskannya dengan cepat. Kabarnya, kemampuan inilah yang membuat Zaccheroni ngotot untuk membawanya keluar Jepang dan berani menerapkan tiki-taka di tubuh Jepang.

Kemampuan tersebut tentu saja termanifestasi dalam capaian gol dan assistnya musim lalu. Endo berhasil menyarangkan dua gol dan lima assist di J-League 1. Secara keseluruhan, ia sudah mencetak 97 gol dan 130 assist dalam 496 penampilan di Gamba Osaka. Usia boleh saja nyaris menyentuh kepala empat, namun kualitas Endo belum tergantikan dan Yokohama F Marinos wajib mengawal ketat gelandang gaek ini jika tidak ingin diobrak-abrik.