Zlatan Ibrahimovic: Saya Akan Kembali Tulis Sejarah Di Paris Saint-Germain

Pemain Swedia itu memastikan hengkang di akhir musim, tetapi ia menegaskan itu bukan akhir perjalanannya di Parc des Princes.

Zlatan Ibrahimovic berjanji akan kembali menulis sejarah setelah era pemecahan rekornya di Paris Saint-Germain mendekati akhir

Pemain asal Swedia itu mengungkapkan, ia akan meninggalkan juara Ligue 1 Prancis di akhir musim, dengan pertandingan akhir pekan melawan Nantes akan jadi laga terakhir Ibra di Parc des Princes.

Bagaimanapun juga, itu tidak akan menjadi benar-benar akhir petualangannya di ibukota Prancis, karena klub telah memastikan bahwa ia akan kembali sebagai pelatih jika karirnya sebagai pemain telah tuntas.

Ibrahimovic yang meraih gelar juara liga bersama Ajax, Juventus, AC Milan, Internazionale dan Barcelona sebelum mengangkat empat trofi liga bersama PSG, menegaskan masa ke-emasannya masih belum berakhir.

"Saya tidak pernah melihat ke belakang karena apa yang telah terjadi adalah masa lalu," ujarnya. "Saya di sini untuk menulis sejarah. Saya melakukannya dan saya akan melakukannya lagi. Saya melihat ke depan karena jika saya melihat ke belakang, saya akan mulai berpikir dan saya tidak membutuhkan itu

“Jika saya melihat lebih jauh ke belakang, saya akan benar-benar bangga dan benar-benar bahagia karena ada banyak trofi di sana.

"Saya melakukan tugas saya dan saya melakukannya dengan baik.”

Top skor Les Parisiens’ sepanjang masa ini kembali memuncaki daftar top skor Ligue 1 musim ini - ketiga kali dalam empat musim - menjadi faktor krusial dalam keberhasilan timnya meraih juara dan menembus perempat-final Liga Champions.

Dan Ibrahimovic meyakini bahwa dia masih bagus dalam kondisi fisik, sehingga ia optimistis kembali menjalani musim yang magis

"Saya baik, saya benar-benar sangat baik. Musim ini magis, fantastis bagi saya dan bagi tim," imbuhnya. "Secara fisik, saya 100 persen, karena itulah saya mampu bermain seperti yang saya lakukan.

"Jika Anda tidak 100 persen secara fisik, sulit untuk bermain seperti yang Anda inginkan dan terutama sulit untuk melakukan performa besar. Tahun ini, saya bekerja lebih keras daripada biasanya. Saya selalu bekerja baik tetapi musim ini, saya bekerja sangat, sangat keras.

"Saya memanen buahnya sekarang dan saya sangat bahagia. Saya melakukan banyak pengorbanan dan musim ini tepat seperti yang saya inginkan.

Kegagalan menembus babak semi-final Liga Champions untuk ke-empat kali secara beruntun membuktikan masih ada yang kurang dalam PSG, tetapi Ibra menilai klubnya masih memiliki rasa lapar untuk terus bersaing meraih prestasi tertinggi di pentas paling bergengsi di Eropa itu.

"Kami semua sangat kecewa dengan eliminasi dari Liga Champions. Kami tidak pernah menjuarai kompetisi ini, tetapi kami mungkin memiliki kesempatan besar untuk mewujudkannya tahun ini. Kami ingin menjuarai Liga Champions sama seperti tim lain. Tetapi kami tidak selalu bisa melakukannya. Terkadang Anda menang, terkadang Anda kalah - itulah sepakbola.

"Semua tim yang harusnya menjadi juara tahun ini telah tersingkir. Pertama PSG, kemudian Barcelona dan Bayern Munich.

"Saya selalu mengatakan, hanya masalah waktu sebelum kami menjadi juara. Dalam momen-momen seperti ini kami harus membuat keputusan tepat tentang apa yang akan terjadi. Tidak masalah seberapa kuat tim Anda. Anda bisa menjadi yang terbaik, tidak berarti Anda akan menang. Ini hanya masalah waktu dan keputusan."

Ibra telah bermain di lima negara berbeda, memenangkan gelar liga di empat negara dengan enam klub, tetapi dia mengatakan atmosfer ruang ganti di Parc des Princes adalah yang terbaik yang pernah ia rasakan.

"Kami semua sangat akrab. Ada atmosfer luar biasa di dalam tim. Saya bermain di banyak klub, saya bertemu pemain-pemain fantastis tetapi atmosfer di sini lebih baik dari yang pernah saya rasakan, lihat dan miliki di tim-tim lain. Ini luar biasa.

"Tim sangat kuat, para pemain sangat profesional, mereka semua bekerja untuk meraih target dan tetap positif dalam situasi apapun. Para pemain ingin berkorban untuk rekan-rekan mereka. Ini adalah mentalitas kuat yang penting.

"Tidak masalah apa yang dikatakan di luar klub, di luar tim, di surat kabar...itu semua omong kosong. Apa yang ditulis adalah apa yang orang inginkan seperti apa kami, tetapi itu bukan kenyataan. Kebalikannya, itu membuat kami lebih kuat. Di antara kami, kami tertawa ketika melihat itu. Itu tidak menghalangi kami memainkan gaya kami."