10 Anak Pesepakbola Top yang Gagal Mengikuti Jejak Ayahnya

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kurang lebih begitu istilah yang menggambarkan talenta seorang anak, yang tidak berbeda jauh dari ayahnya. Tapi, jangan lupa seringkali buah juga bisa jatuh jauh dari pohonnya; yang artinya takdir sang anak berbeda jauh dari ayahnya, dan juga memiliki talenta yang berbeda.

Berada di bawah bayang-bayang kesuksesan ayah yang pernah jadi pesepakbola profesional, pernah meraih sukses dari raihan kolektif hingga individu, tidak pernah mudah bagi si anak itu sendiri. Gagal mengatasi tekanan tersebut, maka sudah dipastikan nama anak itu takkan pernah sebesar ayahnya. Begitu juga ke-10 anak di bawah ini yang gagal keluar dari bayang-bayang ayah mereka...

1. Jordi Cruyff

Siapa yang tidak mengenal nama Johan Cruyff? Ikon sepak bola dunia dan Belanda, dan seorang yang mengembangkan filosofi totalvoetball Rinus Michels. Mendiang Johan meninggalkan banyak warisan di sepak bola Eropa, khususnya di Barcelona, klub di mana ia pernah menjadi pemain dan pelatih. Pep Guardiola, manajer Manchester City, merupakan salah satu pengagumnya.

Jordi Cruyff merupakan buah hati dari hubungan Johan dengan Danny Coster. Sama seperti ayahnya, Jordi memulai kariernya di akademi muda Ajax Amsterdam. Bedanya Johan sangat sukses ketika dia bermain untuk tim senior Ajax, Barcelona, dan Feyenoord. Sementara karier Jordi tak pernah benar-benar bisa dikatakan sukses dan ia pun tidak ambil bagian penting ketika Manchester United menjuarai Premier League 1996/97.

Perjalanan karier Jordi tidak secemerlang ayahnya kendati pernah bermain untuk Barcelona dan Man United. Pria kelahiran Amsterdam, 9 Februari 1974 itu kini sibuk melatih klub Israel, Maccabi Tel Aviv.

2. Tom Ince

Jika Tom Ince tak memiliki ayah sepopuler Paul Ince, mungkin publik bisa memberikannya opini yang netral, tanpa harus membandingkanya dengan sang ayah. Pasalnya Tom memiliki bakat di posisinya sebagai penyerang sayap – posisi yang berbeda dengan Paul, gelandang bertahan.

Alhasil, perbandingan pun tak terelakkan. Tom masih malang melintang di tim-tim semenjana dalam rangka mencari kontinuitas performa. Sedangkan Paul sudah bermain untuk Man United di usia 22 tahun dan berlanjut ke Inter Milan (1995-1997) hingga Liverpool (1997-1999). Saat ini, Tom bermain untuk klub promosi Premier League, Huddersfield Town, di usia 25 tahun. Ia mungkin berdoa dan berharap Huddersfield klub yang tepat untuknya agar kariernya bisa berkembang seperti sang ayah.

Pages