Analisa

10 Bintang Piala Dunia yang Gagal Bersinar Menjadi Pemain Hebat

Kleberson

Sebelum klub-klub Premier League mengincar full-backs Kroasia, gelandang Rusia, atau bintang muda Prancis, lebih baik berhati-hatilah untuk membeli pemain yang tampil hebat di Piala Dunia.

We are part of The Trust Project What is it?

El Hadji Diouf (Liverpool)

Ada kegembiraan besar di Anfield ketika peraih penghargaan African Footballer of the Year menandatangani kontrak sepanjang lima tahun setelah tim Senegal-nya mengejutkan juara Piala Dunia, Prancis dalam pertandingan pembukaan Piala Dunia 2002. Namun dia terbukti menjadi kegagalan besar di Liverpool. Setelah menjaringkan dua gol dalam pertandingan keduanya untuk The Reds melawan Southampton, penyerang itu tidak mampu mencetak gol lagi hingga Maret 2003. 

Musim kedua Diouf di Anfield bahkan lebih buruk karena dia gagal mencetak satu gol pun untuk tim asuhan Gerard Houllier dan meludahi seorang fans dalam pertandingan Piala UEFA di Parkhead melawan Celtic. Sejak meninggalkan klub pada 2004, Diouf telah meluncurkan beberapa pernyataan pedas terhadap legenda Liverpool, Steven Gerrard dan Jamie Carragher.

Alberto Tarantini (Birmingham)

Di negara asalnya Argentina, bek kiri agresif, Tarantini memiliki reputasi karena perilaku kasarnya – dan setelah perselisihan soal gaji dengan Boca Juniors, dia menjadi pemain tanpa klub pada Mei 1978. Tapi, mengikuti jejak Tottenham Hotspur yang baru saja membeli juara Piala Dunia 1978, Ossie Ardiles, dan Ricky Villa, Birmingham City memutuskan untuk 'Tango dengan Tarantini' (sebagaimana Mirror menyebutnya) dengan mendatangkan pemain berusia 22 tahun itu dengan harga £295.000. 

Kariernya di St Andrew's (di mana dia hanya digaji £350 per minggu) mengilustrasikan gaya kasarnya dengan sempurna. Dalam satu pertemuan panas dengan Manchester United, bek berambut keriting itu menghajar Brian Greenhoff dari United. Kariernya di Blues tiba-tiba berakhir setelah dia menantang para penonton di St Andrew dan bertukar bogem mentah dengan seorang pengacau.

Vladimir Petrovic (Arsenal)

Playmaker Serbia menjadi pahlawan yang dikultuskan di Highbury setelah mau pindah ke Arsenal pada Januari 1983 (ada penundaan karena visa kerjanya), enam bulan setelah tampil mengesankan untuk Yugoslavia di Piala Dunia 1982. Dia memiliki daya magis di lini tengah The Gunners dan ‘The Pigeon’ mencetak gol yang mengesankan di semifinal Piala FA 1983 melawan Aston Villa di Highbury.

Namun manajer Terry Neill telah memutuskan pada titik itu bahwa karier Petrovic di Highbury akan berlangsung hanya empat bulan saja. Bintang asing pertama The Gunners meninggalkan jejaknya tetapi Petrovic secara reguler diparkir dalam banyak pertandingan. Sang gelandang akhirnya hengkang ke Royal Antwerp pada musim panas 1983.