10 Hal yang Perlu Kamu Ketahui dari Final Europa League 2016/17

Final Europa League 2016/17 akan mempertemukan Ajax Amsterdam dan Manchester United. Arief Hadi memberikan 10 poin yang perlu kamu ketahui tentang pertemuan keduanya di Stockholm pekan ini!

Bagi Anda fans Sevilla, mohon maaf jika saat ini tak ada lagi nama tim kesayangan Anda di final Europa League seperti edisi sebelumnya. Hat-trick trofi Europa League Sevilla telah berakhir musim ini karena partisipasi mereka di Liga Champions, dan, final kali ini akan mempertemukan dua klub bersejarah Eropa, Ajax Amsterdam dan Manchester United.

UEFA telah mempersiapkan Friends Arena yang berlokasi di Stockholm, Swedia, sebagai panggung final pertarungan Ajax dengan United yang akan berlangsung 25 Mei mendatang. Motivasi kedua tim juga tak hanya sekedar bertarung merebutkan trofi dan bonus uang, melainkan hadiah utama berupa tiket fase grup Liga Champions 2017/18.

Baik United dan Ajax sama-sama menginginkannya. United sampai merelakan posisi mereka di Premier League demi menjaga fokus di Europa League, sementara Ajax ingin langsung memulai Liga Champions musim depan dari fase grup, bukan kualifikasi jika melihat posisi akhir mereka saat ini di Eredivisie (urutan dua dan memulainya dari kualifikasi).

Ajax punya filosofi bermain ofensif dan menghibur, sedangkan United memiliki Jose Mourinho yang tahu caranya mengamankan kemenangan di momen krusial, jadi, seru untuk dinanti, bukan? Tapi sebelumnya, mari kita ketahui dulu 10 fakta menarik terkait final Europa League tahun ini...

1. Pertama bagi Setan Merah

Mencapai final bukan hal baru bagi United, namun, final di ajang Europa League merupakan kali pertama bagi mereka sejak namanya masih bernama Piala UEFA. Lumrah bagi United yang tidak pernah meraih titel Europa League karena sedianya DNA bermain mereka ada di Liga Champions, tetapi karena masa transisi yang begitu panjang pasca era Sir Alex Ferguson, fans harus menerima fakta bahwa level mereka saat ini ada di Europa League.

“Akan hebat untuk menutup musim dan berkata kami telah memenangi tiap kompetisi dalam dunia sepakbola,” ucap Mourinho seraya memotivasi timnya untuk menutup musim dengan titel Europa League. The Special One sudah berkata, raihan trofi plus tiket Liga Champions akan menutup musim United dengan status treble winners mini, setelah sebelumnya mereka meraih Community Shield dan Piala Liga.

Saatnya mengincar 'treble' bagi Jose Mourinho

Berbeda dengan United, Ajax sudah pernah memenanginya pada 1992, sehingga capaian final ini lebih bermakna di ingatan fans sepakbola Eropa akan bangkitnya kejayaan Ajax. Sudah lama mereka tak melihat Si Anak-Anak Dewa – julukan Ajax – mencapai final turnamen Eropa, setelah 21 tahun lalu mereka kalah di laga puncak Liga Champions dari Juventus, semusim setelah mereka terakhir kali memenangkannya.  Tim Ajax saat ini juga memiliki pemain-pemain bertalenta yang diorbitkan Peter Bozs.

2. Benang Merah Tersembunyi Ajax-United

Ajax dan United berasal dari negara yang berbeda, namun keduanya seperti ‘adik-kakak’ yang terpisah jauh. Dimulai dari kesamaan sejarah panjang sepakbola Eropa, hingga relasi pemain kedua tim yang mungkin belum Anda ketahui.

Di Ajax saat ini ada Bertrand Traore yang berstatus pemain pinjaman dari Chelsea, ia pernah dilatih oleh Mourinho yang memberinya debut pada September 2015 di laga Liga Champions kontra Maccabi Tel Aviv. Lalu, pertemuan Ajax dengan United membangkitkan kenangan Direktur Marketing Ajax, Edwin van der Sar, ketika ia bermain di Inggris pada periode 2005-2011. Di sana Van der Sar meraih empat trofi Premier League, dua Piala Liga, dan satu Liga Champions.

Di Ajax lah Ibra memulai kebintangannya

Itu baru dari Ajax, di United lebih banyak lagi. Daley Blind, Zlatan Ibrahimovic, dan Timothy Fosu-Mensah merupakan pemain-pemain Setan Merah yang pernah bermain di Ajax. Bahkan, Sergio Romero berteman baik dengan bek Ajax, Nick Viergever, karena keduanya pernah bersama-sama bermain untuk Feyenoord pada musim 2010/11. Sayang di laga nanti, Ibra tak bisa bermain karenca cedera.

3. Final Pertama bagi Wasit asal Slovenia

Nama-nama beken seperti Nicola Rizzoli, Wolfgang Stark, Bjorn Kuipers, dan Martin Atkinson, pernah memimpin laga final Europa League. Itu membuktikan keseriusan UEFA untuk mengangkat pamor Europa League di bawah bayang-bayang Liga Champions. Lantas, siapa itu Damir Skomina? Namanya begitu asing di telinga suporter.

Jika Anda tak begitu mengenalnya, wajar, karena ia memang baru pertama kali memimpin laga final setelah sebelumnya lebih banyak terlibat di semifinal Liga Champions atau Europa League. Skomina (40 tahun) juga pernah memimpin pertandingan 16 besar Euro 2016 lalu antara Inggris kontra Islandia, dan juga perempat final antara Wales dengan Belgia.

Wasit asal Slovenia ini akan dibantu kedua kompatriotnya, Jure Praprotnik dan Robert Vukan, yang akan bertindak sebagai hakim garis, serta wasit keempat yang berasal dari Italia, Gianluca Rocchi, untuk memimpin laga Ajax kontra United.