10 Hat-trick Terlupakan di Premier League

Fabrizio Ravanelli, Liverpool

Kumpulan pencetak tiga gol dalam satu pertandingan terbaik di sejak Premier League mulai di 1992. Kalian ingat bahkan sempat menyaksikan nama-nama yang ada di dalam daftar ini bermain? Itu tandanya Anda...... sudahlah lupakan.

Harry Kane mencetak hat-trick dalam kemenangan 4-0 Tottenham atas Stoke pada hari Minggu, dengan ketiga golnya tercipta dalam 37 menit pertama. Jadi, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengenang kembali beberapa aksi hat-trick yang terlupakan di Premier League sejak format baru pertama kali dibentuk pada 1992... 

1. Eric Cantona (Leeds 5-0 Tottenham, Agustus 1992)

Sebelum Cantona pindah ke Manchester United, pemain Prancis ini bertekad untuk membuktikan diri kepada penggemar Leeds. Dia memulai musim dengan hat-trick di Charity Shield (sekarang Community Shield) melawan Liverpool sebelum mencetak hattrick pertama dalam sejarah Premier League ketika melawan Spurs.

Dalam pertandingan yang berakhir dengan kemenangan 5-0 untuk the Whites, Leeds mencetak gol pembuka setelah kesalahan besar yang dilakukan kiper Erik Thorstvedt - dan kemudian Cantona memulai pesta golnya. Bola sundulan Justin Edinburgh  malah jatuh ke kaki Cantona, yang kemudian melepaskan tembakan yang gagal dibendung kiper asal Norwegia, Thorstvedt. Umpan David Batty disambutnya dengan sundulan untuk mencetak gol keduanya tak lama kemudian, dan gol ketiganya tidak perlu menunggu babak kedua datang; pergerakan rekannya, Lee Chapman, memberikan ruang untuk Cantona, yang melepaskan tendangan voli yang melesat melewati beberapa pemain untuk mencetak gol keempat Leeds.

Hattrick Cantona itu terasa luar biasa bagi juara bertahan yang di musim tersebut hanya finis di posisi 17. 

2. Rod Wallace (Leeds 3-3 Coventry, Mei 1993)

Naluri mencetak gol Wallace membantu Leeds meraih gelar juara liga pada tahun 1992, namun pada musim berikutnya itu menjadi penderitaan yang luar biasa. Dia dipanggil ke skuat Inggris untuk pertandingan persahabatan melawan Spanyol, tapi cedera menghentikan kesempatan debutnya, dan ia tidak pernah dipanggil oleh negaranya lagi. Selain itu, ia menjadi pemain pertama yang berhasil mencetak hat-trick di era Premier League yang gagal membawa timnya menang di musim yang sama.

Pendukung Coventry pada pertandingan itu sedang melakukan salam perpisahan ke tribun Spion Kop di Highfield Road, tetapi gagal melihat timnya meraih kemenangan meski sempat memimpin 3-1 melawan 10 pemain Leeds. Wallace awalnya mencetak gol penyeimbang sebelum Howard Wilkinson mencetak dua gol berikutnya, tapi ia kemudian melengkapi hat-tricknya di menit-menit terakhir yang membuat pendukung tuan rumah begitu emosional dan bahkan menangis.  

Sebaliknya bagi suporter Leeds, mereka menyerbu ke lapangan karena secara dramatis berhasil menghindari degradasi. Mereka sudah memastikan hal itu sepekan sebelumnya, namun setelah menyelesaikan musim tanpa sekalipun menang di laga tandang, mereka mungkin hanya merasa lega  musim itu sudah berakhir.  

3. Jan Aage Fjortoft (Swindon 3-1 Coventry, Feb 1994)

Adalah sebuah pertanyaan yang bagus untuk menebak-nebak siapa saja striker asal Norwegia yang berhasil mencetak gol di Premier League. Ada beberapa nama yang otomatis disebut: Ole Gunnar Solskjaer, Tore Andre Flo, serta nama lain yang cukup diingat: Steffen Iversen, John Carew. Lalu ada Jan Age Fjortoft, yang akan jarang disebut sebagai jawaban.

Tidak banyak hal yang bisa diingat dari Swindon dalam sastu-satunya musim mereka di Premier League, dan sementara hat-trick Fjortoft tidak seindah gol-gol Dennis Bergkamp - dia mencetaknya melalui dua tendangan penalti (disebabkan oleh pelanggaran yang dilakukan oleh pemain yang sama) dan sebuah gol jarak dekat - itu adalah momen langka dalam perjalanan The Robins yang hanya meraih lima kemenangan dalam satu musim. 

Fjortoft menjalani musim yang lumayan bagus, dengan mencetak 13 gol. Tapi tidak dengan Swindon yang terdegradasi dengan catatan kebobolan 100 gol. 

4. Fabrizio Ravanelli (Middlesbrough 3-3 Liverpool, Agustus 1996)

Boro yang saat ini dibesut Aitor Karanka pasti bahagai karena pernah merasakan jasa pemain berkelas seperti Ravanelli di lini depan mereka. Kedatangan Ravanelli di Teeside disambut dengan pemberitaan yang luar biasa, setelah ia ikut berkontribusi mengantar Juventus juara Liga Champions, dan langsung membuktikan dirinya saat melawan Liverpool yang dilatih Roy Evans.  

Dengan mengemban julukan 'White Feather' atau sai Bulu Perak, ia sama sekali tidak lembut melawan The Reds dalam laga debutnya, dengan mencetak tiga gol dalam hasil imbang 3-3 di Riverside.

Di usia 27 tahun, Ravanelli telah cukup matang dan berpengalaman sebagai seorang striker untuk mengeksploitasi lubang besar di pertahanan Liverpool. Satu gol penalti didahului dengan dua gol dengan penyelesaian lugas, dan pendukung The Boro menutup hari itu dengan menyanyikan nama Ravanelli sebagai sosok yang akan memberikan mereka gelar juara. 

Sayangnya dia tidak sebagus itu, meskipun Boro mencapai dua final piala domestik. Malahan dengan rutinnya ia mencetak gol Boro justru terdegradasi di akhir musim, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pindah dan bergabung dengan Marseille.