Top 10/50/100

10 Kisah Degradasi yang Paling Mengenaskan

Sheffield United relegated 2006/07

Dengan akan berakhirnya musim 2017/18, Jon O’Brien mengulas kisah-kisah tim yang terdegradasi dengan menyakitkan...

We are part of The Trust Project What is it?

David James pernah mengatakan bahwa degradasi adalah "satu-satunya pengalaman paling traumatis yang dapat Anda miliki dalam karier sepakbola" (dan ucapan itu berasal dari seorang lelaki yang pernah dilatih oleh Alan Pardew). 

Tentu saja kami bercanda. Beberapa tim terbiasa dengan ekspektasi terdegradasi - Derby yang putus asa terkenal harus terdegradasi pada tahun 2008 hanya 48 jam sebelum Hari April Mop, sementara Joleon Lescott mendeskripsikan degradasi Aston Villa pada 2016 sebagai “beban berat di bahu”. Biasanya mereka terdegradasi dengan wajar. 

Sementara itu tim-tim lain terjerumus ke dalam lubang keputusasaan dalam waktu sekejap...

10. Millwall (1995/96)

Beberapa tim telah merasakan terjun bebas dari papan klasemen pasca-Natal secara dramatis seperti Millwall di Divisi Utama musim 1995/96.

The Lions duduk manis di puncak klasemen pada bulan Desember sebelum bos Mick McCarthy pergi untuk menjadi manajer tim nasional Republik Irlandia. Tapi penggantinya, Jimmy Nicholl hanya bisa membawa klub ke empat kemenangan lagi dan pada hari terakhir liga, mereka membutuhkan tiga poin untuk menghindari degradasi.

Sayangnya untuk The Lions, mereka hanya bisa bermain imbang tanpa gol di kandang Ipswich dan tenggelam ke dalam posisi tiga terbawah untuk pertama kalinya di musim itu. Hebatnya, mereka hampir mengulang situasi yang sama pada musim berikutnya ketika mereka terjun bebas dari puncak klasemen pada bulan Desember hingga akhirnya bertengger di peringkat ke-14.

9. Manchester City (1995/96)

Membuang-buang waktu adalah taktik kuno - tapi umumnya tidak begitu populer bagi mereka yang sangat membutuhkan kemenangan untuk menghindari degradasi. Namun berkat miskomunikasi yang melegenda, hal itulah yang dilakukan Manchester City pada diri mereka sendiri saat pertempuran hidup dan mati pada akhir musim 1995/96.

Setelah berhasil menyamakan kedudukan setelah tertinggal dua gol melawan Liverpool, City yang saat itu berada di peringkat ke-18  (tepat di belakang Southampton dan Coventry dengan hanya berbeda selisih gol) harus berjuang demi peluang mereka untuk bertahan hidup - terlebih lagi ketika sang bos, Alan Ball tampaknya mendengar mantan timnya sedang kalah.

Ball menginstruksikan City untuk membuang waktu di menit-menit akhir dan memasukkan pemain pengganti, Quantum Niall, hingga baru mengetahui kalau skor pertandingan The Saints masih berlangsung seri. Sampai-sampai beberapa orang berlarian di lorong pemain untuk memberi tahu rekan satu timnya bahwa mereka membutuhkan hasil tiga poin. Dan akhirnya mereka tidak mendapatkannya.

Pages