10 Manajer Asing Pertama di Sepakbola Tertinggi Inggris

Dengan Arsene Wenger akan merayakan 20 tahunnya sebagai manajer Arsenal pada Kamis nanti, FFT memutuskan untuk mengenang setiap manajer asing yang pernah melatih di sepakbola level tertinggi di Inggris – semuanya. Berikut adalah 10 nama pertama... 

Di tengah kehebohan dengan banyaknya manajer bernama besar di Premier League musim ini – rivalitas Mourinho/Guardiola, kedatangan Conte, kebangkitan Klopp – diam-diam, ternyata sebuah catatan penting baru saja tercipta. Kedatangan beberapa manajer asing musim panas ini membuat sepakbola level tertinggi Inggris hingga saat ini telah mempekerjakan 50 manajer asing. 
 
Sebelum membahas mereka, mari kita luruskan dulu istilah ini. Istilah "asing" berarti mereka yang berasal dari luar Kepulauan Britania; tentu saja sudah cukup banyak sejarah orang-orang Irlandia melompat ke kerajaan ini, tetapi itu adalah kisah yang cukup berbeda. Istilah "level tertinggi sepakbola Inggris" berarti Premier League dan pendahulunya, Divisi Utama Inggris, dan juga tim nasional Inggris – Anda pasti ingat bahwa mereka juga pernah mempekerjakan manajer asing. Dan dengan "mempekerjakan" berarti seseorang yang menjadi manajer di level tertinggi Inggris, meski mereka mungkin ditunjuk sebelum klubnya promosi  (bienvenido, Aitor). Kami juga menghitung manajer sementara yang memimpin dalam jangka waktu yang cukup lama (welkom, Guus) tapi tidak dengan mereka yang hanya menjabat sebentar (scusa, Attilio). Oh, dan kami hanya menghitung manajer sekali saja – Jose Mourinho hanya dihitung satu kali dalam daftar ini meski pernah tiga kali melatih di negara ini, dengan dua kali sebagai manajer Chelsea dan sekarang bersama Manchester United.

Bagaimanapun, dan apapun yang terjadi di tempat lain, tidak diragukan lagi bahwa kehadiran 50 manajer asing ini telah memperluas sudut pandang sepakbola Inggris secara signifikan, dari dunia pra-Uni Eropa dengan formasi 4-4-2 yang kaku, steak sebelum pertandingan, minum-minum setelah pertandingan, dan ketidakpercayaan atas orang-orang asing. Mari kita mulai dari awal, ketika "Premier" adalah liga di mana Celtic dan Rangers bermain… 

1. Dr Jo Venglos (Aston Villa)

  • 22 Juli 1990 hingga 28 Mei 1991

Juli 1990, dan air mata Gazza masih belum terlalu kering. Bos Aston Villa, Graham Taylor, mengambil alih posisi sebagai manajer tim nasional Inggris; saat mengumumkan penggantinya, ketua klub, Doug Ellis, menyeringai, “Anda tahu siapa ini?” Hanya sedikit dari pers yang datang mengenali Dr. Jo Venglos, yang baru sama membawa Republik Ceska lolos ke perempat final Italia 90, dan manajer asing pertama di klub papan atas Inggris ini pun dengan cepat dibaptis dengan nama ‘Dr. Who’.

Terjadilah benturan budaya. “Ada beberapa hal saat itu yang sedikit berbeda dengan apa yang kami lakukan di Eropa tengah,” jelas Venglos setelahnya. “(Perbedaannya adalah pada) metode latihan, analisis nutrisi dan pemulihan, regenerasi, dan pendekatan psikologi untuk sebuah pertandingan.”

Jo Venglos, manajer Aston Villa

Jo Venglos, manajer Aston Villa

Termasuk juga para pemain yang tidak dapat mengerti mengapa pendinginan setelah pertandingan perlu dilakukan, dan Villa – yang baru saja finis di posisi kedua dengan sepakbola keras dan direct ala Taylor – kesulitan dan terdampar finis di posisi 17. Venglos kemudian diganti Ron Atkinson, dan sepakbola Inggris pun terus tidak mempercayai orang asing – walaupun sebetulnya, seperti diakui oleh Dwight Yorke, “Hal-hal yang ia lakukan di Villa, klub lain melakukannya tujuh atau delapan tahun kemudian.”

2. Ossie Ardiles (Tottenham)

  • 19 Juni 1993 hingga 1 November 1994

Ardiles terbiasa menjadi seorang pendobrak: hanya ada sedikit pemain dari luar Inggris yang bermain di negeri itu sebelum ia bergabung dengan Spurs pada tahun 1978. Tidak seperti mereka yang datang sebelumnya, orang Argentina ini mencatat kesuksesan, menghabiskan satu dekade di White Hart Lane sebelum menjalani awal yang menjanjikan dalam karir manajerialnya bersama klub papan bawah Inggris, yang membuat Tottenham mendatangkannya kembali sebagai manajer mereka.

Ia adalah seseorang yang, sebagaimana disebut para pencari bakat FA “menasionalisasi”, dan eksotis: lini tengah berlian yang baru milik Swindon berhasil mengacak-acak divisi kedua Inggris ketika itu. Dan setelah musim pertama yang naik turun di White Hart Lane (posisi lima pada bulan Oktober, dan kemudian hanya meraih dua kemenangan dari 23 pertandingan yang membuat mereka terjerumus ke zona degradasi), ia menciptakan sebuah inovasi taktik dengan membentuk ‘Lima Sekawan’ di lini serang dengan Teddy Sheringham, Nick Barmby, dan Darren Anderton bersama dengan dua bintang baru: Jurgen Klinsmann dan Ilie Dumitrescu.

Ossie Ardiles dan Teddy Sheringham

Ossie Ardiles dan Teddy Sheringham

Inovasi ini tidak berjalan dengan baik. Permainan mereka jelas tidak membosankan – hasil-hasil yang mereka dapatkan misalnya menang 4-3 melawan Sheffield Wednesday dan agregat 8-6 saat melawan Watford di kompetisi lain, tapi juga kekalahan 4-1 di kandang sendiri dari Forest, kalah 5-2 di Manchester City dan, pukulan terakhir, kekalahan memalukan 3-0 di kandang Notts County. Alan Sugar, bos Tottenham, tidak punya pilihan lain selain mengatakan pada sang legenda klub, “Anda dipecat”.

Pages