10 Momen Paling Mengejutkan dan Mengecewakan di Premier League Musim 2016/17

Seb Stafford-Bloor mengumpulkan daftar dari momen-momen paling mengecewakan dan mengejutkan di musim ini...

Pemecatan Claudio Ranieri

Bukannya ingin membuka kembali luka lama, atau melabeli pemecatan Ranieri sebagai sebuah hiperbola absurd ala ‘akhir dari sepakbola’, tapi penampilan Leicester di awal-awal musim menunjukkan bahwa tidak ada lagi tempat untuk sentimen dalam olahraga ini. Tidak peduli seberapa besar kesuksesan yang sudah diraih dan seberapa banyak pujian yang datang setelahnya, rapuhnya ego sepakbola modern berarti segalanya hanya memiliki nyawa setengah saja. Bagi beberapa pihak, titik akhirnya adalah ketika kontrak baru dibicarakan, rekan satu tim dijual, dan tanggung jawab tidak resmi untuk hirarki klub mulai terbentuk.

Kita semua tahu, tentu saja, kepergian Ranieri adalah hasil dari beberapa masalah yang berbeda dan ini, dilihat dari sisi tertentu, adalah keputusan yang benar. Meski begitu, kecepatan lenyapnya niat baik yang mengelilingi Leicester sebelumnya adalah sebuah pengingat yang buruk bahwa ini semua hanyalah bisnis belaka dan sepakbola tidak akan pernah kehilangan sisi tanpa perasaan yang keras miliknya.

Penampilan Pep Guardiola di Manchester City

Lupakan klasemen, penampilan City di Liga Champions, dan kegagalan meraih trofi apapun musim ini; bukankah Guardiola seharusnya bisa jauh lebih menarik dari ini?

Ucapan-nya di konferensi pers yang datar-datar saja memang sudah diprediksi, tapi bukankah ia seharusnya bisa membawakan sepakbola yang lebih kaya, dengan kemampuan menjelajahi sisi kosong lapangan, dan pergerakan tanpa bola yang luar biasa? Guardiola mungkin memang sebuah wajah kesuksesan, namun sebagai seorang pelatih sepakbola yang jadi panutan, kedatangan dirinya di Inggris seharusnya bisa memberikan pendidikan sepakbola yang lebih banyak lagi.

Apakah Manchester City berkembang musim ini? Mungkin, tapi ini bukan poin sesungguhnya. Sebagaimanapun berbakatnya mereka, tim ini tetap menjadi salah satu tim Inggris yang kuat namun penuh celah yang di masa silam dengan mudah dijadikan bulan-bulanan oleh Guardiola. Pahlawan mereka ini sebenarnya adalah seseorang penuh ideologis di sepakbola Eropa, seorang sosok yang memiliki rasa lapar tanpa batas ke segala variasi dan detil taktik di lapangan. Sayangnya, hingga sekarang, timnya hanyalah sebuah kumpulan ide yang saling bertolak belakang, diganggu dengan berbagai keputusan penjaga gawang yang meragukan, dan setengah dekade yang dipenuhi pembelian pemain belakang yang berantakan.

Guardiola memang mewarisi beberapa masalah penting di timnya sekarang, namun ketidakmampuan dirinya untuk menanamkan prinsipnya ke para pemain baru sangatlah mengecewakan.

Kenaikan Bayaran untuk Para Agen

Di awal April, BBC melaporkan pembayaran yang dilakukan oleh klub-klub Inggris untuk para agen naik 38% dibandingkan tahun lalu. Antara Februari 2016 sampai Januari 2017, total pengeluaran adalah £220 Juta, di mana £174 Juta-nya adalah milik klub-klub Premier League.

Angka ini tidak tertuju langsung ke salah satu klub tertentu saja, karena ini adalah sebuah praktek ekonomi yang salah: praktek agen di sepakbola memang selalu mengincar tim-tim yang paling banyak uang dan paling ambisius. Tapi tetap saja, ini menjadi pengingat yang tidak diinginkan lagi mengenai berapa banyak uang yang dibiarkan keluar dari permainan ini.

Saat ini ada sekitar 2,000 agen resmi di Inggris, membengkak dari hanya 500 saja setelah proses kualifikasi disederhanakan, dan kenyataan ini membuat anekdot tanpa henti terus muncul dan mengalir. Kehormatan dan kejujuran memang belum sepenuhnya menghilang dari profesi ini, namun kualitas semacam ini terus dikuras dari kemunculan orang-orang pencari peluang: mereka yang hadir hanya untuk memanfaatkan kesempatan saat transfer terjadi dan mendapatkan persentase yang cukup besar. Lintah berbentuk pihak ketiga. Mereka adalah hasil dari regulasi yang minim –dan kurangnya hukuman yang menanti mereka. Ini semua sangatlah sulit untuk diterima.

Lalu mengapa ini semua begitu mengecewakan? Karena, saat uang sebesar ini pergi meninggalkan olahraga ini, kelompok setia dan selalu bisa diandalkan yang mana yang akan diminta untuk mengisinya kembali? Seperti biasa, para fans dan suporter. Ambil tagihan Anda saat berjalan menuju ke stadion dan tinggalkan saja dompet Anda di sana. 

Cedera Parah Muhamed Besic

Masa-masa Ronald Koeman di Southampton selalu dikaitkan dengan organisasi kuat dan pertahanan yang begitu kokoh. Secara khusus, ia punya pengaruh yang sangat bagus bagi sederetan gelandang bertahan, termasuk Morgan Schneiderlin, Victor Wanyama, dan Oriol Romeu, yang semuanya berkembang dengan begitu pesat di bawah asuhannya.

Meski begitu, Besic lebih berbakat dibandingkan semua pemain yang disebut di atas. Jadi peluang menyaksikan orang Bosnia ini –dengan gabungan langka teknik dan kengototan dalam dirinya- bekerja di pusat tim milik Koeman adalah sesuatu yang sangat dinantikan. Di bawah Roberto Martinez, ia kemungkinan besar adalah korban dari keseimbangan yang kacau dalam tim ini, tapi semua pemain tengah bagus di Goodison Park sudah berkembang semenjak kedatangan Koeman. Ia berhasil memecahkan masalah Ross Barkley, salah satu teka-teki paling besar di sepakbola Inggris, jadi bayangkan apa yang bisa ia lakukan dengan apa yang dimiliki oleh Besic?

Sedihnya, telur sudah pecah bahkan sebelum dimasak: sebelum musim dimulai, Besic mengalami cedera ligamen yang sangat parah ketika bermain di pertandingan testimonial Wayne Rooney dan tidak pernah terlihat lagi semenjak saat itu. Sayangnya, hal semacam ini sudah terjadi beberapa kali dalam karirnya: ketika momen di mana ia tampaknya siap untuk menunjukkan potensi maksimal dirinya, masalah pun datang menggangu dan dunia dipaksa untuk melupakan dia. Suatu hari nanti, ia pasti akan bisa menjadi bintang.