10 Momen Tak Terlupakan dari Liverpool vs Manchester United

Dari gol Fernando Torres yang membuat Nemanja Vidic malu sampai kartu merah super cepat Steven Gerrard, Renalto Setiawan memilih 5 momen yang tak akan terlupakan dari Liverpool vs Manchester United...

Waktunya telah tiba: di Anfield, Sabtu (12/10/17), Liverpool akan kembali melawan Manchester United. Peraih 18 gelar liga akan melawan peraih 20 gelar liga. Tim kedua terbaik akan melawan tim terbaik dalam sejarah panjang liga Inggris. Sebuah rivalitas yang sepertinya tak akan pernah usai akhirnya digemakan kembali.

Manchester United dan Liverpool pertama kali bertemu pada tanggal 24 April 1894, lebih dari satu abad yang lalu. Dan pertemuannya di Anfield Selasa nanti merupakan pertemuan keduanya yang ke-169 di liga Inggris. Lalu, sebelum lanjutan duel panas tersebut berlangsung, ada baiknya kita terlebih dahulu mengenang beberapa momen penting yang pernah terjadi selama dua tim terbaik Inggris tersebut saling adu pukul.

Berikut lima momen penting yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir pertemuan antara Liverpool dan Manchester United.

Kembalinya Sang Raja dari Pengasingan

Pada Maret 1995 lalu, sejumlah media di dunia mulai milirik Premier League dengan antusiasme yang lebih besar. Sementara media-media di Swiss menyajikan porsi tentang Premier League lebih banyak daripada sebelumnya, media-media di Selandia Baru memampang momen terbaru Premier League di halaman depan. Di Inggris, media-media lokal juga tak mau kalah. The Sun bahkan dalam dua hari berturut-turut menaruh momen terbaru itu di halaman depan. Lalu, apa yang sebenarnya sedang teradi di Premier League saat itu? Eric Cantona, Raja Manchester United, baru saja melayangkan tendangan kungfu ke arah Matthew Simmons, salah satu penggemar Crystal Palace.

Sekitar delapan bulan berselang, tepatnya pada bulan Oktober 1995, Eric Cantona yang sebelumnya diasingkan karena tendangan kungfunya tersebut bersiap kembali ke atas lapangan. Orang-orang yang merindukannya, termasuk Nike yang saat itu memasang iklan besar dengan tulisan "He's been punished for his mistakes. Now it's someone else's turn" sangat antusias untuk kembali melihat aksinya. Lalu, apakah media-media di dunia juga menyambutnya, seantusias ketika amarah Cantona memuncak di markas Crystal Palace? Sayangnya, Itu tidak lagi penting. Pasalnya, apa yang akan terjadi di Manchester saat itu bisa jadi jauh lebih penting daripada segalanya: Cantona kembali pada saat United akan menghadapi Liverpool, rival terbesar United dalam sejarah sepakbola Inggris.

Dalam pertandingan tersebut, Cantona ternyata tahu betul bagaimana caranya bereaksi. Sihir-sihirnya di atas lapangan yang masih sangat kentara berhasil membayar lunas kerinduan orang-orang yang merindukannya. Saat itu, setelah delapan bulan diasingkan, ia seperti tak pernah pergi ke mana-mana. Selain berhasil mencatatkan assist ajaib untuk gol Nicky Butt, ia juga berhasil mencetak satu gol melalui tendangan penalti (hingga saat itu, Cantona tak pernah gagal dalam mengeksekusi penalti untuk United).

Pada akhirnya United memang harus puas berbagi angka, 2-2, dengan Liverpool. Namun, saat para penggemar United bisa menggemankan chant "Ooh! Aah! Cantona!" dengan lantang pada hari itu, mereka seperti sedang menikmati sebuah kemenangan. Ya, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melihat Sang Raja menari-menari di tiang penyangga jaring gawang di depan Stretford End!

Pages