Analisa

10 Momen Terbaik Chelsea vs Liverpool: Gestur Jari Jose, Terplesetnya Stevie G, dan Lainnya

Matt Allen memilih momen-momen terbaik dari pertemuan kedua tim yang memiliki rivalitas sengit...

We are part of The Trust Project What is it?

Liverpool 7-4 Chelsea, Sep 1946

Ini adalah laga saat Liverpool sudah unggul 6-0 dalam waktu kurang dari satu jam, dan mereka adalah tim yang diisi banyak bakat luar biasa: Bob Paisley dan Billy Liddell melakukan debut mereka di laga ini.

Di sisi lain, laga itu menunjukkan tekad utama Liverpool saat itu: mereka menjuarai Divisi Satu, meskipun harus dipermalukan  oleh tim Divisi Dua, Burnley, di semifinal Piala FA.

Kesuksesan mereka meraih gelar banyak ditentukan oleh masa pra musim ke Amerika Serikat, yang bertujuan untuk menggemukkan angota skuat Liverpool. Ketua klub, Bill McConnell, mengklaim bahwa jika para pemain bisa pergi ke Amerika Serikat, menyantap steak, minuman soda, dan es krim, mereka akan memenangi gelar. Dia ada benarnya.

Liverpool 2-0 Chelsea, Mar 1965

Sebuah pertandingan di mana Bill Shankly menunjukkan kepiawaiannya dalam mengangkat mentalitas timnya. Pada saat itu, Chelsea, yang dipimpin oleh manajer Tommy Docherty, diperkirakan akan memenangi treble  dengan deretan pemain bintang seperti Ron Harris dan Peter Bonetti. 

Liverpool diperkirakan akan kalah telak dalam semifinal Piala FA ini di Villa Park.
Tapi Shanks punya tips jitu. Setelah menemukan selebaran khusus untuk pertandingan tersebut yang diisi dengan narasi yang terlalu memfavoritkan Chelsea, Shankly kemudian menempelkannya ke dinding ruang ganti timnya dan mengatakan kepada para pemainnya, "Hancurkan tim selatan yang sombong ini!" Mereka berhasil, menang 2-0 dan kemduain memenangi laga final. Bagaimana dengan Chelsea? Impian mereka mereka meraih treble hancur berantakan dan hanya meraih Piala Liga. Itu memberikan mereka pelajaran berharga.

Peter Bonetti tips one wide

Chelsea 0-1 Liverpool, Mei 1986

Beberapa bulan sebelum mengamankan gelar Divisi Satu mereka di Stamford Bridge, ada banyak banyak hambatan bagi Liverpool. Tim arahan Kenny Dalglish, yang saat itu menjabat sebagai manajer-pemain,  berada di posisi kedua dan 13 poin di bawah rival utama mereka, Everton. Mereka juga tahu bahwa statistik mereka  cukup buruk menghadapi Chelsea yang akan menjadi lawan di laga terakhir mereka. Pada awal musim masalah di ruang ganti lebih sering dibicarakan ketimbang bagaimana  memenangi pertandingan terakhir mereka di London barat.

Tapi mereka berhasil dan Kenny Dalglish menjadi bintang dengan mencetak gol penentu di menit ke-23 dan membantu merebut gelar dari West Ham dan Everton. Liverpool kemudian membawa timnya meraih dua gelar bersejarah.

"Saat Everton mengalahkan kami di Anfield, kami tertinggal 13 poin di belakang mereka," kata Alan Hansen, kapten Liverpool. "Kami tampil dengan permainan yang luar biasa ini dan memenangi 12 dari 13 pertandingan terakhir. Kami pergi ke markas Chelsea dan kepercayaan diri kami tinggi. Itu ciri khas Dalglish, mengontrol bola dengan dadanya dan hal berikutnya adalah gol. Untuk menjuarai kompetisi di musim pertamanya sebagai manajer pemain, terutama setelah tertinggal banyak poin, itu sangat hebat."

Chelsea 4-2 Liverpool, Jan 1997

Pada sebuah era ketika mereka diperkuat oleh deretan pemain flamboyan seperti Jamie Redknapp, John Barnes, Robbie Fowler and, dan Steve McManaman, Liverpool unggul 2-0 terlebih dahulu di babak ketiga Piala FA. Ketika peluit panjang ditiup, mereka terguncang saat Chelsea yang diperkuat Mark Hughes, Gianfranca Zola, dan  Gianluca Vialli berhasil membalikkan keadaan.

Laga ini juga menjadi sebuah titik balik. Liverpool gagal dalam perebutan gelar juara, dan hanya finis di posisi keempat. Sementara, Chelsea berhasil memenangi Piala FA, trofi pertama mereka saat itu dalam kurun waktu 26 tahun. Itu tampak lucu sekarang mengingat kini mereka dengan mudah bisa memenangi banyak gelar.

Liverpool 2-3 Chelsea, Feb 2005

Meski dianggap remeh oleh sebagian besar manajer pada umumnya, Piala Liga sepertinya dijadikan Jose Mourinho sebagai pemicu untuk timnya meraih gelar berikutnya.

Chelsea diperkuat dengan banyak pemain hebat dan dengan karakter yang kuat saat itu, setelah di musim-musim sebelumnya sepertinya tidak memiliki sesuatu yang dibutuhkan untuk menjuarai liga. Kemenangan mereka di final Piala Liga ini akhirnya memberikan mereka sesuatu yang dibutuhkan tersebut.

Tentu saja, mereka dibantu dengan nasib baik. Steven Gerrard, pemain yang dikejardambakan Chelsea pada Euro 2004, mencetak gol bunuh diri untuk membalas gol pembuka John Arne Riise saat laga baru berjalan 45 detik. 

Chelsea akhirnya meraih kemenangan, tapi hanya setelah mereka menciptakan beberapa gol lainnya di babak tambahan. Mourinho menambah sensasi kemenangan timnya dengan meluncurkan gestur telunjuk di mulutnya ke pendukung Liverpool.