10 Momen Terburuk di Premier League Musim 2016/17

Premier League yang juga disebut liga domestik terglamor di dunia tak hanya menghadirkan cerita atau momen-momen terbaik, yang melekat di kalangan pecintanya, tapi juga momen-momen terburuk yang tidak boleh Anda lewatkan begitu saja...

1. Pemecatan Claudio Ranieri

Tak ada yang lebih menyedihkan ketika Anda melihat Claudio Ranieri dipecat oleh Leicester City, setelah mengantarkan The Foxes menjuarai Premier League 2015/16. Leicester tak pernah diunggulkan sebagai kandidat juara sebelumnya, bahkan bursa judi hanya membahas kemungkinan tim sintas di Premier League atau bertarung di papan tengah klasemen.

Akan tetapi di saat tim-tim besar Premier League lainnya bermain inkonsisten, Leicester terus melaju hingga akhir musim dan kokoh di puncak klasemen. Sayang bagi Leicester, kisah cinderella mereka tak terulang musim ini dan tim lebih sering berkutat di papan bawah klasemen, fokus Leicester juga terganggu dengan partisipasi mereka di Liga Champions.

Palu pemecatan pun tak dapat dihindari Ranieri yang dipecat pada Februari 2017 ketika Leicester berada di peringkat 17. Klub menunjuk asisten pelatih Ranieri, Craig Shakespeare, sebagai manajer interim yang sukses menyelamatkan Leicester dari zona degradasi. Pemecatan Ranieri mendapat simpati dunia yang bahkan menuding para pemain sebagai dalang di balik keputusan manajemen klub ketika memecatnya.

2. Pemberontakkan Kecil Payet

From hero to zero, Payet yang pada awalnya dielu-elukan fans telah berubah menjadi musuh nomor satu di West Ham United. Momen itu terjadi ketika gelandang serang asal Prancis ini menolak bermain untuk The Hammers, karena ia ingin pergi dari London. Keputusannya itu dinilai banyak orang tidak profesional, apalagi Payet bermain bagus di Euro 2016 bersama timnas Prancis karena performa bagusnya bersama West Ham di musim 2015/16.

Penilaian buruk memang sudah kadung diberikan fans kepada Payet, tak peduli apapun alasannya. Namun Payet memiliki alasannya sendiri, ia mengaku pergi karena tak tahan dengan permainan defensif Slaven Bilic di West Ham, plus Payet juga ingin berkembang di tim yang bertarung merebutkan trofi, sementara West Ham lebih sering berkutat di papan tengah klasemen. Payet pun pindah ke Olympique Marseille pada bursa transfer musim dingin 2016.

Pages