10 Pemain Besar yang Gagal Saat Menjadi Pelatih

Pemain yang hebat belum tentu juga akan menjadi pelatih yang hebat. Betul, memang ada Zinedine Zidane. Tapi tengoklah sepuluh nama berikut ini...

Diego Maradona

Tak ada yang meragukan kehebatan Diego Maradona sebagai seorang pemain. Bahkan, dirinya kerap didaulat sebagai pemain terbaik yang pernah ada di muka bumi ini. Sebagai pemain dirinya telah memenangi berbagai macam trofi, termasuk satu Piala Dunia bersama Argentina pada tahun 1986. Dalam pencapaian individu pun Maradona sudah memenangkan semuanya, dari mulai pemain terbaik dunia hingga gol terbaik dunia sepanjang sejarah.

Namun, kariernya sebagai pemain berbanding terbalik dengan karier sebagai pelatih. Maradona justru sama sekali tak sukses menjadi juru taktik. Total ada empat tim yang pernah dilatihnya. Pertama, klub Argentina, Mandiyu de Corrientes, yang hanya satu kali menang dari 12 laga ketika dibawah asuhan Maradona. Kedua, ada Racing Club, yang juga asal Argentina. Di klub itu, Maradona hanya mencatatkan dua kemenangan dari 11 kali memimpin, sisanya tiga kali imbang dan enam kali kalah.

Yang paling terkenal, tentu adalah timnas Argentina yang dilatihnya pada Piala Dunia 2010. Mengawali babak grup dengan sempurna dan mengalahkan Meksiko di babak 16 besar, Albiceleste yang kala itu dihuni banyak pemain bintang justru harus tersingkir setelah dibantai Jerman pada babak perempatfinal dengan skor 4-0. Maradona pun harus menanggung malu dan pada akhirnya dia dipecat dari kursi pelatih.

Setelah gagal di Argentina, Maradona mencoba mencari peruntungan dengan melatih klub Uni Emirat Arab, Al Wasl. Sayangnya justru kegagalan kembali menimpa. Dari 22 pertandingan yang dipimpinnya, Al Wasl hanya menang tujuh kali. Tak pelak, akhirnya pencetak gol Tangan Tuhan itu didepak dan hingga kini belum kembali melatih.

Marco Van Basten

Kita tentu tahu bagaimana kehebatan Van Basten sebagai pemain. Van Basten adalah salah satu striker terbaik yang pernah dimiliki Belanda sepanjang masa. Memang, sebagai pemain ia telah memenangkan berbagai macam gelar. Dari Eredivisie, Serie-A, Liga Champions, hingga Piala Eropa bersama Oranje pada tahun 1988.

Belum habis di situ, trofi individunya juga sangat banyak. Dirinya pernah menjadi pemain terbaik Eropa tiga kali, pernah menjadi top-skorer Piala Eropa, dan juga pernah menjadi top-skorer di Serie-A sebanyak dua kali. Sebagai seorang pemain hebat, karier dan kumpulan trofi milik Van Basten memang membuat banyak orang kagum.

Tapi ketika menjadi pelatih, Van Basten justru gagal. Memulai dari menangani timnas Belanda, mantan pemain AC Milan itu hanya mampu membawa Dirk Kuyt dan kawan-kawan hingga ke babak 16 besar Piala Dunia 2006. Dua tahun berikutnya pada Piala Eropa 2008, nasib Belanda hanya sampai babak perempat final. Karier Van Basten sebagai pembesut negaranya sendiri pun harus berakhir.

Setelah itu, Van Basten menerima pinangan salah satu klub yang telah membesarkan kariernya sebagai pemain, Ajax. Sayang, pada musim 2008/09, Ajax hanya menempati peringkat ketiga di Eredivisie. Atas kegagalan itu, ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari kursi pelatih. Tiga tahun mengangur, pada tahun 2012 Van Basten kembali menjadi pelatih untuk menangani klub Belanda lain, Heerenveen. Di sini pula kariernya tidak sukses karena hanya mampu memenangi 27 dari 72 laga yang dilakoninya.

Terakhir pada 2014, Van Basten memutuskan menjadi pelatih AZ Alkmaar. Namun hanya pada lima pertandingan ia memimpin sebelum akhirnya memutuskan turun jabatan menjadi asisten pelatih karena alasan fisik dan mental. Selama menjadi pelatih kepala, ia mencatatkan dua kemenangan plus tiga kekalahan.

Pages