Analisa

10 Pemain Buangan Premier League yang sukses Meraih Trofi Liga Champions

Jerome Boateng

Mereka meninggalkan Premier League dengan catatan yang buruk, namun 10 pemain ini membuktikan diri mampu meraih trofi Liga Champions – dan beberapa di antaranya bahkan bisa menyingkirkan mantan klub mereka dalam perjalanan menuju juara

We are part of The Trust Project What is it?

Ada banyak orang di luar sana yang akan memberi tahu Anda bahwaPremier League adalah yang terbaik di dunia - tetapi para pemain di bawah ini mungkin tidak setuju.

Mereka pernah ditendang oleh klub-klub terbesar di Inggris (dan Charlton). Terkadang itu semua soal waktu. Kadang-kadang, kebijakan klub memainkan peran. Hanya sedikit di antara mereka yang benar-benar buruk. Tapi, mereka berhasil menemukan klub baru dan meraih Champions League...

10. Jorge Costa (Charlton)

Bek yang dijuluki 'The Tank' oleh fans Porto datang ke The Valley pada Desember 2001 setelah bertengkar dengan pelatih Octavio Machado di Portugal. Direkrut sebagi pemain pinjaman bersama Chris Bart-Williams dari Nottingham Forest, kedua pemain tersebut membantu Charlston menghindari degradasi.

Namun, Alan Curbishley tidak mempermanenjkan statusnya dan Costa kembali ke Porto musim panas itu, pada saat itu Machado dipecat dan digantikan oleh Jose Mourinho. Dalam waktu dua tahun, sang bek menjadi pemain andalan Porto untuk meraih Liga Champions. Tidak benar-benar seperti pemain buangan, tapi ini kisah yang cukup aneh.

9. Claudio Pizarro (Chelsea)

Mourinho sepertinya melakukan sebuah keputusan yang agak nyeleneh ketika Pizarro tiba pada musim panas 2007. Pemain Peru telah mengantongi 100 gol dalam 256 pertandingan untuk Bayern Munich dan direkrut Chelsea setelah tuntutan kenaikan gajinya ditolak The Bavarians.

Itu adalah kesalahan besar. Pizarro menghabiskan sebagian besar musim itu di bangku cadangan, menyaksikanMourinho dipecat, dan kemudian Nicolas Anelka datang. Setelah hanya melesakkan dua gol dalam 32 pertandingan di Chelsea, ia kembali ke Jerman pada tahun berikutnya untuk bergabung dengan Werder Bremen. Akhirnya, Pizarro bergabung kembali dengan Bayern dan membantu klub itu memenangi Liga Champions 2013, mencetak gol melawan Juventus di perempat final.

8. Giovanni van Bronckhorst (Arsenal)

Mantan pemain serba bisa tim nasional Belanda Van Bronckhorst didatangkan Arsenal untuk mengisi kekosongan di lini tengah yang ditinggalkan Emmanuel Petit ketika ia tiba pada musim panas 2001, dengan £8 juta dari Rangers. Sayangnya, di tengah musim debutnya, Gio menderita cedera ligamen saat kemenangan 4-1 atas Fulham yang membuatnya absen selama sembilan bulan.

Pemain baru lainnya, Edu, mengambil posisinya dan pria asal Belanda itu tidak pernah bisa kembali menembus tim inti setelahnya. Dia pindah ke Barcelona pada tahun 2003 - pertama dengan status pinjaman, sebelum kesepakatan sebesar €2 juta disetujui. Di Camp Nou dia berhasil digeser menjadi bek kiri, posisi yang dia mainkan ketika Barça memenangi Liga Champions pada 2006 - dengan mengalahkan Arsenal. 

7. Marco Materazzi (Everton)

'The Matrix' mengalami kegagalan serius dalam satu-satunya musim dia berkarier Inggris, mengumpulkan tiga kartu merah dan 11 kartu kuning hanya dalam 33 pertandingan sepanjang 1998/99. Jadi bukan hal yang mengherankan ketika pemain Italia itu segera kembali  ke Perugia, klub asalnya saat dibeli oleh Everton.

Di sana, Materazzi  memecahkan rekor Daniel Passarella sebagai bek pencetak gol terbanyak dalam satu musim Serie A (12 gol). Itu cukup untuk menarik Inter, di mana pendekatan permainan Materazi yang terlalu fisik membuatnya menjadi favorit penggemar. Akhirnya, di bawah Mourinho, ia menjadi juara Liga Champions dalam musim Treble yang luar biasa di Inter pada 2009/10.

6. Gerard Pique (Manchester United)

Ini adalah sebuah keanehan mengingat bagaimana semua orang menyadari betapa bagusnya dia saat ini.Musim 2007/08 seharusnya menjadi salah satu momen bagi Pique yang berusia 20 tahun untuk menyelesaikan transisi kariernya dari seorang lulusan akademi ke tim utama Manchester United. Tapi, posisi pemain asal Spanyol itu langsung terancam ketika kesalahan yang dilakukannya berbuah gol Nicolas Anelka dalam kekalahan 1-0 atas Bolton.

Pique kembali disingkirkan dari tim utama, menagku rindu kampung halamannya di Spanyol, dan menyerahkan permintaan transfer pada musim panas 2008 yang diterima Sir Alex Ferguson. Yang juga harus diingat adalah bahwa dia bersaing dengan Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic ketika itu.

Pique kembali ke Barcelona dan sejak itu mengangkat trofi Liga Champions tiga kali - dua di antaranya datang melalui kemenangan atas United di final.