10 Pemain Musafir yang Selalu Berpindah-Pindah Sebagai Pemain Pinjaman

Pemain-pemain ini begitu sering berpindah klub. Bukan sebagai pemain yang dijual dan dibeli, tetapi sebagai pemain yang dipinjamkan. Siapa saja?

Apa esensi di balik kebijakan klub meminjamkan pemain yang dimilikinya ke klub lain? Tentu jawabannya sederhana: untuk menambah pengalaman jika pemain itu pemain muda, atau untuk mengosongkan sedikit ruang di buku kas pengeluaran gaji pemain jika pemain itu memiliki gaji tinggi tetapi ternyata tak masuk rencana manajer. Jadi, meminjamkan pemain itu sama saja seperti halnya Anda memiliki tempat usaha untuk dikelola, lalu menyerahkan pengelolaan itu kepada kolega atau rekan, untuk kemudian berbagi hasil dengan Anda.

Maka, jangan heran jika klub sekaliber Chelsea ‘hobi’ meminjamkan pemain yang dimilikinya ke tim lain dengan harapan: pemain itu akan jadi bintang masa depan tim, atau bisa jadi ladang penghasilan dengan menjualnya ke klub lain. Skema peminjaman pemain bukan hanya jadi kebijakan Chelsea semata, karena klub lain juga kerap melakukannya.

Di antaranya banyak pemain yang dipinjamkan klubnya ke klub lain, barangkali tujuh pemain di bawah ini merupakan pesepakbola yang sering berganti klub dengan status pinjaman – mereka sedikitnya merasakan sampai lima kali dipinjamkan ke klub lain. Siapa saja mereka?

1. Patrick Bamford

Bamford adalah seorang striker kelahiran 5 September 1993 lahir di desa kecil yang berada di Nottinghamshire dan memulai perjalanannya di akademi Nottingham Forest. Bamford merupakan anak yang cerdas dan berprestasi di SMA Nottingham hingga ia ditawari beasiswa oleh Harvard University.

Tapi pilihan Bamford sudah matang dan tidak dapat diganggu gugat: ia menolak kesempatan untuk menjadi sarjana berprestasi demi karier di sepakbola. Pemain yang pernah berposisi sebagai full-back ini pun terus bekerja keras dan sukses menembus tim utama Nottingham pada musim 2011/12.

Chelsea kepincut dengan performa Bamford dan membelinya seharga £1,5 juta. Bamford terus bermain untuk tim cadangan Chelsea hingga kontraknya diperpanjang menjadi tiga tahun, dan tak lama dari perpanjangan itu, ia dipinjamkan ke klub lain. Di sinilah perjalanan Bamford (yang usianya baru berumur 19 tahun pada 2012) sebagai pemain pinjaman dimulai.

Bamford dipinjamkan ke enam klub hingga musim lalu: Milton Keynes Dons (2012/13), Derby County (2014), Middlesbrough (2014/15), Crystal Palace (2015), Norwich City (2016), dan Burnley (2016/17), sebelum akhirnya dipermanenkan Middlesbrough pada bursa transfer musim dingin 2017. Singkat kata, Bamford tak punya kesempatan sama sekali untuk unjuk gigi bersama Chelsea.

2. Samuele Longo

Internazionale alias Inter Milan selalu diperkuat banyak pemain asing Eropa non-Italia atau Amerika Selatan. Hal ini sudah menjadi DNA tim selama bertahun-tahun. Maka, jangan heran jika keberadaan pemain berpaspor Italia di Inter bisa dihitung dengan menggunakan jari tangan.

Namun, hal tersebut tak mengartikan bahwa Inter tak memiliki akademi yang menempa pemain muda asal Italia. Longo merupakan salah satu jebolan akademi Inter di angkatan Denis Alibec, Mattia Destro, dan Simone Dell’Agnello, dengan penampilan terbaiknya terjadi di bawah kepelatihan Andrea Stramaccioni di tim muda Inter. Longo mencetak lima gol di ajang NextGen 2011/12 dan membawa Inter menjuarai turnamen itu.

Di musim itu juga pemain berusia 25 tahun ini promosi ke tim utama Inter dan diberi nomor punggung 81 dalam skuat arahan Gian Piero Gasperini. Sayang, ia hanya sekadar terdaftar sebagai pemain Inter saja karena jarang bermain dan pada akhirnya dipinjamkan ke enam klub: Espanyol (2012/13), Hellas Verona (2013/14), Rayo Vallecano (2014), Cagliari (2014/15), Frosinone (2015/16), dan Girona FC (2016/17). Longo tercatat sekali tampil di tim utama Inter dan momen yang mungkin paling diingat tentangnya terjadi ketika ia membobol gawang Indonesia di laga eksibisi pada 24 Mei 2012 – itu adalah gol debut Longo untuk Inter.

Pages