Top 10/50/100

10 Pemain Premier League yang Kariernya Memburuk Setelah Pergantian Manajer

Tiemoue Bakayoko

Manajer baru sering kali membawa pemain baru dan pergantian susunan pemain - yang berarti, pasti ada satu pihak yang dirugikan, seperti 10 pemain ini yang mengalami kesulitan akibat pergantian manajer di klub induknya

We are part of The Trust Project What is it?

Gary Cahill

Karier Cahill akhir-akhir ini tampaknya telah dihabiskan untuk membuktikan bahwa pikiran manajer tentangnya adalah salah. Sempat diparkir di era Antonio Conte, ia kemudian bisa masuk kembali ke tim inti Chelsea, dan menjadi kapten mereka, saat Chelsea menjadi juara Piala FA pada bulan Mei. Ia juga tak dipilih oleh Gareth Southgate, tapi tetap mendapatkan tempatnya kembali di skuat Inggris yang menempati posisi keempat di Piala Dunia, meskipun ia berada di peringkat kelima di antara bek tengah yang dimiliki Inggris.

Sekarang Maurizio Sarri telah tiba di Stamford Bridge, ia membawa ideologi untuk memasang lini pertahanan tinggi yang mungkin tidak cocok untuk seorang pemain yang akan berusia 33 tahun pada bulan Desember ini, serta kepercayaan besar Sarri untuk David Luiz. Itu bukan kabar baik bagi Cahill dan juga Andreas Christensen, yang diperkirakan akan menjadi kapten Chelsea masa depan. Namun, ia juga pemain Inggris yang belum pernah bermain di musim ini.

Phil Jagielka  

Phil Jagielka adalah satu nama yang agak berbeda dalam daftar 10 pemain ini, mengingat ia menjadi starter musim ini di tim Everton. Namun ada indikasi bahwa ia tak akan jadi pilihan pertama, bahkan sebelum kartu merahnya di markas Wolves pada pertandingan pembuka musim The Toffees. Jendela transfer berakhir dengan manajer Marco Silva merekrut dua bek tengah - meminjam Kurt Zouma dan membeli Yerry Mina yang sangat mahal - untuk bergabung dengan duo bek muda Michael Keane dan Mason Holgate dalam jangka panjang.

Silva mengatakan timnya harus bermain lebih tinggi di atas lapangan daripada Everton di bawah asuhan Sam Allardyce; sangat tidak ideal untuk Jagielka yang, meski sebenarnya merupakan tipe pemain cepat di sebagian besar kariernya, berusia 36 tahun pada bulan Agustus. Sepertinya dia hanya mengisi posisi Mina bahkan sebelum dia diusir di Molineux dan menjadi  akhir untuk salah satu pemain terbaik Everton di abad ke-21.

Pablo Zabaleta

Ada asumsi mudah bahwa penunjukan Manuel Pellegrini di West Ham akan menguntungkan mantan penggawa Manchester City, Pablo Zabaleta. Pemain asal Argentina ini akan memiliki pemahaman terbaik tentang gaya bermain manajer asal Chili itu. Namun, Zabaleta dapat bersaksi bahwa Pellegrini tidak takut untuk tak memilih pemain favoritnya.

Bek kanan ini menempati posisi ketiga dalam penghargaan Pemain Terbaik West Ham musim lalu. Namun, ketika Pellegrini mengambil alih di Etihad Stadium pada 2013, Zabaleta adalah pemain yang berkuasa di City dan merupakan wakil kapten. Tapi, Yaya Toure akhirnya merebut statusnya dan menjadi wakil Vincent Kompany. Ada semacam kisah lanjutan di tim ibukota musim ini, ketika Zabaleta yang berusia 33 tahun itu kalah bersaing dengan Ryan Fredericks untuk tiga dari empat pertandingan pertama West Ham.

Victor Moses

Korban perubahan sistemik. Moses dimainkan sebagai bek sayap oleh Conte dan kemudian berada di tim yang tidak membutuhkan bek sayap. Dengan Sarri, yang menerapkan formasi 4-3-3 dan Cesar Azpilicueta bisa disebut sebagai bek kanan terbaik di liga saat ini, ia membuat Moses kembali bermain sebagai pemain sayap. 

Namun, dengan Eden Hazard yang dijamin bakal mendapatkan satu tempat di posisi sayap, ditambah Pedro dan Willian yang mengawali era Sarri dengan gol dan penampilan yang bagus, Moses tampaknya harus bersaing dengan Callum Hudson-Odoi menjadi winger keempat tim. Moses mendapat 11 menit bermain saat melawan Manchester City dan sembilan menit di Huddersfield, tapi dia bahkan tidak berada di bangku cadangan saat melawan Newcastle dan Bournemouth. Pemain asal Nigeria  ini juga telah pensiun dari sepakbola internasional, tampaknya menghabiskan lebih banyak waktu mencoba untuk mendapatkan tempat di bangku cadangan Chelsea.

Alexandre Lacazette

Unai Emery, manajer baru Arsenal, mengalami masalah yang sama dengan pendahulunya dan memulai kepelatihannya dengan membuat keputusan yang sama. Arsene Wenger sangat kukuh dengan keputusannya, setelah kedatangan Pierre-Emerick Aubameyang dan Henrikh Mkhitaryan (ditambah kontrak baru Mesut Ozil) di bulan Januari membuat Arsenal memiliki kuartet penyerang top. Alexandre Lacazette jadi tak jelas statusnya ketika keempatnya tersedia untuk dimainkan. 

Musim ini, penyerang asal Prancis ini memulai tiga pertandingan pertama Emery sebagai pemain pengganti, dengan Aubameyang sebagai striker tunggal, sebelum Lacazette bermain di menit-menit terakhir menghadapi Cardiff dan mencetak gol spektakuler. Wenger, juga, akhirnya membuat keputusan yang tidak mudah dengan memainkan Aubameyang di sebelah kiri karena Lacazette begitu kuat.