10 Pemain yang Harus Menghadapi Sindrom Musim Kedua

Mereka tampil gemilan di musim pertamanya, dan seperti ditakdirkan akan menjadi pemain hebat bagi klubnya masing-masing, namun di musim kedua, performa mereka menurun drastis. Siapa saja yang mengalaminya dan apa yang terjadi?

Selintas, istilah ‘sindrom musim kedua’ dan istilah ‘one season wonder’ terlihat memiliki makna yang serupa; sama –sama bersinar dalam satu musim dan melempen di musim selanjutnya. Namun, jika ditelisik lebih jauh lagi, ternyata asal muasal sindrom musim kedua ini awalnya populer bagi klub yang baru promosi ke kompetisi teratas, bermain meyakinkan di musim pertama dan di musim selanjutnya bermain melempem bahkan terdegradasi.

Namun, penggunaan istilah dari sindrom musim kedua ini tak hanya dibatasi oleh performa klub saja. Kini frase tersebut kerap digunakan kepada pemain yang baru pindah klub, pindah liga dan mengalami start apik di musim perdana dan musim keduanya mengalami penurunan.

Karena ini dinamakan dengan istilah sindrom musim kedua, maka tak peduli pemain tersebut akan bangkit lagi / atau bahkan terus merosot tajam di musim ketiga, keempat dan selanjutnya, yang jelas dalam daftar yang kami susun ini adalah mereka yang cemerlang di musim pertama, dan merosot di musim kedua (saja). Lalu siapa saja yang termasuk?

Sergio Aguero (Manchester City)

Nama Aguero, bagi publik Etihad, akan selalu dikenang sebagai pembuat kejaiban di detik-detik akhir kompetisi Premier League Inggris musim 2011/12 lalu. Golnya di penghujung pertandingan menggagalkan ambisi Manchester United-nya Sir Alex untuk menggengam gelar liga sekaligus menjadi buka puasa gelar bagi Manchester City. Penampilan fenomenal tersebut padahal terjadi pada musim pertama Aguero merumput di Manchester pasca kepindahannya dari Atletico Madrid.

Namun musim kedua Aguero tak berjalan meyakinkan, ia seperti terjangkit sindrom musim kedua seperti kebanyakan pemain yang baru pindah menuju klub baru. Padahal di musim sebelumnya, ia mencetak 30 gol di segala ajang dan musim keduanya, ia ‘hanya’ mencetak 17 gol saja. Penampilan City di musim tersebut pun bisa dibilang tak begitu meyakinkan seperti musim sebelumnya.

Miguel ‘Michu’ Cuesta (Swansea City)

Michu adalah nama yang selalu diperbincangkan sepanjang musim 2012/13 lalu. Penyerang asal Spanyol ini sejatinya mampu memberikan kontribusi yang sangat besar bagi Swansea City. Trofi Piala Liga di musim yang sama adalah prasasti dari kesaktian Michu bersama Swansea City. Di laga final, Michu menyumbangkan sebiji golnya dari lima gol yang bersarang di gawang Bradford City. Total, 22 gol ia ciptakan musim itu di segala ajang.

Sialnya, pada musim berikutnya, kesaktian Michu menguap begitu saja seiring cedera yang kerap menimpanya. Jumlah golnya menurun drastis. Ia hanya mampu mencetak enam gol saja. Bahkan, sampai saat ini pun tak ada lagi tanda-tanda kebangkitan ataupun pencerahan dari performa penyerang asal Spanyol ini. Sungguh disayangkan.

Anthony Martial (Manchester United)

Datang ke Old Trafford dengan banderol yang selangit untuk ukuran pemain muda, tahun pertama Anthony Martial berjalan cukup baik. Bahkan debutnya saat Manchester United meladeni Liverpool, ia mencetak gol yang cukup ciamik. Torehan gol-golnya pun bisa dibilang tak sedikit untuk seorang pemain yang kerap bermain sebagai penyerang sayap.

Musim ini adalah musim keduanya di United. Musim memang belum berakhir, namun ia belum mampu mendapatkan kepercayaan penuh dari manajer baru United, Jose Mourinho. Di Premier League Inggris, Martial baru mencetak tiga gol saja dan itu jauh dibandingkan dengan torehan musim lalu yang mampu mengemas 11 gol pada kompetisi yang sama.