Analisa

10 Pemain yang Jadi Bintang Saat Turnamen Piala Dunia

Daniel Amokachi USA 94

Dari pahlawan Haiti, orang Italia yang unik, dan remaja Irlandia yang menjadi lebih baik daripada Pele, Jon Spurling membuat daftar pemain-pemain yang menjadi bintang dalam turnamen Piala Dunia.

We are part of The Trust Project What is it?

Toto Schillaci (Italy, 1990)

Striker mungil yang sudah mulai kehilangan rambutnya saat masih usia dini ini telah bermain di Messina selama bertahun-tahun, sebelum pindah ke Juventus dengan harga mahal pada tahun 1989, di mana ia mencetak 15 gol di musim debutnya. Meski begitu, Toto mengaku sebelum Italia '90, ia adalah "striker pilihan kelima di tim Italia".

Itu semua berubah saat melawan Austria di pertandingan pertama Italia. Kala itu, tuan rumah tampak kesulitan, pelatih Azeglio Vicini yang putus asa memasukkan Schillaci sebagai pemain pengganti, tetapi dalam skuat yang menampilkan para pemain menyerang top seperti Gianluca Vialli, Roberto Mancini, Roberto Baggio, dan Andrea Carnevale, tidak ada banyak ruang baginya. Dengan 15 menit terakhir untuk melawan Austria, entah bagaimana caranya, Vicini hanya menginstruksikan Toto untuk "mencetak gol sundulan".

Schillaci berhasil melakukan hal itu ketika bola melambung tinggi dari umpan silang Vialli berhasil melewati kiper Klaus Lindenberger. Stadio Olimpico bergemuruh, penonton di TV disuguhi perayaan Schillaci yang sangat bergembira. Dia kemudian mencetak gol lagi (bermain dari awal pertandingan) melawan Cekoslovakia saat Italia memuncaki fase grup, dan mencetak gol lagi saat melawan Uruguay (gol yang indah dari luar kotak penalti), Irlandia, dan juga Argentina saat dia memenangi Sepatu Emas dan Italia mencapai babak semifinal.

Toto hanya mencetak satu gol lagi untuk Italia setelah Piala Dunia dan kariernya menurun drastis. Tetapi, pemain asal Sicily ini memastikan dia akan dikenang selamanya. 

Emmanuel Sanon (Haiti, 1974)

'Manno' mungkin telah menjadi pahlawan nasional di negara asalnya, Haiti, setelah memenangi gelar dengan Don Bosco. Namun, aksinya di Piala Dunia 1974 lah yang menghrumkan namanya di luar tanah airnya. Dalam pertandingan fase grup antara Haiti dan Italia - tim yang belum kebobolan gol dalam 19 pertandingan - Sanon melesat dengan cepat melewati pertahanan statis Azzurri, mengitari Dino Zoff, dan memberi negaranya kejutan.

Italia berhasil bangkit untuk menang 3-1, dan Haiti tersingkir di babak penyisihan grup, tetapi gol kedua Sanon dalam Piala Dunia melawan Argentina membuatnya diperhitungkan di Eropa. Ia kemudian mendapatkan tawaran transfer ke Belgia bersama klub divisi teratas, Beerschot. Ia kemudian bermain di North American Soccer League yang sedang berkembang. Secara keseluruhan, Sanon mencetak 47 gol dalam 100 pertandingan untuk negaranya.​

Pele (Brasil, 1958)

Berusia 17 tahun, pemain Santos yang luar biasa berbakat ini bilang dia “tidak bisa tidur karena merasa gembira” setelah dipilih untuk skuat Piala Dunia 1958 Brasil. Namun, cedera lutut sempat mengancam peluangnya di turnamen tersebut. Tetapi, dia berhasil kembali untuk pertandingan penyisihan grup ketiga melawan Rusia dan kemudian mencetak gol kemenangan yang apik saat melawan Wales di perempat final. Tapi, trigol menakjubkan saat melawan tim Prancis di semifinal lah yang melambungkannya ke status superstar.

Pele kemudian mencetak dua gol di final melawan tuan rumah, Swedia, dalam kemenangan 5-2 untuk Brasil, dengan bek Swedia Sigvard Parling kemudian mengakui: “Ketika Pele mencetak gol kelima di final itu, saya harus jujur dan mengatakan saya merasa ingin bertepuk tangan.”

Pada usia 17 tahun dan 249 hari, Pele adalah pemain termuda yang bermain di final Piala Dunia. Begitulah cara seorang jenius mengumumkan kedatangannya di panggung dunia. 

Alan Ball (England, 1966)

Meskipun gelandang bertubuh kecil Blackpool ini telah diberi debut internasional oleh manajer Alf Ramsey setahun sebelumnya, Ball mengakui: “Saya tidak pernah, tidak pernah, berpikir saya akan masuk tim dengan begitu saja. Saya selalu khawatir seseorang akan datang dan mengambil semuanya dari saya.”

Pada usia 21 tahun, Ball adalah anggota termuda di antara 22 pemain pilihan Ramsey. Penampilannya yang bersinar untuk tuan rumah Inggris di turnamen 1966, di mana ia menunjukkan flesibilitasnya dengan kehandalan bermain di posisi gelandang tengah dan sektor sayap, membuatnya menjadi salah satu pemain terbaik di turnamen ini.

“Itu semua tentang tim, tetapi Alan adalah salah satu bintang,” kata rekan setimnya Bobby Charlton kemudian.Status Ball yang sedang naik daun mengantarkan langkahnya untuk dapat bergabung dengan Everton, dan ia tetap menjadi andalan di lini tengah Inggris selama delapan tahun setelahnya.

Norman Whiteside (Northern Ireland, 1982)

'Stormin Norman' hanya memainkan dua pertandingan untuk tim utama untuk Manchester United sebelum Piala Dunia 1982, tetapi puja-puji untuk pemain muda itu begitu luar biasa. Manajer Billy Bingham mendesak pers untuk meninggalkan 'New George Best sendirian' dalam persiapan untuk turnamen - dan meskipun Whiteside, yang memiliki tubuh besar namun rentan cedera, tidak pernah mencapai level permainan Best, ia mengalahkan Best dalam satu hal: dia bisa bermain di Piala Dunia. 

Gelandang itu memecahkan rekor Pele sebagai pemain Piala Dunia termuda saat dia mencetak gol untuk Irlandia Utara di usia 17 tahun dan 41 hari. Dia dikartu kuning saat debutnya melawan Yugoslavia, tetapi pergerakan tak kenal lelahnya melawan Spanyol dalam kemenangan 1-0 membantu tim besutan Bingham maju ke fase berikutnya, di mana Whiteside menunjukkan fleksibilatasnya dengan bermain di posisi gelandang sisi kiri melawan Austria dalam hasil imbang 2-2 .

Irlandia Utara tersingkir dari turnamen setelah kalah 4-1 dari tim Prancis yang hebat, tetapi Pele mengklaim Whiteside memiliki “dunia di kakinya” di akhir turnamen '82.