Top 10/50/100

10 Pemain yang Terlambat Berkembang: Dari Luca Toni Hingga Di Natale

Mereka bukan wonderkid, mereka adalah kebalikannya: para pemain ini baru berkembang dan mencapai ketenaran dunia menjelang atau bahkan setelah usia kepala tiga...

We are part of The Trust Project What is it?

Label wonderkid kini sangat menjamur di dunia sepak bola. Deretan pemain-pemain muda telah dibeli dengan harga yang teramat mahal. Namun terkadang di usia emas, performa mereka justru menurun dan cepat menghilang.

Sebaliknya, ada para pesepak bola yang semasa muda performa dan kualitasnya tak dianggap bagus. Namun ketika menginjak usia emas dan "tua" mereka justru bersinar dan sukses. Jenis pemain ini cukup langka, namun jumlahnya tak sedikit. Siapa saja?

Luca Toni

Toni adalah seorang juara dunia. Namun sebelum memenangi Piala Dunia 2006, klub yang dibelanya adalah klub semenjana. Bahkan sebelum membawa Palermo promosi ke Serie A pada tahun 2005 ketika usianya 27 tahun, Toni hanya menghabiskan karier di kasta-kasta bawah Liga Italia.

Sebut saja Modena, Fiorenzuola, Lodigiani, Trevisio, dan Vicenza adalah klub-klub yang dibela Toni pada masa muda hingga kemudian cemerlang bersama Palermo, didatangkan Fiorentina, lalu menjadi juara dunia bersama Italia.

Bahkan setelah ia menjadi pemain pertama yang mencetak lebih dari 30 gol dalam semusim di Serie A setelah 50 tahun dan memenangi Sepatu Emas Eropa dengan 31 gol, karier Toni tetap menanjak. Ia mampu membawa Bayern Muenchen menjadi kampiun Bundesliga pada musim 2007/08 sekaligus menjadi top-skorer dengan raihan 24 gol. Setelah itu kariernya malang melintang di banyak klub termasuk Juventus dan AS Roma hingga kemudian memutuskan pensiun bersama Hellas Verona dan menjadi top-skorer Serie A musim 2014/15 lalu (saat itu usianya sudah 38 tahun!).

Antonio Di Natale

Karier masa muda Di Natale tidaklah terlalu bagus. Mengawali karier bersama Empoli, masa muda pemain dengan tinggi 170 sentimeter itu lebih banyak dipinjamkan ke klub antah-berantah seperti Iperzola, Varase, dan Viareggio.

Karier Di Natale baru sedikit mencuat pada tahun 2002 kala dirinya mampu membawa Empoli promosi ke Serie A dan menjadi top-skorer klub. Kala itu, di usia 25 tahun, ia juga merasakan penampilan perdana bersama tim nasional Italia dalam laga persahabatan menghadapi Turki.

Namun karier Di Natale kembali menurun sebelum mampu mencuat kembali pada tahun 2004 ketika memutuskan hengkang ke Udinese. Kemudian bersama klub berseragam hitam-putih itu, pemain yang karib disapa Toto itu mampu menjadi top-skorer Serie A dua musim beruntun yakni 2009/10 dan 2010/11 ketika usianya sudah berkepala tiga.

Bersama Italia, ia menjadi masuk dalam skuat di tiga turnamen besar, yakni Piala Eropa 2008 dan 2012 serta Piala Dunia 2010. Namun yang tersukses adalah pada tahun 2012 di mana ia dan Italia menjadi runner-up turnamen.

Pages