Top 10/50/100

12 Pesepakbola Top yang Pensiun karena Cedera

Tragedi yang harus dialami Ryan Mason ketika pada Februari 2018 lalu mengumumkan pensiunnya dari sepakbola mengingatkan kita semua: bagi pesepakbola, cedera bisa saja mengakhiri karier mereka dengan cepat...

We are part of The Trust Project What is it?

Cedera bisa mengubah nasib seseorang. Tidak percaya? Lihat saja 12 nama eks pesepakbola profesional di bawah ini. Tak peduli dengan status mereka sebagai pemain top atau pemain bertalenta yang memiliki masa depan cerah, jika cedera parah sudah menghantui, maka ada potensi besar performa menurun dan mencapai satu kesimpulan: gantung sepatu.

1. Ryan Mason

Satu momen mengubah hidup gelandang kelahiran Enfield, 13 Juni 1991 ini. Semua berawal pada Januari 2017 lalu, dalam sebuah laga yang mempertemukan Hull City dengan Chelsea di Stamford Bridge. Mason saat itu tengah membantu timnya bertahan dari situasi sepak pojok Chelsea. Kala bola datang ke arahnya, ia terlibat duel bola udara dengan bek Chelsea, Gary Cahill.

Kepala keduanya berbenturan dengan keras dalam duel 50-50. Mason pun tidak beruntung karena menjadi korban karenanya. Setelah menerima perawatan selama kurang lebih sembilan menit, Mason langsung digantikan dan dilarikan ke Rumah Sakit St Mary. Di saat timnya menelan kekalahan, Mason harus menjalani operasi.

Delapan hari kemudian, Mason keluar dari rumah sakit. Namun semenjak saat itu, ia kesulitan untuk pulih dari cedera retak tulang pada bagian kepalanya. Cedera tipe ini sangat berbahaya. Kemudian, setelah berusaha maksimal untuk pulih dan mendengarkan saran dari pakar medis, Mason membuat keputusan besar pada Februari 2018: gantung sepatu di usia 26 tahun.

Mason tak ingin mengambil risiko dengan cedera yang pernah dialaminya itu. Cahill pun jadi orang pertama yang mengomentari kabar tersebut dan mendoakan yang terbaik untuk Mason ke depannya. Mason belum memiliki pekerjaan tetap saat ini, namun mantan klubnya, Tottenham Hotspur, membuka kesempatan baginya kembali dan bergabung dengan staf kepelatihan Mauricio Pochettino.

2. Dean Ashton

Lulusan akademi Crewe Alexandra ini memiliki modal yang lebih dari cukup untuk menjadi penyerang masa depan timnas Inggris. Tinggi, kuat menjaga bola, dan memiliki kaki serta kepala yang bagus untuk mengonversi peluang menjadi gol – ia adalah penyelesai akhir yang ulung. Penampilan prima Ashton terjadi kala ia bermain untuk West Ham United pada medio 2006-2009.

Sayang, tekel Shaun Wright-Phillips pada tahun 2006 di sesi latihan timnas Inggris mengawali rentetan cedera kambuhan Ashton. Sejak cedera engkel, Ashton kesulitan bangkit ke performa terbaiknya, hingga ia memutuskan pensiun pada 11 Desember 2009 di usia 26 tahun. Pasca pensiun, Ashton bekerja sebagai komentator untuk pertandingan sepak bola di televisi.

3. Marco van Basten

Legenda bagi kedua tim yang pernah dibelanya: Ajax Amsterdam dan AC Milan. Begitu juga untuk timnas Belanda. Van Basten merupakan satu nama beken dunia sepak bola yang mengakhiri karir profesionalnya di usia 30 tahun.

Cedera engkel sudah menghantui Van Basten sejak ia datang ke Milan pada 1987. Di kala itu, Van Basten belum menyerah bertarung melawan cedera hingga ia bangkit dan menemukan performa terbaiknya.

Van Basten mampu menjaga kebugarannya selama enam tahun kemudian, sebelum cedera engkel kembali menghantuinya pada 1993. Sejak saat itu hingga 1995, pemain kelahiran Utrecht ini lebih banyak duduk di bangku cadangan. Cedera kambuhan menyulitkannya kembali ke performa terbaiknya, hingga Van Basten memutuskan pensiun dini.

Karir Van Basten tidak panjang, namun, selama aktif bermain, peraih tiga Ballon d'Or ini banyak meninggalkan kenangan indah dengan kesuksesannya bersama Ajax, Milan, dan terutamanya, Euro 1988 bersama Belanda.

Pasca gantung sepatu, Van Basten beralih profesi menjadi pelatih dengan catatan melatih di Jong Ajax, Timnas Belanda, Ajax Amsterdam, Heerenveen, AZ Alkmaar, dan dalam kurun waktu 2014-2016, menjadi asisten pelatih di AZ dan timnas Belanda.

Pages