Top 10/50/100

10 Tim Terburuk Dalam Sejarah Piala Dunia

England 2010 World Cup

Dari skuat Jerman Barat yang kacau, generasi emas Inggris yang gagal, dan tim yang kebobolan 10 gol dalam satu pertandingan – Jon Spurling memilih tim terburuk yang pernah tampil di Piala Dunia

We are part of The Trust Project What is it?

10. Brasil (1974)

Juara bertahan Piala Dunia ini tidak tersisih lebih awal di Jerman. Bahkan mereka mencapai babak grup kedua. Ini lebih ke soal bahwa Brasil meninggalkan sepakbola indah yang mereka mainkan empat tahun sebelumnya di Meksiko dan mengadopsi pendekatan pragmatis yang jauh lebih keras dalam permainan mereka. Pelatih Mario Zagallo memperingatkan bintang-bintang yang baru muncul seperti Jairzinho dan Rivellino bahwa mereka harus menghadapi keunggulan fisik yang dimiliki tim-tim Eropa dan itu terbukti. 

Brasil – tanpa Pele, Carlos Alberto, dan Tostao – meraih hasil seri dalam dua pertandingan pembuka mereka melawan Skotlandia dan Yugoslavia, 0-0, sebelum lolos ke babak selanjutnya dengan unggul selisih gol setelah menang 3-0 atas Zaire. Pertemuan mereka dengan Belanda bisa dibilang merupakan pertandingan pemanasan untuk final, dan Belanda yang diperkuat Johan Cruyff dan Neeskens yang dalam performa terbaik mereka, dengan mudah menundukkan Brasil yang bermain buruk dalam balutan seragam warna biru yang tidak seperti ciri khas mereka.

Aksi kasar bek Luis Pereira yang dikartu merah setelah menghajar Neeskens adalah pengkhianatan terhadap segala yang Pele dan rekan satu timnya lakukan empat tahun sebelumnya. 

9. Jerman Barat (1982)

Tentu saja tim yang berhasil menembus babak final bukanlah tim terburuk di Piala Dunia 1982 Spanyol, tetapi dalam hal sinisme dan kurangnya sportivitas, mereka dipastikan adalah skuat paling brutal yang pernah bermain di putaran final Piala Dunia.

Pertama, ada pertandingan El Anschluss yang sangat terkenal melawan Austria. Menyusul gol Horst Hrubesch pada awal pertandingan, kedua negara puas untuk mengakhiri laga dengan skor 1-0 yang membuat kedua tim bisa lolos ke babak penyisihan babak grup kedua dengan mengorbankan Aljazair.

“Kami telah lolos, itu saja yang penting,” kata Lothar Matthaus, dengan pragmatis, yang bersama rekan satu timnya melempari para suporter yang protes denga balon air  dari jendela kamar hotel mereka. Lalu Toni ‘Harald’ Schumacher melakukan pelanggaran keras kepada pemain depan Prancis, Patrick Battiston di semifinal yang membuat pemain Prancis itu tidak sadarkan diri di lapangan. Untungnya Jerman Barat kalah 3-1 di final melawan Italia, tetapi permainan kotor mereka akan selalu diingat.

8. Inggris (2010)

Setidaknya anak asuh Fabio Capello lolos ke fase gugur Piala Dunia. Tidak seperti skuat Inggris di era Roy Hodgson pada Piala Dunia 2014. Tapi memiliki 'Generasi Emas' yang diperkuat para pemain seperti Wayne Rooney, Steven Gerrard, Frank Lampard, Ashley Cole dkk , membuat optimisme tumbuh sebelum turnamen digelar.

Namun optimisme itu mulai menguap setelah blunder fatal kiper Robert Green melawan AS dalam pertandingan yang berakhir imbang 1-1 dan langsung hilang seketika setelah Rooney mengecam sikap pendukung Inggris ketika ia diusir wasit dalam pertandingan yang berakhir dengan hasil imbang 0-0 melawan Aljazair. Gol Jermain Defoe melawan Slovenia membuat tim Capello lolos ke babak 16 besar melawan Jerman yang sudah bangkit.

Perasaan bahwa bencana akan datang untuk Inggris pun muncul: Inggris secara komprehensif dihancurkan oleh permainan berkelas Jerman. Pendukung Inggris mungkin bisa mengeluhkan tendangan Frank Lampard yang sudah jauh melewati garis gawang dan seharusnya bisa menyamakan skor menjadi 2-2, tetapi faktanya adalah kemenangan 4-1 untuk pasukan Jerman mencerminkan dominasi mereka di laga ini. 

7. Uruguay (1986)

Disebut oleh banyak pihak sebagai 'Grup Neraka', pelatih Omar Borras – yang dulunya bekerja sebagai guru olahraga - sebenarnya sudah banyak dikritik oleh publik Uruguay jauh hari sebelum turnamen. Salah satunya karena soal pemahaman taktiknya yang kurang, tetapi hubungannya dengan rezim diktator yang kekuasaannya berakhir sebelum turnamen tahun 1986 terlalu sulit untuk bisa diterima.

Dalam babak grup yang diisi Jerman Barat, Denmark, dan Skotlandia, La Celeste semakin dikritik. Setelah berhasil memaksakan hasil imbang 1-1 melawan Jerman, mereka akhirnya kalah 6-1 atas Denmark  – tetapi itu sebelum Miguel Bossio diusir keluar lapangan karena pelanggaran keras kepada Frank Arnesen.

Uruguay didenda oleh FIFA dan diancam didiskualifikasi dari turnamen jika permainan kasar mereka berlanjut. Tim asuhan Borras tidak mengindahkan peringatan tersebut dan dalam hasil imbang 0-0 dengan Skotlandia (yang membuat Uruguay secara mengejutkan lolos ke babak penyisihan), Jose Batista menekel Gordon Strachan dari belakang saat laga baru berjalan 39 detik sehingga mendapatkan kartu merah. Itu adalah kartu merah tercepat yang pernah dikeluarkan dalam pertandingan Piala Dunia.

Akhirnya, Argentina yang menyisihkan rival mereka ini di babak 16 besar dan membuat semua orang bahagia.

6. Prancis (2010)

Ini bukan hanya soal skuat Prancis yang bertabur bintang yang gagal tampil kompak dan harus meninggalkan Afrika Selatan lebih awal setelah hanya mengumpulkan satu poin di Grup A – tapi juga soal perilaku para bintang mereka yang memalukan sepanjang turnamen. Mungkin itu adalah kesalahan pelatih Raymond Domenech yang gagal mengelola para pemain yang sudah berpengalaman seperti Thierry Henry dan William Gallas secara efektif.

Pada saat turun minum dalam kekalahan atas Meksiko, striker Nicolas Anelka tampak berbicara kepada Domenech dan diduga mengatakan: “Pergi dari sini, dasar anak pelacur”. Perselisihan yang muncul setelah pengusiran Anelka dari skuat antara pemain dan  pelatih menyebabkan beberapa bintang mengancam untuk memboikot pertandingan terakhir mereka.

Meskipun akhirnya tidak terjadi, Prancis harus menelan pil pahit saat tuan rumah Afrika Selatan mengalahkan mereka dan membuat tim yang dijagokan banyak orang sebelum turnamen ini hanya duduk di urutan buncit grup mereka. Reputasi beberapa pemain dan Domenech menjadi hancur.