10 Tragedi Terburuk yang Pernah Terjadi di Sepakbola

Tragedi tak pernah jauh dari sepakbola, olahraga terpopuler sepanjang masa yang menarik minat puluhan ribu orang untuk datang ke stadion. Ada yang terjadi di dalam stadion, tak sedikit juga yang terjadi di luar stadion. Inilah 10 yang paling terkenal dan paling mematikan...

Tragedi Puerta 12 (1968)

Boca Juniors vs River Plate. Superclasico. Satu-satunya pertandingan yang bisa membelah Argentina menjadi dua. Gavin Hamilton, salah satu penulis sepakbola asal Inggris, pernah mengatakan bahwa pertandingan ini merupakan salah satu pertandingan yang wajib ditonton sebelum mati. Dan salah satu alasannya, selama 90 menit pertandingan berjalan, selalu ada kebencian yang senantiasa memayungi pertandingan antara dua tim terbaik asal Argentina ini. Ya, jika dalam buku 1984 karya Gerorge Orwell ada "dua menit benci", dalam superclasico ada "90 menit benci".

Meski begitu, ada sesuatu yang berbeda ketika superclasico berlangsung pada tahun 1968 lalu. Penggemar kedua tim secara kompak menyanyikan sebuah lagu yang menyayat hati:"Tidak ada pintu, tidak ada batas, itu hanya polisi yang meronta-ronta dengan pisau." Penyebabnya satu: Dalam pertandingan superclasico sebelumnya, di Stadion Monumental, markas River Plate, 71 penggemar Boca tewas dan ratusan lainnya luka-luka, karena ditutupnya pintu keluar nomor 12. Salah satu tragedi terbesar dalam sejarah panjang sepakbola Argentina ini kemudian terkenal dengan sebutan Tragedi Puerta 12.

Hingga saat ini, belum ada keadilan menyoal siapa yang patut disalahkan dalam tragedi Puerta 12. Ada teori yang mengatakan bahwa tragedi ini adalah bagian dari pertempuran antara pihak kepolisian melawan ultras Boca Juniors, yang menyanyikan lagu untuk Juan Peron, mantan presiden Argentina, sepanjang jalannya pertandingan. Peron adalah orang yang dekat dengan kaum buruh dan kaum tertindas, yang sebagian besar merupakan penggemar Boca Juniors. Saat itu pemerintahan Argentina yang diktaktor memang melarang hal-hal yang berkaitan dengan Peron. Peron sendiri sedang berada di dalam pengasingan pada waktu itu.

Tragedi Superga (1949)

"Untuk Valentino, sahabatku. Dengan penuh kerelaan, saya ingin tim hebat Anda, Torino, menghadiri partai terakhir saya sebelum gantung sepatu. Saat ini kalian merupakan tim terkuat di Eropa. Saya yakin, dengan kehadiran kalian masyarakat pasti akan berduyun-duyun datang memenuhi stadion pada partai testimoni saya... "

Setelah membaca surat dari Francisco Jose Ferreira, kapten Benfica dan Portugal, itu, Valentino Mazzola, yang saat itu merupakan bintang Torino, segara melaporkannya kepada Ferrucio Novo, presiden Torino. Novo menyetujui undangan Ferrerira. Kemudian, tiga hari setelah Torino berhasil memastikan scudetto keempatnya secara berturut-turut pasca Perang Dunia Kedua, tepatnya pada tanggal 3 Mei 1949, mereka berangkat ke Portugal.

Benar saja, dalam pertandingan testimoni tersebut, markas Benfica penuh. Selain ingin melepas kepergian kapten terbaiknya, para penonton juga berbondong-bondong datang ke stadion untuk menyaksikan aksi Torino. Meski Torino kalah 4-3, para penonton benar-benar terhibur oleh kelincahan kaki Valentino Mazolla, Julius Schubert, hingga Franco Ossola. Namun tidak ada yang mengira, jika para penonton di pertandingan itu merupakan saksi mata terakhir kehebatan tim yang berjuluk Il Grande Torino itu di atas lapangan. Sehari setelahnya, pada tanggal 4 Mei 1949, Avio Linee Italiane, pesawat yang membawa skuat Torino pulang dari Portugal, menghantam bukit Superga di Turin. Semua penumpang pesawat tersebut tewas. Ada 31 korban jiwa: 4 kru pesawat, 3 wartawan, 5 staf pelatih Torino, dan 19 orang pemain Torino.

Kecelakaan pesawat tersebut terjadi karena cuaca buruk yang terjadi di kota Turin saat itu. Selain hujan deras, badai juga menghajar langit kota Turin. Pierluigi Meroni, pilot pesawat, sempat mengabarkan kondisi buruk itu kepada bandara Turin. Dan dia tidak dapat berbuat banyak, karena malaikat mau memang sudah mengincar pesawatnya dan seluruh penumpangnya.

Selepas kejadian tersebut, publik sepakbola Italia berduka. Torino hanya bisa pasrah saat pasukan terbaiknya dibabat habis oleh maut - satu-satunya pemain Torino yang selamat adalah Sauro Toma yang tidak ikut terbang ke Portugal karena cedera. Timnas Italia juga hanya bisa merenung saat ditinggal sebagian besar pemain terbaiknya - sekitar tujuh dari pemain Torino pada saat itu merupakan andalan timnas Italia. Meski begitu, publik sepakbola Italia juga percaya bahwa kehebatan Il Grande Torino akan abadi di alam yang berbeda.

Tragedi Jatuhnya Pesawat Timnas Zambia (1993)

"Ada semangat istimewa dalam diri kami. Itu sudah tertulis di langit," kata Herve Renard, pelatih yang membawa Zambia menjadi juara Piala Afrika pada tahun 2012 lalu.

Dalam pertandingan final Piala Afrika 2012, Zambia bertandingan melawan Pantai Gading, salah satu tim terbaik Afrika pada saat itu. Karena nama-nama besar pemain-pemain Pantai Gading, pertandingan itu seperti sebuah pertandingan antara semut melawan gajah. Orang-orang berakal sehat tidak akan menjagokan Zambia pada pertandingan tersebut. Meski begitu, Zambia justru mampu tampil luar biasa dalam kondisi seperti itu. Kaki-kaki pemain mereka dua hingga tiga kali lebih lincah daripada biasanya. Tenaga mereka nyaris tak pernah habis. Mereka juga tampak lebih kompak daripada persatuan apa pun yang ada di dunia waktu itu. Dan pada akhirnya, keajaiban muncul: Zambia berhasil mengalahkan Pantai Gading melalui drama adu penalti.

Ada satu alasan kuat mengapa Zambia tampil menggila seperti itu. Saat itu mereka tampil Libreville, Gabon, hanya beberapa kilometer dari tempat jatuhnya pesawat yang ditumpangi oleh generasi emas Zambia pada April tahun 1993 lalu. Pemain-pemain Zambia percaya bahwa roh-roh pemain generasi emas Zambia akan membantu mereka saat melawan Pantai Gading di pertandingan final.

Dalam tragedi paling mengenaskan di Afrika tersebut, ada 30 orang meninggal, yang sebagian besar merupakan pemain-pemain terbaik yang pernah dimiliki Zambia di sepanjang sejarah sepakbola mereka. Kecelakaan yang menimpa tim yang pernah mengalahkan Italia 4-0 di Olimiade 1988 tersebut terjadi karena kerusakan mesin pesawat. Pesawat berjenis DHC-5 Buffalo itu kemudian jatuh di Samudera Atlantik tak jauh dari Braville, Gabon. Dan peluang besar Zambia untuk lolos ke putaran Piala Dunia 1994 ikut terkubur bersama jenazah generasi emasnya.

Saat ini, hanya Kalusha Bwala yang tersisa dari generasi emas Zambia. Saat tragedi tersebut terjadi, Bwala tidak ikut di dalam rombongan. Dia terbang ke Senegal, tempat tujuan timnas Zambia pada saat itu, dengan menggunakan jet sewaan.